
Sampailah Nisa dan Alfath disebuah ayunan kayu yang terpasang diantara 2 pohon besar.
Nisa duduk terlebih dulu, lalu diikuti Alfath duduk disampingnya.
"Nisa tersinggung dengan ucapan Bapak tadi" ucap Nisa tiba-tiba dengan nada sedikit ketus
"Iya sayang, Mas ngerti" jawab Alfath sangat lembut
"Dia tidak mengerti, kita menikah sekarangkan memang sudah diatur waktunya sama Allah, mungkin kalau sedari dulu kita sudah dipertemukan dan aku tidak memiliki apapun, aku yakin Nisa akan mendampingi juga dari nol, tapi Allah lebih tau kapan waktu yang pas" tambah Alfath panjang lebar
"Hmmm" jawab Nisa dengan pandangan tetap kedepan menahan air matanya agar tak jatuh, sembari mendorong ayunan dengan kakinya perlahan
"Anggap saja ucapan itu sebagai angin lalu yaaa, jangan terlalu dipikirkan, dan jangan dimasukan dalam hati" ucap Alfath lagi-lagi dengan lembutnya
"Padahal apalah yang ku punya, semua ini hanya titipan, termasuk kamu istri ku, kamu milik Allah, dan hanya titipan sebagai istri yang dianugrahkan pada ku" lanjut Alfath, kini pandangannya lurus kedepan
Nisa masih saja terdiam, jelas saja hatinya sangat sensitif. Nisa juga hanya wanita biasa, dia perasa, mudah tersinggung, dan mudah membaik jika mengingat Allah.
"Kamu benar, Mas" jawab Nisa
"Kita hanyalah mahluk biasa yang tidak memiliki apapun, semua ini milik Allah, termasuk kamu. Allah bisa mengambilnya kapanpun" lanjut Nisa
Nisa kembali tertawa lagi. Akhirnya mereka berdua asik berbincang sembari duduk diayunan, layaknya anak kecil yang menikmati bermain ayunan. Tidak lupa senyum lebar yang terlihat jelas dari muka Alfath, menggambarkan percakapan mereka tentang sesuatu yang bahagia.
Umi, Nenek dan Ma'ci Laila yang melihatnya dari balik jendela rumah ikut bahagia melihat tawa mereka.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya, Alfath menemukan bahagianya bersama Nisa" ucap Nenek
"Iya Mak. Mudah-mudahan kebahagiaan ini seterusnya dalam rumah tangga mereka" jawab Umi dengan penuh harap
"Aaammmiiinnn" ucap Nenek dan Ma'ci berbarengan
"Mudah-mudahan kebahagiaan mereka cepat ditambah dengan adanya malaikat kecil" ucap Ma'ci Laila mendoakan
Waktu semakin sore, Nisa dan Alfath bergegas untuk pulang. Setelah mereka mandi dan berganti pakaian, Nisa yang tak sabar langsung mengajak suaminya itu untuk memasak bersama. Nisa ingin sekali membuat kue pie strawbery, rasanya sudah terbayang sekali, ditambah lagi dengan jus yang rasanya segar ditenggorokan juga sudah terbayang oleh Nisa.
Tak memakan waktu lama, Nisa dan Alfath selesai memasak, dan menghidangkannya di teras rumah Nenek.
"Masya Allah ini enak sekali" ucap Nenek memuji
"Iya ya, perpaduan rasanya jadi pas, manis asam" ucap Umi juga
Mereka semua melahap semua kue itu, dan jus yang Nisa hidangkan. Semua tak tersisa.
"Strawberynya masih sangat fresh, makanya enak banget yaaa" ucap Nisa
"Kamu suka dengan buah strawberynya Nak?" tanya Nenek pada Nisa
"Suka banget Nek, ini kali pertama Nisa suka buah Strawbery karena langsung dari kebunnya" jawab Nisa
"Iya, dia sampai antusias sekali tadi" jawab Alfath menambahi
__ADS_1
"Kalau begitu bawalah ke Indonesia sebanyak yang kamu mau" ucap Nenek menggoda
"Hehe kalau bisa Nisa ingin bawa semuanya Nek" jawab Nisa juga bercanda
Semua tertawa, Nisa merasa sangat diterima baik saat disini, berbeda dengan saat di London, Nisa sampai tak berlama-lama disana.
Waktu semakin larut, Nisa, Alfath, bahkan seisi rumah sudah tertidur lelap. Waktu menunjukan pukul 02.26 waktu Kuala Lumpur, Nisa terbangun karena menyadari suaminya tak ada disampingnya, sudah tak aneh untuk Nisa, suaminya pasti sedang melaksanakan Sholat Malam, dan selalu membangunkan Nisa setelah ia selesai Sholat Malam.
Kali ini, Nisa terbangun sendiri karena merasa perutnya sangat lapar. Dengan cepat ia menghampiri suaminya yang masih duduk diatas sajadah.
"Udah bangun sayang?" tanya Alfath dengan lembut ketika melihat istrinya duduk disampingnya yang masih berdzikir
"Iya Mas, kali ini aku sangat lapar" ucap Nisa sembari memegangi perutnya yang bunyi
"Masya Allah hehe" goda Alfath pada istrinya itu
"Ya sudah kamu mau dibuatkan apa? biar Mas yang buatkan, kamu tunggu sembari melaksanakan sholat malam" lanjut Alfath dengan cepat sebelum istrinya ngomel
"Aku ingin sekali makan soto campur" ucap Nisa sedikit merengek
"Mas gak bisa sayang buat itu hehe" jawab Alfath dengan jujur
"Makan sotonya besok saja ya, biar Mas minta Umi masakan. Sekarang makan mie instan goreng kesukaan mu saja gimana?" lanjut Alfath menawarkan yang ia bisa
"Tidak mau Mas, aku sudah tidak tahan ingin soto dengan isian daging campur, macam-macam gitu, terus diberi perasan jeruk limau, dan juga sambal, dimakan pakai Nasi hangat, uuuhhh enak pasti" ucap Nisa menjelaskan maunya yang sudah terasa di kerongkongan rasanya
__ADS_1
"Ya sudah baik, Mas akan usahakan untuk Mu. Kamu sholat dulu yaaa" rayu Alfath membujuk istrinya itu
Nisa mengiyakan, dengan sangat berharap sekali sekarang ia bisa memakan apa yang ia mau. Sementara Alfath sibuk mencari cara agar kemauan istrinya itu terpenuhi.