
Mbok Iyem masih belum mendapat jawaban apapun dari Nisa. Nisa hanya terus menangis, tak tertahankan lagi.
"Bu.. ada apa?" tanya Mbok Iyem yang mencoba tenang, karena dikamar yang ia lihat hanya pemandangan Alfath yang sedang tertidur bersama putra mereka
"Mas Alfath tak bangun-bangun.." ucap Nisa terbata-bata, sembari terus mengeluarkan air mata yang semakin deras
Mbok Iyem mulai merasakan tak enak hati, ia mencoba menghampiri tubuh Alfath yang kini menjadi terlentang akibat Nisa goyang-goyangkan sewaktu tadi.
Mbok Iyem mencoba menghampiri Alfath, dan mencoba menyimpan telunjuknya di dekat hidung majikannya itu.
"Tadi Mas Alfath mengeluhkan sakit dada" ucap Nisa dengan sesegukan yang tak tertahan
"Buuu.. kita bawa kerumah sakit saja yaaa.." ucap Mbok Iyem panik
Mbok Iyem langsung menelepon Ambulance, dan mempersiapkan Baby Arkana karena tidak mungkin ditinggal sendiri dirumah.
Mbok Iyem sebenarnya sudah merasa tidak enak hati, ia sudah tahu jika sebenarnya Alfath sudah tiada, tapi ia berusaha tenang didepan Nisa karena dirumah itu hanya ada dirinya yang harus bisa diandalkan.
Nisa yang juga bersiap menggunakan jilbabnya dan juga cadarnya. Mencoba tenang, dan mencoba menghapus air matanya. Tapi sesegukan itu belum juga bisa dihilangkan, terlihat jelas diwajahnya begitu cemas, panik dan takut yang sangat dalam.
Mbok Iyem menyelimuti tubuh baby Arkana dengan selimut tebal, topi hangat dan kaos kaki.
Tak lama kemudian ambulance datang, kedua perawat langsung membawa Alfath yang terbujur kaku masuk kedalam ambulance. Nisa yang duduk disamping Alfath tak henti membaca sholawat dan berdzikir, sembari memegangi tangan suaminya itu. Sementara Mbok Iyem menggendong Baby Arkana dan duduk di depan bersama supir.
Waktu menunjukan pukul 02.30 pagi dini hari, Ambulance tiba dirumah sakit. Alfath langsung dilarikan keruang ICU, Nisa dan Mbok Iyem menunggu diluar ruangan. Air mata yang terus mengalir deras tak bisa lagi tertahankan, bibir yang tak bisa lagi berkata-kata apapun, hanya asma allah yang terucap dari mulutnya itu.
Baby Arkana yang mulai terjaga, tapi tak menangis itu membuka matanya baik-baik seperti sedang memperhatikan betul dimana dirinya kini berada, dan seperti menunggu kabar dari ayahnya itu.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruang ICU. Nisa dan Mbok Iyem langsung menghampiri dengan cepat.
"Maaf Bu.. Pasien sudah tiada dan menghebuskan nafas terakhirnya sekitar setengah jam yang lalu.." ucap Dokter memberi kabar duka yang sangat dalam untuk Nisa
Nisa tak kuasa menahan tangisnya, pecah suasana dengan suara tangis Nisa yang semakin menjadi-jadi.
"Maaaasss....." teriak Nisa dengan refleks
Nisa lalu berlari menuju dimana suaminya berada, dan sudah terbujur kaku itu, diikuti oleh Mbok Iyem.
"Mas... bangun maaasss..." ucap Nisa mulai tak bisa mengusai dirinya
"Istigfar bu..." ucap Mbok Iyem sembari memegang bahu Nisa, walau sebenarnya Mbok Iyem juga meneteskan air matanya
__ADS_1
"Maaasss... anak mu butuh kamu..." ucap Nisa sembari mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya
Dokter mulai menghampiri Nisa dan Mbok Iyem dengan sangat tenang untuk menjelaskan kondisi Alfath.
"Bu.. izinkan saya menjelaskan yang terjadi pada suami Ibu..." ucap Dokter dengan hati-hati
Nisa menoleh kearah dokter, mencoba menenangkan dirinya dulu, dan menghapus air matanya.
"Pak Alfath terkena serangan jantung. Jantungnya yang sudah beraktivitas berat dimalam hari membuatnya jadi terkena serangan jantung" jelas dokter dengan perlahan-lahan
"Iya dok, suami saya tadi berolahraga gym sebelum tidur, lalu mandi" jawab Nisa dengan terbata-bata
Jenazah Alfath mulai dibawa kembali kedalam Ambulance dan dibawa kerumah. Nisa dengan cepat menghubungi Rio, ia hanya berpikir untuk bisa meminta tolong pada Rio saja.
"Rio.. saya minta bantuan, suami saya meninggal dunia tadi sekitar pukul 02.00 pagi, saya ingin meminta bantuan untuk pemakaman" ucap Nisa sembari berusaha tegar dan menahan tangisnya
Rio yang begitu tak percaya langsung bangkit dari tidurnya, karena ia sedang tertidur lelap, dan menerima telepon dalam keadaan setengah sadar.
