
Suasana duka terlihat jelas dari raut wajah Nisa, Nisa masih dirundung duka yang amat dalam. Baby Arkana yang mulai merasakan duka, tak ia dengar lagi suara panggilan jagoan dari sang ayah, kini juga merasakannya, ia mulai terus menangis dalam dekapan Nisa. Nisa yang mulai berusaha tegar, ia mencoba menenangkan putranya, dengan memberinya asi.
Semua keluarga sudah berkumpul, waktu sudah menunjukan pukul 10.30. Jenazah Alfath sudah beres dimandikan, dan dikafani. Nisa berbesar hati membantu mengkafani suaminya itu, dengan tangis yang sangat berat ia tahan. Lalu Alfath dibawa untuk di sholati di masjid besar milik Alfath, dengan ribuan jama'ah yang berbondong-bondong untuk menyolati Alfath.
Baby Arkana tetap dalam gendongan Nisa, ia ingin anaknya tetap dekat ayahnya di hari terakhir ini. Nisa dan Baby Arkana menaiki Ambulance mengantarkan ke masjid untuk di sholati. Ribuaan orang yang mengantarkan pun mengikuti dibelakang ambulance dengan motor dan mobil mereka.
"Sayang... sungguh banyak yang sayang sama kamu, banyak yang mendoakan kamu.. Tenang disana yaaa, tunggu aku dan Arkana di syurganya Allah.." bisik Nisa dekat telinga jenazah suaminya itu, sembari menahan tangis
Alfath yang mendadak jadi selebritis kala jumpa pers waktu itu, juga menjadi sorotan saat berita kepergiannya ini, semua media juga datang untuk mengabadikan berita duka dari sang pengusaha muda nansukses ini, yang mendadak menjadi sorotan karena ketampanannya juga kebaikan hatinya.
Setelah di sholati, kini jenazah Alfath dibawa untuk di makamkan. Nisa yang begitu terlihat tegar, walau raut wajahnya begitu kusut dan mata yang sangat sembab, tetap berdekatan mendampingi suaminya untuk mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Begitu juga dengan keluarga inti, kedua orangtua Nisa, kedua orangtua Alfath, juga Shaina berjalan bersama berdekatan dengan jenazah.
Aba memimpin doa pemakaman, Papa membantu memasukan jenazah Alfath kedalam liang lahat, Umma dan Umi bersampingan dengan Nisa, Baby Arkana yang kini dalam gendongan Shaina.
Pemakaman telah selesai, banyak karangan bunga yang dikirim langsung oleh kerabat dan rekan bisnis Alfath ke tempat pemakaman juga ke rumah duka. Media menyiapkan tempat untuk jumpa pers, karena kematian Alfath terbilang mendadak jadi semua orang bertanya-tanya.
"Assalamu'alaikum.. saya Jhon Swain, ayah dari Alfath Swain, ingin meminta maaf sedalam-dalamnya atas semua kesalahan yang dilakukan anak saya, baik yang sengaja ataupun tidak, saya mohon kelapangan hati masyarakat luas dan kerabat untuk memaafkan.." ucap Papa dengan raut wajah kesedihannya
"Saya juga berterimakasih untuk semua yang sudah datang memberi doa dan mengantarkan anak saya, Alfath Swain ke peristirahatan terakhirnya.. Terimakasih banyak.." lanjut Papa
"Saya juga berterimakasih banyak untuk Annisa yang sudah mencintai anak saya sepenuh hatinya, dan menemani hingga akhir hayatnya. Terimakasih juga untuk semua masyarakat Surabaya, dan Indonesia yang telah menerima Alfath dengan baik disini" ucap Papa lagi-lagi berterimakasih
"Bagaimana kronologi kematian Alfath Swain?" tanya seorang wartawan dari sebuah media cetak
"Bisa diceritakan...?" lanjutnya karena terlihat semua keluarga terdiam
"Kebetulan saya tidak ada ditempat, saya juga belum tahu pasti kejadiannya. Hanya Annisa, istri tercinta dari Alfath yang mengetahui persisnya seperti apa. Jika nanti sudah kuat hatinya, ia pasti akan menceritakannya..." jawab Papa dengan sangat berhati-hati
__ADS_1
Seketika semua saling pandang, semua wartawan ribut saling melemparkan pertanyaan-pertanyaan itu pada keluarga Alfath.
Nisa akan menjawabnya, ia menguatkan dulu hatinya.
