
Waktu sudah memasuki isya, Alfath melaksanakan Sholat Isya diruangan Nisa, karena Umma belum juga kembali.
Kontraksi Nisa semakin terasa sakit, tapi dokter belum juga datang untuk memeriksa. Nisa masih terus berjalan-jalan kecil didalam ruangannya itu, sembari terus berdzikir dan bersholawat.
Alfath masih duduk diatas sajadahnya. Nisa yang kesakitan tapi juga merasakan begitu lapar karena belum makan sedari tadi sore.
"Mas.. Aku lapar.." ucap Nisa merengek sembari menahan sakit
"Iya sayang sebentar ya Mas telepon dulu Umma udah dimana.." jawab Alfath lalu bangkit dari duduknya
Alfath menghubungi Umma, karena yang akan membawakan makanannya adalah Umma. Ternyata Umma, Umi dan Papa sudah hampir sampai, dan sudah tiba diparkiran. Papa jalan terlebih dulu membawakan makanan untuk menantunya itu dengan tergesa-gesa karena merasa kasihan pada menantunya. Sesampainya diruangan Nisa, Papa lalu memberikan bungkusan yang berisi makanan dalam wadah. Dengan segera Nisa melahapnya disuapi oleh Alfath.
"Sudah pembukaan berapa sekarang?" tanya Papa pada Nisa juga Alfath
"Baru 4, Pa.. belum diperiksa lagi sekarang" jawab Alfath dengan cepat
"Oh begitu.. Semoga lancar ya allah..." ucap Papa
"Aaammmiinnn..." jawab Nisa dan Alfath berbarengan
Tak lama kemudian, Umma dan Umi tiba diruangan Nisa. Mereka juga membawa 1 kantong berisi camilan yaitu roti, susu, dan beberapa keripik kesukaan Nisa.
Kini waktu semakin larut malam, pukul 9 dokter kembali untuk memeriksa kembali pembukaan Nisa.
"Apa sudah ada keluar air ketuban?" tanya dokter
__ADS_1
"Belum dok.. tapi sakit ini semakin sakit.." jawab Nisa dengan raut wajah yang begitu jelas menahan sakit
"Oh begitu.. saya periksa dulu yaaa" ucap Dokter
Lalu dokter kembali memeriksa pembukaan Nisa
"Pembukaannya belum bertambah Bu.." ucap Dokter
membuat semuanya menjadi panik.
"Ditunggu lagi saja yaaa.. sembari berjalan-jalan kecil lagi" ucap Dokter memberi saran
Nisa menuruti apa kata dokter, lagi-lagi berjalan-jalan kecil dalam ruangan. Waktu semakin larut, Alfath membiarkan Umma, Umi dan Papa untuk kembali dulu pulang saja.
Kontraksi yang semakin sakit, air ketuban yang tak tertahan keluar begitu banyak, tapi pembukaan belum bertambah juga.
Nisa kemudian membaringkan tubuhnya diatas bed, Alfath duduk disamping Nisa sembari membaca Al-Qur'an kecil milik Nisa.
Suara merdu yang dilantunkan Alfath membuat rasa sakit kontraksi Nisa sedikit berkurang.
Nisa yang masih tetap dengan kontraksinya, hanya bisa bergulang-guling diatas bednya denga perlahan.
Waktu semakin malam, jam sudah menunjukan pukul 1 malam. Dokter kembali datang untuk memeriksa pembukaan Nisa.
"Waaah Alhamdulillah sudah bertambah Bu, menjadi 7" ucap Dokter dengan ikut senang
__ADS_1
Nisa semakin merasakan sakit yang luar biasa, ini persalinan pertamanya dan menjadi pengalaman pertamanya.
Alfath yang disamping Nisa masih dengan lantunan ayat sucinya, dan memegangi tangan istrinya itu.
Pembukaan belum juga bertambah, hingga waktu menunjukan pukul 2.30, tiba-tiba Nisa merasakan mulas yang luar biasa.
Alfath dengan paniknya memanggil dokter, dan saat diperiksa oleh dokter, pembukaan itu sudah sempurna.
"Tarik nafas dan keluarkan oleh mulut ya bu.. Jangan berteriak itu akan membuat Ibu kehilangan tenaga" ucap Dokter
Nisa mengikuti semua saran dokter, ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya melalui mulut, dan ngeden sekuat tenaganya.
Waktu menunjukan pukul 2.39, lahirlah anak pertama dari Nisa juga Alfath. Bayi laki-laki yang begitu luar biasa bersih, tak ada sedikitpun darah menempel pada tubuhnya, lalu diberikan pada Alfath agar didekap diatas dada Alfath, dan dilantunkan adzan pada telinganya. Nisa yang terlihat begitu lemas, meneteskan air matanya, dan terdiam. Sementara dokter sedang menjahit lubang lahir yang robek tadi.
Setelah semua selesai, dan ruangan sudah kembali dibersihkan, bayi yang juga sudah di mandikan dipakaikan baju, kemudian diberikan pada Nisa, dengan begitu antusias Nisa mendekapnya diatas dada dan memberikan payudaranya untuk belajar menyusui. Bayi mungil, dengan rambut hitam lurus dan terlihat lebat itu dengan senang hati diajari minum asi oleh Nisa.
"Kita berikan nama pada anak ini, Mas..." ucap Nisa dengan wajah yang masih sangat terlihat lemas
"Aku ingin namanya ada Muhammad dan Swain nya.." jawab Alfath dengan cepat
"Bagaimana kalau namanya Muhammad Arkana Swain, saja?" ucap Nisa memberi masukan
"Nama yang bagus sayang.." jawab Alfath pada Nisa
"Jadi mulai sekarang nama kamu adalah Muhammad Arkana Swain ya sayang..." ucap Alfath pada bayi mungilnya dengan sentuhan halus
__ADS_1
"Panggilannya Arka ya sayang..." ucap Nisa dengan bahagia
Lalu Alfath dan Nisa larut dalam bahagianya itu. Alfath langsung menghubungi semua anggota keluarganya, memberi kabar kelahiran putra pertamanya itu.