"Innalillahi wa innalillahi roji'un.." ucap Rio
"Ibu serius?" lanjut tanya Rio dengan nada tak percaya
Rio masih terduduk mengumpulkan nyawanya setelah tidur tadi, ia masih percaya tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Kenapa Pa?" tanya istri Rio yang juga jadi terbangun
"Bener gak sih Pak Alfath meninggal?" ucap Rio dengan pandangan kosong
"Hah? meninggal? ah gak mungkin.. kan kata papa kemarin pak Alfath masih kerja, dan sehat bukan?" tanya istri Rio yang juga tidak percaya
"Barusan ada telepon dari Bu Annisa, bener gak sih?" lagi-lagi Rio masih belum percaya dengan semua ini, ia mengecek kembali data panggilan masuk ke ponselnya itu
"Bener maaa.. barusan Bu Annisa menelepon. Ayo kita kerumahnya. Tadi diteleponnya ingin minta bantuan Papa" lanjut ucap Rio ketika sudah memastikan
Rio dan istri menuju rumah duka, pukul 03.45. Ambulance sudah tiba duluan dirumah Alfath dan Nisa. Jenazah Alfath kini sedang diturunkan oleh para perawat rumah sakit, terlihat jelas Mbok Iyem masih menggendong Baby Arkana. Nisa masih larut dalam kesedihannya itu.
Rio dengan segera menelepon pihak pesantren dan beberapa masjid yang selalu Alfath yang menjadi donaturnya.
Pak Yahya datang bersama beberapa warganya dan santri juga ustadz dari pesantren, yang membantu untuk memandikan dan mengkafani.
Istri Rio mengambil Alih gendongan baby Arkana, Mbok Iyem sibuk menggelar karpet bersama Rio. Nisa masih memandangi suaminya, ia begitu tak percaya dengan semua ini, Nisa terus membelai wajah suaminya, tangisnya seakan terhenti karena yang ia lihat adalah wajah penuh cahaya, senyum termanis dari suaminya, dan juga wajah ketenangan dari suaminya itu membuat Nisa begitu lega. Suaminya meninggal tanpa beban, dan ia juga yakin suaminya meninggal dengan sangat banyak membawa kebaikan.
__ADS_1
Rio lalu menghampiri Nisa perlahan, sementara yang lain sibuk menyiapkan untuk memandikan dan mengkafani Alfath. Banyak orang berdatangan, mereka dengan cepat ikut membantu dalam duka ini.
"Bu..." ucap Rio dengan perlahan
Nisa menoleh kearah Rio, matanya sembab entah bisa melihat jelas atau tidak, yang pasti matanya semban sesembab mungkin.
"Maafkan suami saya jika banyak salah.. Maaf yang sedalam-dalamnya atas semua perintah-perintah suami saya pada kamu.." ucap Nisa terdengar berusaha tegar dan menahan air matanya
"Sudah Bu, sudah saya maafkan. Tapi saya tidak pernah merasa disakiti hatinya oleh Pak Alfath, alhamdulillah.." jawab Rio dengan cepat
Rio seketika melihat wajah bosnya yang kini sudah terbujur kaku di atas bed.
"Bu.. sudah menghubungi keluarganya dan keluarga ibu?" tanya Rio dengan sangat hati-hati
"Belum.. aku tak kuasa berbicaranya.. ini ponsel milik ku, gunakan untuk menghubungi keluarga, jangan membuat orangtua kami begitu cemas yaaa.." jawab Nisa sembari memberikan ponsel pribadi miliknya
Kemudian Rio menjauh dari Nisa, karena memang suasana sudah mulai ramai oleh para pelayad yang sedang mempersiapkan segalanya.
Rio kini sedang berada dikamar tamu, bersama istrinya juga baby Arkana.
Rio menghubungi keluarganya Alfath terlebih dahulu di Inggris, ia memutuskan untuk memberitahu kabar duka ini kepada Shaina terlebih dulu lantaran ingin berdiskusi baiknya bagaimana untuk memberi tahu Umi juga Papa.
"Haloo kak Nisa?.." ucap Shaina yang mengira itu adalah Nisa, karena memang ponsel dan nomor Nisa
"Ini saya Rio, Bu Shaina.." ucap Rio
"Rio? ada apa? kok ponsel kak Nisa bisa sama kamu?" tanya Shaina bertubi-tubi
"Datanglah sekarang ke Surabaya kerumah Bu Annisa dan Pak Alfath, sekarang juga. Ada hal penting.." ucap Rio
"Pak Alfath meninggal.. saya tidak bisa memberitahu Umi juga Papa, karena takut kaget..." lanjut Rio dengan sangat hati-hati
"APAAAAA????" teriak Shaina terdengar begitu jelas
"Enggak enggak mungkin, gak mungkin kak Alfath meninggal!!! Kak Alfath kan sehat-sehat ajaaaa" ucap Shaina dengan cepat, masih tak percaya
"Kabar ini benar! Bantu saya untuk menghubungi semua keluarga kamu yaaa, dan cepatlah datang untuk kakak mu.." jawab Alfath
"Kalau ini bercanda tidak lucu!!!" ucap Shaina sebelum mematikan ponselnya
Shaina langsung menghubungi semua keluarganya, yang juga tidak percaya. Ia langsung mengambil penerbangan khusus dari Turkey karena kebetulan ia memang berada dirumah suaminya. Ia memberi tahu Umi juga Papa, ia memberitahu lewat Papa yang ia rasa cukup tegar. Semua keluarga dari Inggris ada sebagian yang ikut, untung saja keluarga Alfath ada yang bekerja di Bandara jadi bisa langsung menyiapkan pesawat dengan cepat untuk penerbangan ke Indonesia, dan langsung ke Surabaya.
__ADS_1