
Nisa yang masih nangis tersedu-sedu belum menjawab pertanyaan Salma sedikitpun.
"Mbak bawakan minum dulu ya Nis, kamu tenangin diri dulu" ucap Salma sembari berdiri dan melepaskan pelukan kepada Adiknya itu
Nisa hanya mengangguk mengiyakan, sementara air matanya masih saja keluar. Lama-kelamaan Nisa berhenti juga, sebelum kakaknya itu datang membawa minuman. Nisa bertanya pada dirinya sendiri, kok bisa dia sampai menangis seperti itu setelah mendengar ucapan dari Azam itu.
"Nis, nih kamu minum dulu" tiba-tiba Salma datang dengan membawakan segelas air sejuk dari kulkasnya, dan menggendong bayinya yang ternyata kebangun, dan mengagetkan lamunan Nisa.
"iya mbak, makasih yaaa" jawab Nisa sembari menerima gelas yang di sodorkan Salma
"eh iya Mbak, mas Farhan sudah pulang kerja apa belum?" tanya Nisa karena ia takut ada Farhan suami Salma, karena Nisa tidak ingin malu oleh kakak iparnya itu, dan sebenarnya Nisa ingin membuka dulu cadarnya itu.
"belum Nis, mas Farhan pulang agak telat sekarang. Katanya ada meeting dulu" jelas Salma
"memangnya kenapa toh?" lanjut Salmat
"hehehe nggaaak mbak, Nisa malu datang-datang menangis kesini tuh" sahut Nisa sembari tersipu malu
"Nisa pengen lepas cadar juga ya mbak, sebentar" lanjut Nisa sembari melepas ikatan cadarnya.
__ADS_1
Salma hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum pada adiknya itu. Salma sudah tidak aneh dengan kelakuan adiknya itu, yang tiba-tiba datang kerumahnya untuk menenangkan diri, karena Salma tahu adiknya itu pasti takut sekali dengan Aba kalau Nisa nangis dan Aba tahu, pasti di desak untuk jawab kenapa alasannya.
"jadi kamu ini kenapaaa Nis?" ucap Salma
"mbaaak, Nisa bingung sih kenapa Nisa harus sampai nangis begitu. hehehe" jawab Nisa merengek sembari menggoda bayi Salma dengan kedua lengannya menempel dipipi sibayi.
"yaaa memang kamu kenapa tadi?" ucap Salma yang penasaran
"cerita saja Nis, biar kamu lega juga" desak Salma
"begini mbaaak, tadi Nisa bertemu lagi dengan Ka Azam. Nisa tuh kaget banget, kok dia sampai mengejar Nisa ke parkiran, dan gak disangka-sangka ternyata dia ingin mengajak Nisa ta'aruf dan akan mengajak keluarganya datang kerumah kamis sekarang mbaaak" cerita Nisa panjang lebar dengan antusiasnya
"huuus ah kamu ini. ini tuh namanya godaan saat akan menikah Nisa. Kamu yang awalnya yakin akan dibuat tidak yakin, namanya juga syaiton Nis" jawab Salma cepat
"kamu harus bisa menahan perasaan kamu, dan buang perasaan apapun pada Azam itu. Kamu harus mulai mencintai calon suami kamu Nis" tambah Salma
"iyaiya mbaaak. Tapi yaaa bagaimana aku bisa mulai mencintai calon suamiku itu, sedangkan aku tidak pernah tau dia lagi apa sama siapa kemana, kan lucuuu" ketus Nisa sembari menggendong bayi Salma dan menggodanya
"kan Aba sudah cerita tentang Alfath, coba kamu cintai dari cerita-cerita Aba itu. Jangan berselingkuh perasaan Nis!" tegas Salma
__ADS_1
"iya-iya mbaaak, gaaaak akan insyaallah" jawab Nisa cepat
tiba-tiba suara handphone Nisa terdengar.
kriiiiinnnnnggggg....
buru-buru Nisa mengangkat telepon itu yang bertuliskan "Umma" dilayar hapenya, dan langsung memberikan bayi itu pada Salma.
"Assalamu'alaikum Ummaaaa..." jawab Nisa
"walaikumsalam, kamu dimana nak? kok belum pulang?" terdengar suara umma dibalik telepon itu
"dirumah mbak Salma, Umma. Nisa mampir sebentar" sahut Nisa
"Oh ya sudah, Jangan pulang terlalu sore yaa Nis. Itu Umma ingin memberitahu, Umi Sarita akan menghubungi kamu" jelas Umma
" baik umma" jawab Nisa cepat.
Umma memberi tahu supaya Nisa mengangkat telepon jika ada nomor baru yang masuk ke hapenya, karena Umma tahu anaknya itu tidak pernah mau mengangkat telepon dengan nomer hape baru yang tidak ia kenal.
__ADS_1