
Alfath membantu persiapan untuk acara lamaran Shaina. Acara itu akan di gelar di hotel milik sepupu Alfath, yaitu Firman. Pengusaha hotel yang juga ada di Surabaya.
Alfath membantu memesankan dekorasi yang diinginkan oleh adiknya itu. Acara lamaran ini hanya dihadiri oleh keluarga inti saja, jadi tak banyak persiapannya, hanya untuk acara makan malam bersama saja.
Hingga tiba hari dimana Shaina akan dilamar oleh Alif Kivilceem sang kekasih hati. Semua keluarga Alfath sudah berkumpul dihotel untuk menyambut kedatangan keluarga Kivilceem. Tak begitu lama keluarga Kivilceem pun datang, sama seperti keluarga Alfath mereka datang tak banyak hanya ada kedua orangtua Alif, dan Kakak juga Kakak Iparnya. Setelah bertemu langsunglah acara inti itu berlangsung, penentuan tanggal pernikahan, setelah itu dilanjutkan acara makan malam bersama.
Setelah acara selesai, Nisa dan Umi sedang duduk bersamaan dan berbincang-bincang, begitu juga dengan keluarga yang lainnya, semua berbincang-bincang seakan agar mengenal satu sama lain.
"Sayang, perkiraan dokter HPLnya kapan? Tak sabar Umi menunggu.." ucap Umi dengan begitu senangnya
"Insya Allah bulan depan Umi, perkiraan sih tanggal 20an" jawab Nisa berseri-seri
Tiba-tiba Nisa berpamitan untuk ke toilet yang ada di luar ruang pertemuan itu, tepatnya di lorong paling ujung. Nisa tidak sempat berpamitan pada suaminya, karena sedang asik berbincang dengan para pria yang ada diruangan itu. Nisa hanya bilang pada Umi saja.
"Umi, Nisa tinggal dulu yaaa sebentar.." ucap Nisa sembari hendak bangkit dari duduknya
"Kamu mau kemana nak?" jawab Umi dengan cepat
__ADS_1
"Nisa mau ke toilet dulu, Umi. Udara dingin semakin membuat ingin buang air kecil terus" ucap Nisa memberitahu
"Umi antar yaa sayang.." ucap Umi tiba-tiba
"tidak usah Umi, tidak apa. Dekat kok toiletnya juga" jawab Nisa menolak lalu bangkit dari duduknya hendak meninggalkan meja makan itu sembari menjinjing tas kecil yang ia bawa sedari tadi
"Kamu yakin sayang?" Ucap Umi sangat khawatir
Nisa hanya menganggukan kepalanya, dengan senyuman dibalik cadarnya itu. Nisa berjalan perlahan menuju pintu untuk keluar, tanpa yang lain melihatnya, hanya Umi yang tahu. Nisa berjalan perlahan dengan sepatu ketsnya yang begitu nyaman, hingga tak terlihat lagi diruangan itu.
Nisa berjalan begitu perlahan, hingga sampai di toilet, toilet itu dalam keadaan penuh karena hanya ada 2 pintu didalamnya, keadaan lantai yang basah seperti baru saja dibersihkan itu, membuat lantai sedikit licin. Nisa begitu berhati-hati, ia menunggu sebentar di sebuah wastafel dengan cermin besar yang ada di toilet itu, dengan tangan memengang ke tembokan wastafel, setelah ia menunggu, tak lama seorang wanita keluar dari pintu toilet itu, Nisa yang sudah tak kuat menahan buang air kecil, dengan tak sabar terburu-buru masuk kedalam toilet.
"Astagfirullah..." ucap Nisa begitu kaget saat kakinya terpeleset
"Ya allah, Alhamdulillah tidak sampai jatuh. Alhamdulillah masih bisa menopang" ucap Nisa lagi-lagi dengan perlahan
Nisa melanjutkan langkahnya untuk langsung saja keluar dari ruangan toilet itu, ia mengurungkan niatnya untuk mencuci tangan juga sekedar bercermin itu. Saat Ia hendak keluar dari pintu toilet, tiba-tiba ia merasakan perutnya begitu sakit, sakit yang ia rasa sangat hebat.
__ADS_1
"Astagfirullah... aku ini kenapa" ucap Nisa sembari jalan mulai sempoyongan sembari memegangi perutnya
"Ya allah ya allahhhhhh... kamu kenapa sayang? bertahanlah..." ucap Nisa dengan begitu menahan sakit yang ia rasa, sembari terus memegangi perutnya
Nisa melanjutkan langkahnya hendak kedalam ruang makan lagi, langkah yang semakin melambat, semakin sempoyongan, juga air mata yang mulai menetes karena menahan sakit yang luar biasa itu seketika menghentikan langkahnya, karena sangat merasa sudah tak sanggup untuk melangkahkan lagi kakinya, Nisa seketika duduk dilantai sembari menahan sakitnya, dengan berderai air mata.
"Ya allah... Kamu bertahan ya sayang, belum waktunya kamu lahir sayang, kita sama-sama bertahan ya naaak..." ucap Nisa sembari terus memegangi perutnya
Tak ada seorangpun yang lewat, orang yang tadi dalam toiletpun sepertinya sudah keluar sebelum Nisa keluar tadi, membuat semakin tak ada orang. Nisa ingat bahwa ia membawa tas kecil yang ia selempangkan dibahunya itu, ia mengeluarkan ponselnya langsung menghubungi suaminya.
Didalam ruangan, Alfath yang sedang asik berbaur dan berbincang-bincang dengan keluarga Kivilceem itu masih belum menyadari bahwa istrinya tidak ada lagi disana. Alfath mendengar suara dering ponselnya, langsung ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya hendak mengangkat telepon masuk itu, saat melihat kearah layar ponselnya ia begitu kaget mengapa istrinya menghubunginya, sebelum ia menekan tombol angkat, ia melihat ke sekeliling ruangan itu, memang tidak terlihat istrinya disana, dengan cepat ia menjauh dari orang-orang, lalu menekan tombol terima panggilan.
"Mas...." ucap Nisa langsung dengan suara begitu lirih, terdengar jelas bahwa Nisa menangis.
"Sayang kamu kenapa? kamu dimana?" jawab Alfath langsung dengan begitu khawatir
"Perutku sakit Mas, tolong aku. Aku depan toilet" ucap Nisa dengan menahan sakitnya
__ADS_1
Alfath yang begitu khawatir langsung berlari keluar ruangan dan memasukan kembali ponselnya kedalam saku celananya. Begitu terkaget Alfath ketika melihat istri yang begitu ia cintai itu sedang duduk dilantai dengan bersandar, lemah tak berdaya, dan sangat kesakitan itu. Dengan cepat Alfath menggendong Nisa dan berlari kelantai bawah dengan menaiki lift dan menuju parkiran.