
Alfath langsung memutuskan untuk segera pulang, karena suasana hati Nisa yang mulai tak karuan setelah mendengar ucapan Valerie tadi. Begitu juga dengan Umma dan Aba karena sudah lelah jadi ikut pulang bersama Alfath juga Nisa.
Sesampainya dirumah, Alfath dan Nisa masuk kedalam kamarnya begitu juga dengan Umma dan Aba.
Nisa yang merasa kegerahan langsung membuka jilbabnya dengan langsung merebahkan tubuhnya dikasur, sementara Alfath membuka dulu jas dan kemeja rapinya itu, dan mengganti dengan kaos lengan pendek dan celana pendek juga, lalu mengikuti istrinya merebahkan tubuhnya.
"Sayang kamu pasti bete yaaa gara-gara ucapan Valerie tadi.." ucap Alfath tiba-tiba
"Aku hanya tidak suka, kenapa dia bisa berkata begitu" jawab Nisa berkaca-kaca
"Mungkin karena emang akunya aja gak bisa jaga kehamilan ini.." lanjut Nisa
"Jangan bilang gitu sayang. Ini hanya ujian buat kita, tapi Allah juga anugerahkan kamu kekuatan makanya bisa bertahan sejauh ini, dan membuat kita bisa lebih dekat dengan Allah" ucap Alfath menguatkan, sembari memeluk erat tubuh istrinya dan mengelus lembut rambut yang tergerai itu
------------------
Hari terus berlalu, berganti hari. Kehamilan yang semakin matang, dan siap untuk hari kelahiran yang sudah ditunggu-tunggupun sudah tiba, tinggal menunggu sedikit lagi.
Umma yang sengaja tinggal di Surabaya untuk menemani anak bungsunya itu untuk lahiran, sementara Aba sudah kembali ke ponpes karena beberapa urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Begitu juga dengan keluarga Alfath, Umi dan Papa masih berada di Surabaya dan tinggal di Apartemen milik Papa, sementara Shaina sudah pulang dan ikut dengan suaminya itu.
Ini adalah hari sabtu, hari weekend, hari dimana semua bersantai dirumah. Sedari tadi pagi Nisa merasakan mules-mules kecil, dan masih ia tahan. Nisa ditemani Alfath berjalan-jalan kecil dihalaman belakang rumahnya, dirumput hijau yang lembut.
Sementara Umma sedang membantu Mbok Iyem memasak untuk makan siang.
Tiba-tiba Umma menghampiri Alfath dan Nisa yang sedang berada dihalaman belakang itu, dengan membawakan sepiring camilan kesukaan Nisa yaitu Risol Smoked Beef saus mayonais, dan teh hijau. Nisa dan Alfath kemudian langsung menikmati bersama Umma, sembari mengobrol obrolan ringan.
__ADS_1
Tiba-tiba Nisa ingin ke toilet untuk buang air kecil, dengan sigap Alfath mengantarnya sampai masuk kedalam toilet, dan Alfath kembali untuk menunggu diluar.
Nisa begitu kaget melihat lendir bercampur darah sudah mengalir ke kakinya, dengan cepat ia berteriak.
"Maaaasss...." teriak Nisa spontan
"Kenapa sayang?" ucap Alfath dengan terburu-buru masuk kedalam toilet
"Lihatlah.." ucap Nisa menunjukan lendir bercampur darah itu
"Ya allah... apa kau akan melahirkan.." ucap Alfath dengan panik
"Ayooo kita ke rumah sakit" tambah Alfath langsung
Nisa segera memasang cadarnya, dan berjalan perlahan kearah luar hendak menaiki mobil, begitu juga Umma mengikuti Nisa dengan membawa tas berisi persiapan bersalin milik Nisa. Umma terlihat begitu tenang, karena ia sudah beberapa kali mengantar anaknya yang lain bersalin.
"Waaah ini sih bisa bersalin normal..." ucap Dokter
"Udah sering belum bu rasa mulesnya?" tanya dokter lagi
"Mules sih sedari tadi pagi terasa dok... Tapi memang tidak begitu sakit" jawab Nisa masih dengan santai
"Oh begitu. Ini sudah keluar lendir campur darah, saya cek pembukaannya ya bu.." ucap dokter sembari memasang handscoone
Didalam ruangan Nisa ditemani oleh Umma juga Alfath suaminya.
__ADS_1
"Ini pembukaannya baru 2 Bu.. Tapi ini sudah banyak keluar lendir, sepertinya tidak akan lama lagi" ucap dokter setelah melakukan pemeriksaannya
"Saya kasih obat perangsang saja ya Bu.." lanjut ucap dokter itu, lalu memberikan sebutir obat pada Nisa
Nisa menelan obat itu, kemudian meneguk segelas air mineral.
"Ya sudah biar tidak bolak balik ke rumah sakit, takutnya melahirkan perjalanan lebih baik Ibu dan Bapak tinggal dulu disini saja" ucap Dokter memberi penjelasan
"Baik dok... Terimakasih.." ucap Alfath
Lalu dokter itu meninggalkan Nisa dan Alfath dalam ruangan. Nisa masih berbaring diatas bed, ia mulai merasakan kontraksi sedikit lebih sakit dari pada tadi.
"Bissmillah.. Nisa pasti kuat yaaa.." ucap Umma dengan membelai puncak kepala Nisa
"Doakan Nisa ya Umma.." ucap Nisa dengan perasaan begitu dagdigdug tak karuan
"Iya sayang.. Doa Umma selalu untuk Nisa.." jawab Umma cepat
Alfath yang juga sama merasakan dagdigdug hanya bisa terus menyebut asma Allah, mulutnya tak henti berdzikir.
Umma merapikan barang-barang yang ia bawa untuk perlengkapan bayi juga bersalin Nisa didalam lemari agar mudah untuk diambil saat akan digunakan.
Persalinan Nisa terbilang sangat lambat, rasa sakit kontraksi yang semakin sakitpun mulai dirasakan oleh Nisa. Waktu menunjukan pukul 6 sore, setelah magrib Dokter kembali datang untuk memeriksa pembukaan Nisa.
"Pembukaannya baru bertambah 2, menjadi 4. Kemungkinan akan lahir jam 9 malam ya Bu.." ucap dokter sembari memberi lagi obat pada Nisa
__ADS_1
Nisa mulai berjalan-jalan kecil dalam ruangan, rasa sakit kontraksi yang semakin sakit begitu jelas terasa. Dengan sabar Alfath menemani setiap langkah Nisa, lantunan dzikir dari mulut Alfath dan Nisa begitu jelas terdengar mereka lantunkan secara bersama-sama.
Sementara Umma sedang kembali kerumah untuk menyiapkan makanan untuk Alfath juga Nisa, dan akan datang kembali bersama Umi juga Papa.