"Baik saya akan jawab kronologi terakhir sebelum kepergian suami saya.." ucap Nisa dengan suara lirihnya
"Jadi semalam setelah sholat tahajud, suami saya kembali ketempat tidur dengan mengatakan merasa sakit dibagian dada, lalu saya tinggal untuk sholat tahajud juga.." ucap Nisa dengan mulai menitikan air matanya
"Setelah saya kembali, suami saya seperti sudah tertidur pulas.. padahal mungkin saat itu Allah sudah ambil nyawanya.." lanjut Nisa sembari menjadi tangisnya
"Lalu kami sempat membawanya ke rumah sakit, tapi dokter menyatakan bahwa suami saya terkena serangan jantung.." lanjut Nisa dengan terbata-bata
Semua mata tertuju pada Nisa, karena memang keluarga besarpun belum ada yang tahu tentang seperti apa kejadiannya.
"Sebelumnya suami saya sempat olahraga gym sebelum tidur, lalu mandi malam. Menurut dokter kemungkinan karena aktivitas berat, jadi jantungnya memompa dengan berat dimalam hari, makanya terjadi serangan jantung" ucap Nisa yang kini menjadi sesegukan, lalu menyimpan pengeras suara itu diatas meja
"Alfath adalah anak pertama yang sangat dewasa untuk kami orangtuanya, Alfath juga seorang anak yang sangat berbakti terhadap kami orangtuanya. Ia selalu berusaha membantu keluarganya semampu yang ia bisa" ucap Umi menjelaskan tentang anaknya sembari terus meneteskan air matanya
"Tentunya perasaan kami begitu terpukul atas kepergian putra kami, apa lagi istrinya pasti sangat berduka. Jujur saja, tidak pernah terbersit difikiran saya untuk menguburkan anak sendiri, yang ada saya berharap saya yang dipanggil duluan dan dikuburkan oleh anak dan menantu saya, tapi nyatanyaaa..." ucap Papa, terhenti karena tak kuat menahan tangisnya
Jumpa pers itu dirasa sudah cukup. Nisa dan keluarga semua kembali kerumah. Kini tinggal kerabat dekat yang dicari oleh para wartawan untuk menggali lagi informasi seputar kehidupan Alfath.
"Pak Alfath itu memberikan sebagian penghasilannya untuk panti asuhan anak yatim piatu, panti jompo dan juga beberapa kampung yang masih kekurangan. Beliau adalah seorang dermawan menurut saya.." ucap Rio sang asisten yang sudah begitu lama bekerja bersama Alfath.
Sesampainya dirumah, semua berkumpul dilantai dua, diruang keluarga untuk berunding bagaimana kedepannya Nisa juga Arkana.
"Papa sangat tidak menyangka Alfath akan pergi secepat ini.." ucap Papa dengan sangat hati-hati disamping Nisa
__ADS_1
"Nisa juga, Paaa.." jawab Nisa sembari menangis
Papa lalu mendekap tubuh mungil Nisa, dengan merangkul bahunya.
"Terimakasih telah menjadi istri yang menerima semua kekurangan anak Umi yaaa.." ucap Umi sembari memegang tangan Nisa dengan usapan lembutnya
"Tetaplah jadi keluarga yaaa.." lanjut Umi dengan meneteskan air matanya
"Iya Umi, pasti.." jawab Nisa sembari kembali membalas usapan tangan Umi
"Insya Allah kami akan lebih sering datang ke Indonesia untuk Annisa dan juga Baby Arkana cucu kami.." ucap Papa dihadapan semuanya
"Terimakasih banyak Paaa.." ucap Nisa
"izinkan Nisa untuk kembali tinggal diponpes, bersama kedua orangtua Nisa, Umi, Papa.." lanjut Nisa dengan suara yang begitu lirih
"Kalau kami sih silahkan saja, Nisa.." jawab Papa dengan cepat
"Bagaimana dengan perusahaan Mas Alfath dan rumah ini?" tanya Nisa mencari solusinya
"Semua perusahaan Alfath, rumah dan aset-aset milik Alfath semua untuk kamu dan juga Arkana, Nisa.." ucap Umi
"Iya Nisa, Papa setuju.." ucap Papa
"Nisa tidak bisa menghandle semuanya sendiri Papa.." ucap Nisa
"Kami siap membantu.." jawab Papa dengan cepat
__ADS_1