
Ibu separuh baya itu meninggalkan Nisa, karena ia harus membereskan hand spray yang telah ia gunakan. Nisa kembali diam sendiri, tak berapa lama Alfath keluar dari dalam gudang, lalu mencuci tangannya terlebih dahulu.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" tanya Alfath yang mengkhawatirkan Nisa
"Aku gak apa-apa mas, hanya mual akibat bau menyengat saja" jawab Nisa setelah menelan air minumnya
"Kok kamu punya air mineral?" tanya Alfath heran
"Iya Mas, tadi karyawan disini memberi ku" jawab Nisa dengan sebenarnya
Lalu Alfath mengajak Nisa untuk ke kebun Strawbery, kebetulan tanamannya sedang berbuah dan sangat lebat.
"Waaah cantiknya" ucap Nisa saat melihat tanaman Strawbery itu berjajar rapi, hijau dan berbuah serempak berwarna merah
"Aku ingin memetik dan memakannya Mas, apa boleh?" tanya Nisa
"Boleh dong sayang" jawab Alfath dengan cepat
Nisa yang tak sabar, langsung berjalan cepat menghampiri deretan pertama tanaman strawbery itu. Nisa memasang ekspresi kagum saat melihatnya, dengan tak sabar langsung memetik buah yang ia pilih lebih besar dan merah cantik. Ia bergegas ke tempat wastafel kecil yang berada didekatnya, dan mencuci strawbery itu, lalu mengangin-anginkannya supaya kering, lalu menggitnya.
"Masya Allah segeeer bangeeetttt deh" ucap Nisa sembari merem karena rasa asam segar dari buah strawbery yang ia telan
"Mas mau dong" ucap Alfath
Tanpa aba-aba langsung melahap buah yang dalam genggaman Nisa itu.
"ihhh Mas ini, kenapa tidak memetik lagi?" tanya Nisa karena kesal
__ADS_1
"Pengen yang ada ditangan mu, biar manis, karena ada bekas gigitan mu" jawab Alfath menggoda
Akhirnya Nisa dan Alfath memetik beberapa buah strawbery yang Nisa inginkan, dan berniat untuk membawanya pulang kerumah Nenek.
Setelah selesai memetik, tak disangka sampai 1 kantong plastik berukuran kecil hampir penuh.
"Ayo Mas, ku rasa sudah cukup" ucap Nisa sembari melihat kantong yang ia pegang berisi strawbery segar
"Yakin udah aja sayang?" tanya Alfath seraya meyakinkan istrinya itu
"Udah Mas cukup kok, aku ingin buat pai strawbery, dan jus strawbery susu" ucap Nisa sembari membayangkan
Nisa lalu mencuci tangannya di wastafel tadi sebelum ia pulang, lalu diikuti oleh Alfath yang juga mencuci tangannya.
Mereka berjalan bergandengan tangan meninggalkan kebun, dan hendak berjalan kearah rumah Nenek.
Tak disangka, ada seorang pria separuh baya menghentikan langkah kaki Alfath dan Nisa. Ia menyapa Alfath.
"Alhamdulillah sehat" jawab Alfath sembari menerima jabatan tangan sang bapak itu
"Apa masih ingat dengan saya?" tanyanya pada Alfath, karena terlihat Alfath seperti orang yang bertanya-tanya siapa Bapak ini sebenarnya
"Hmmm" jawab Alfath ragu
"Pak Muslim?" tanya Alfath menyebutkan nama yang ia tebak
"Aaaaah iya benar. Ternyata Bapak masih ingat saya" jawab Pak Muslim dengan senyum bibir yang terhalang kumis tebalnya itu
__ADS_1
"Aaah iya iya" jawab Alfath mengiyakan
Mereka berbincang-bincang, Pak Muslim juga menceritakan mengapa ia bisa ada di Kuala Lumpur, karena sedang melihat langsung kerjasama dengan Nenek yang memasok buah dan sayur untuk mini market yang ia kelola di Kuala Lumpur, Pak Muslim juga menanyakan bagaimana kini karir Alfath, dan juga banyak hal. Alfath tak lupa mengenalkan Nisa sang istri pada Pak Muslim.
"Oh jadi Pak Alfath sudah menikah?" sahut Pak Muslim setelah dikenalkan dengan Nisa
"Iya Pak, baru berjalan 4 bulan" ucap Alfath menjawabnya
"Beruntung sekali ya wanita ini" ucap Pak Muslim, kini dengan nada yang berbeda, sedikit ketus
"Dulu anak saya ingin di nikahi Pak Alfath saat Pak Alfath belum mapan seperti ini, tapi ditolak oleh Pak Alfath, dan sekarang sudah sukses, menikah. Enak sekali Mbak nya tinggal menikmati" tambahnya dengan Nada kelihatan seperti orang kesal
Pak Muslim adalah rekan kerjanya Alfath sewaktu dulu, saat Alfath masih merintis perusahaannya sendiri, kala itu Alfath masih bekerja berdua dengan Rio, belum banyak karyawan seperti sekarang. Alfath dulu sempat bekerjasama dengan Pak Muslim, dan berkat kerjasamanya itu Alfath dipandang oleh banyak client yang kini memakai jasa properti dan desain interiornya.
Pak Muslim juga Bapak dari seorang gadis cantik bernama Mia, Mia sangat menyukai Alfath kala itu, gadis manis yang sedia menemani Alfath dari nol ujarnya waktu itu. Tapi Alfath menolak, karena waktu itu umur Alfath masih sangat muda, juga Mia lebih tua dari Alfath 8 tahun kala itu.
Nisa kesal dengan ucapan Pak Muslim, Nisa dengan cepat berjalan meninggalkan mereka. Nisa sangat tersinggung, perasaannya sedang naik turun tak karuan. Tanpa Pamit pun Nisa berjalan terus menuju rumah. Alfath segera mengakhiri pembicaraannya, dan mengejar istrinya itu.
"Sayang tunggu dong" ucap Alfath sembari mengejar Nisa
Akhirnya Alfath meraih tangan Nisa, dan Nisa menghentikan langkah kakinya itu.
Alfath memandangi raut wajah istrinya yang tertunduk lesu.
"Sayang kamu gak apa-apa?" tanya Alfath khawatir
Nisa hanya terdiam, Nisa berusaha menahan air matanya agar tak jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kamu lelah sayang?" lagi-lagi tanya Alfath
Nisa masih saja terdiam, sebenarnya Alfath tahu pasti Nisa tersinggung dengan ucapan Pak Muslim tadi. Dengan cepat Alfath mengajak Nisa untuk duduk di ayunan diantara pohon besar samping rumah Nenek, dan berharap menyelesaikan semua disana.