Bunga Dari Surga

Bunga Dari Surga
eps. 76~


__ADS_3

Alfath dan Nisa sudah mengirimkan oleh-oleh London ke Indonesia, lalu Alfath menghubungi Rio untuk memintanya agar mengambil ke kurir dan menyimpannya kedalam rumah pribadi Alfath dan Nisa.


Sementara di kantor Alfath, Rio yang sudah diberi kabar untuk mengambil barang di jasa pengiriman bergegas untuk mengecek resi pengiriman yang sudah Alfath berikan padanya. Keadaan kantor yang ditinggal Alfath baru 4 hari ini sangat terasa hampa, layaknya tanpa kepala.


Hari berganti, kini tiba saatnya Nisa dan Alfath harus meninggalkan London. Nisa, Alfath dan Umi pergi bertiga ke Kuala Lumpur, seperti rencana awalnya. Mereka menaiki pesawat penerbangan pagi dan akhirnya sampailah di Kuala Lumpur, Malaysia, tempat kelahiran Umi, kampung halaman yang selalu Umi rindukan. Sesampainya di bandara, Umi mengajak Nisa dan Alfath untuk sekedar makan dulu, setelah perjalanan yang cukup melelahkan itu.


Setelah makan, lalu mereka semua menuju rumah orangtua Umi yang kebetulan masih hidup, ya sama seperti orangtua Papa, orangtua Umi pun sudah sangat tua, hanya tinggal seorang ibu separuh baya yang duduk dikursi roda karena sudah tidak bisa berjalan, tapi tubuhnya masih sehat, penglihatannya begitu normal, ingatannya pun masih kuat tidak ada yang ia lupa. Sampailah mereka disebuah rumah sederhana yang asri dikelilingi oleh rumput yang hijau juga pepohonan, rumah bercat putih dengan kaca disekelilingnya itu jadi mampu melihat orang-orang yang akan masuk kerumah.


Terlihat Nenek yang sedang duduk dikursi rodanya hendak menyambut kedatangan mereka, sudah memandangi pintu masuk. Nenek yang tinggal dirumah hanya dengan adiknya Umi yang kebetulan memutuskan untuk tinggal disana, karena juga sudah ditinggal oleh suaminya yaitu Ma'ci Laila karena anaknya juga semua sudah berkeluarga dan tinggal diluar Negri.


"Assalamu'alaikum" ucap Alfath, Nisa dan Umi berbarengan kompak


"walaikumsalam" jawab Nenek dengan suara sangat lemah


"Masya Allah, Sarita, Alfath kalian datang tak memberi tahu dulu" ucap Nenek setelah melihat jelas siapa yang datang dengan logatnya yang khas orang melayu


"Iya, Mak, kami sengaja tidak memberi kabar" jawab Umi setelah mencium tangan Nenek


"Nenek sehat?" tanya Alfath

__ADS_1


"Nenek sangat sehat, Alhamdululillah" jawab Nenek begitu semangat


"Ini istri mu Al? kenapa tidak menghubungi dulu? jadi kami tidak mempersiapkan apapun" ucapnya lagi ketika Nisa menyalami Nenek


"Iya saya Istrinya Mas Alfath" jawab Nisa dengan lembut


"Masya Allah, Alfath sangat beruntung menikahi gadis yang seperti ini. Kamu sempurna bisa menjalankan perintah Allah" ucap Nenek bangga pada Nisa yang menutup auratnya sangat rapat


"Ih tidak Nek, Nisa banyak kurangnya. Nisa yang merasa beruntung dinikahi Mas Alfath" jawab Nisa


Lalu Umi melihat kedapur untuk mencari adiknya itu. Dilihatlah sedang membereskan piring setelah makan, lalu Umi menghampirinya.


"Dek" sapa Umi mengagetkan


"Haaayyy kakak, kapan datang? Kok saya tak tahu?" lanjutnya dengan sangat gembira yang juga dengan logat khas melayu yang begitu kental


"Sengaja untuk memberi kejutan hehe" jawab Umi bercanda


"Saya datang bersama Alfath juga istrinya" tambah umi menjelaskan

__ADS_1


Ma'ci Laila yang begitu penasaran dengan Alfath lalu meninggalkan dapur, ditemani Umi untuk menghampiri Nisa dan Alfath yang sedang duduk di depan Nenek.


"Laila, ambilah minuman untuk mereka" ucap Nenek


"Iya Mak" jawab Laila dengan cepat


Tapi Ma'ci tidak langsung kembali untuk membawakan minuman, tapi menyapa dulu Alfath dan Nisa, sebentar karena penasaran dengan istri Alfath ini.


Tak lama minuman sirup disajikan oleh Ma'ci Laila pada mereka semua.


"Terimakasih ya Ma'ci" ucap Alfath


"Kami sepertinya ingin menginap beberapa hari disini" lanjut Alfath


"Iya tentu harus menginap disini" jawab Ma'ci Laila dengan cepat


"Maafkan Ma'ci yaaa, kala itu tak bisa hadir dipernikahan kalian. Maklumlah Ma'ci repot dengan Nenek" tambahnya meminta maaf


"Gak apa-apa Ma'ci, doanya saja untuk kami" jawab Alfath

__ADS_1


Setelah mereka meminum sirup yang dibuatkan Laila, lalu mereka dipersilahkan untuk beristirahat dulu dikamar yang sudah disiapkan oleh Laila. Tentunya Alfath dan Nisa tidur dikamar berbeda, sementara Umi memutuskan untuk tidur dikamar bersama Nenek.


Alfath dan Nisa yang kelelahan langsung membaringkan tubuhnya, cuaca Malysia yang tak sedingin London membuat Nisa merasa gerah dan memutuskan untuk mandi kebetulan ada toilet didalam kamar mereka.


__ADS_2