
Nisa masih tak percaya mendengar semua penjelasan Alfath tentang panti asuhan dan semua itu. Nisa benar-benar beruntung, memiliki suami yang tampan, kaya raya dan ternyata sangat dermawan karena kekayaannya tak dihabiskan untuk membiayai keluarganya saja, tapi juga bermanfaat sebagaimana yang Rasulullah ajarkan.
Nisa masih duduk dipangkuan Alfath, dan terus diajarkan tentang perusahaan.
"eh iya sayang, kamu juga harus tahu. Kalau Mas ini masih sering memberikan uang untuk Umi, dan membantu keperluan Shaina" ucap Alfath lagi
"Alhamdulillah dong Mas kalau begitu, seneng aku dengernya" jawab Nisa
"Alhamdulillah, dan sekarang orang tua ku bertambah, ada Umma dan Aba, kita juga bantu mereka yaaa sayang" ucap Alfath
"Masyaallah begitu mulia niat kamu mas. Terimakasih sebelumnya ya" jawab Nisa begitu kagum dengan suaminya itu
"Jangan berterimakasih begitu sayang" jawab Alfath
"Umma dan Aba kini menjadi orang tua Mas juga, orang tua yang udah ngasih anak cantik sholihahnya ini untuk Mas hehe" tambah Alfath sembari tertawa kecil
"Ya allah mas mas" jawab Nisa dengan tersenyum lalu memeluk Alfath
"Mas, Nisa mau masak dulu ya" ucap Nisa karena sudah terlalu lama diam diruangan Alfath itu.
"Ayooo masaknya Mas bantu" jawab Alfath dengan semangat
__ADS_1
Nisa dan Alfath lalu keluar dari ruangannya itu, lalu menuruni anak tangga hendak kedapur. Sesampainya didapur, Nisa lalu menyiapkan semua bahan yang ingin ia masak dari dalam kulkas.
Alfath membantu Nisa untuk memotong sayuran. Ternyata Alfath yang seorang anak Chef pengusaha Restoran itu juga jago masak, walau rasanya belum seenak masakan Nisa.
"Mas kok bisa sih motong-motong gitu, rapi" ucap Nisa memuji
"Hehe dulu Mas sewaktu kecil sering melihat Papa, terus sempat sih diajari sedikit-sedikit oleh Umi dan Papa untuk sekedar membumbui telur ceplok sih bisa, enak kok" jawab Alfath sembari bercanda
"Aku mau dong dimasakin Mas" jawab Nisa menggoda
"Nanti dimasaki air ya hehe" jawab Alfath lagi-lagi bercanda membuat Nisa tertawa
Akhirnya masakan Nisa matang semua. Nisa memasak sup iga sapi dan tempe goreng, juga membuatkan teh hangat untuk Alfath yang suarany masih nyirung. Mereka menikmati makan siangnya seperti biasa berdua saja. Setelah makan selesai tiba-tiba ponsel Nisa berbunyi, Nisa bergegas mengambilnya dan melihat dilayarnya tertuliskan Umi videocall masuk. Nisa langsung menerimanya dengan semangat.
"Umi videocall, Mas" jawab Nisa lalu menekan tombol terima
Terlihat Umi yang sedang di Restoran milik mereka, dan kamera Nisa yang langsung terlihat Nisa dan Alfath duduk berdekatan supaya terlihat oleh Umi.
"Assalamu'alaikum Umi" ucap Nisa terlebih dahulu
"walaikumsalam sayang. Alfath tidak kekantor nak?" tanya Umi karena melihat Alfath yang disebelah Nisa
__ADS_1
"tidak Umi, Alfath lagi pengen manja dulu hehe" jawab Alfath bercanda
"hehe kamu ini" jawab Umi sembari tertawa kecil
"Suara mu kok nyirung begitu nak?" tanya Umi
"Iya Umi. Mas Alfath lagi flu, tapi sekarang sudah mendingan, sudah membaik" jawab Nisa menjelaskan
"Astagfirullah cepat sehat lagi ya sayang" ucap Umi
"Keadaan mu bagaimana Nis? Sehat?" tanya Umi pada Nisa
"Alhamdulillah kalau Nisa sehat Umi. Umi dan Papa bagaimana disana sehat?" tanya balik Nisa pada Umi
"Alhamdulillah sehat nak. Kami sedang di Restoran" ucap Umi memberi tahu sembari memutarkan kameranya untuk menunjukan isi Restorannya itu, dan terlihat Papa sedang berdiri disebuah meja dengan celemek dilapisan bajunya
"Assalamu'alaikum Papa" ucap Nisa menyapa karena Papa melambai-lambaika tangannya sembari memanggil nama Nisa dan Alfath
"Kalian sehat-sehat yaaa, agar bisa cepat kemari, bulan madu dan cepat dapat momongan" ucap Umi sembari antusias
"bulan madu sih setiap hari juga sekarang bisa, Umi" ucap Alfath sembari tersenyum
__ADS_1
"doakan semoga kami segera dipercaya untuk cepat memiliki anak ya Umi" tambah Alfath dan Nisa mengaminkan
Lalu panggilan videocall itu diakhiri oleh Umi, karena Nisa dan Alfath akan melaksanakan sholat dzuhur.