
Setelah acara itu selesai, Alfath dan Nisa kembali kerumah, bersama Umi, Papa dan Shaina. Alfath yang mengendarai mobilnya, dan Nisa duduk didepan. Didalam mobil hening, karena Shaina asik memainkan ponselnya, Umi hanya terdiam, begitu juga dengan Alfath dan Nisa.
"Nisa, Papa sangat minta maaf dengan kejadian yang kurang mengenakan tadi pada mu" Ucap Papa membuka percakapan
Nisa langsung menoleh melihat kearah Papa, terlihat ekspresi muka Papa yang begitu menyesal atas perlakuan yang diterima Nisa tadi.
"Tidak apa-apa Pa, Nisa mengerti" jawab Nisa dengan ramahnya
"Sungguh, Papa tidak enak hati" ucap Papa lagi
"Nisa, baik-baik saja Pa" ucap Nisa seraya ingin memegang tangan Papa
Umi yang memperhatikan percakapan mereka ikut tersenyum pada Papa, seraya mengiyakan ucapan Nisa.
Begitu juga dengan Nisa yang meraih tangan Papa, terus menggenggamnya, meyakinkan dirinya.
Alfath hanya terdiam karena takut salah. Alfath sebenarnya mengetahui, bahwa istrinya itu juga dihina oleh istri sepupunya sendiri.
Sesampainya dirumah, mereka melaksanakan sholat dzuhur bersama. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
"Kak, nanti malam kita jalan-jalan yaaa" ucap Shaina pada Alfath dan Nisa yang sebelum masuk dalam kamarnya
__ADS_1
"Ayooo, aku ingin lihat pemandangan malam di London, Mas" ucap Nisa dengan semangat
"Ok, nanti malam kita jalan yaaa" jawab Alfath mengiyakan
Setelah masuk kedalam kamar, Nisa membuka cadarnya, dan merebahkan dirinya dikasur. Lalu diikuti oleh Alfath.
"Mas, ternyata menikah itu gak gampang yaaa" ucap Nisa dengan lesu
"kok gitu sih?" tanya Alfath sangat kaget dengan ucapan Nisa itu
"Iya, gak gampang. Menikah itu bukan cuma aku dan kamu, tapi kita semua, semua keluarga besar aku dan kamu. Gak gampang menyatukan dua keluarga besar itu" jawab Nisa dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi
"Tapi kita harus bisa menyatukannya dong, jangan kalah sama ego mereka. Kita harus egois dalam menyatukan keluarga kita, supaya mereka mau menerima hehe" lanjut Alfath sembari sedikit menggoda
"huu dasar Mas ini" jawab Nisa dengan tersenyum
"Sayang, aku juga ingin meminta maaf atas perlakuan keluargaku tadi. Kamu jangan membencinya yaaa" ucap Alfath tiba-tiba
"Aku tidak mungkin membenci orangtua, Mas" jawab Nisa mengarah pada Oma
"Bukan" jawab Alfath dengan serius
__ADS_1
"Tapi, wanita yang tadi mengatai mu" lanjut Alfath
"Kok Mas tahu?" jawab Nisa kaget padahal ia tidak memberitahu suaminya itu
"Mas lihat sendiri tadi sewaktu dia berbicara pada Shaina di pintu keluar" jelas Alfath dengan hati-hati
"Oh iya Mas. Tadinya tak akan ku ceritakan pada mu, hal sepele begini. Karena memang dia tidak penting" jawab Nisa tapi berkaca-kaca
"Dia memang sangat keterlaluan. Namanya Stella, dia istri dari sepupuku Emran. Padahal dulu dia sangat sopan pada kami, setelah suaminya aku bantu ketika bangkrut" jelas Alfath
"Oh begitu. Mungkin dia belum mengenal Nisa saja Mas makanya begitu pada Nisa. Semoga Allah membalas semua kebaikan pada kalian" jawab Nisa dengan tegar
"Iya sayang Aaammmiinnn" jawab Alfath
"Kamu pasti sakit hati kan?" tanya Alfath
"Aku gak apa-apa mas" jawab Nisa
Alfath lalu mengelus kepala Nisa dengan lembut, hingga tertidur.
Siang berganti malam, setelah sholat isya Alfath mengajak Nisa untuk sekedar berjalan-jalan menikmati malam di kota London. Shaina yang mengajak tentu saja ikut, Papa dan Umi memutuskan untuk tetap dirumah karena lelah.
__ADS_1