
Umi kembali kedalam ruangan makan malam itu, semua mata tertuju pada Umi ketika membuka pintu ruangan itu. Ternyata keluarga Kivilceem sudah akan pulang, dan menunggu Umi untuk sekedar berpamitan. Setelah Umi kembali duduk disamping Shaina, tak lama keluarga Kivilceem berpamitan lalu meninggalkan ruangan hotel itu dan kembali ke hotel yang mereka tempati.
Sementara Papa juga Shaina sebenarnya sudah menyadari tidak adanya Alfath juga Nisa sedari tadi.
"Umi, dimana Alfath dan Annisa?" tanya Papa sebelum keluar dari ruang makan itu
"Iya Umi, kemana mereka? Kok tidak menunggu sampai acara ini selesai sih..." ucap Shaina dengan raut wajah sedikit kesal
"Umi ceritakan nanti. Kita berganti pakaian dulu ke kamar hotel saja yuu.." jawab Umi masih menyembunyikan kecemasannya
Sementara Di Klinik, tepar di depan ruang UGD Alfath masih terduduk dilantai, dengan wajah yang ia topang dengan tangannya. Tiba-tiba seorang Suster keluar dari balik pintu UGD, membuat Alfath terkaget dan membangkitkan tubuhnya seketika.
"Bagaimana keadaan istri juga anak saya sus?" tanya Alfath dengan cepat
"Istri Bapak masih ditangani oleh dokter.." jawab sang suster dengan cepat
"Saya mau minta persetujuan tindakan dokter, Pak..." lanjutnya sembari memberikan secarik kertas dan pulpen pada Alfath
Alfath begitu kaget ketika melihat isi persetujuannya itu. Persetujuan itu bertuliskan tentang tindakan dokter yang akan mengambil tindakan menyelamatkan salah satu dari pasien bila keadaan sudah tidak memungkinkan.
"Sus... kenapa harus seperti ini? Apa tidak bisa diselamatkan keduanya?" Ucap Alfath sedikit berteriak
"Maaf Pak, ini hanya perjanjian saja. Agar bila mana nanti terjadi yang tidak kita semua inginkan pihak pasien tidak akan menuntut pihak dokter juga klinik ini" jawab Sang Suster itu menjelaskan
"Dokter kami tetap akan bekerja semaksimal mungkin, dan berusaha untuk menyelamatkan keduanya pastinya. Semua itu atas izin Allah, Pak..." lanjut sang suster
__ADS_1
Alfath dengan sangat lemas terpaksa menandatangi secarik kertas persetujuannya itu. Wajah Alfath tambah lesu, ia begitu takut akan kehilangan salah satu antara istri atau anaknya itu. Alfath mengepalkan tangannya dan menempelkannya ditembok lalu menempelkan dahinya.
"Astagfirullah..." ucap Alfath sembari kembali isak tangis terdengar dari mulutnya
Tak lama kemudian, Umi, Papa dan Shaina tiba di klinik dan langsung berlari ke arah Alfath berada, yaitu didepan UGD.
Terlihat jelas putra laki-laki yang selama ini tidak pernah terlihat lemah dihadapan kedua orangtua dan keluarganya itu, kini terlihat jelas, hatinya sedang sangat lemah, jiwanya tak karuan. Dengan cepat Papa menghampiri Alfath dan menepuk pundak anaknya itu.
"Al.. Allah bless you" ucap Papa menguatkan
"Ya Pa.. Iyaaa" ucap Alfath sembari mengangguk lalu memeluk erat tubuh Papanya itu yang kini sudah semakin tua tapi tinggi sejajar dengannya, dan pecahlah tangis Alfath
"Allah tidak akan membiarkan kamu kehilangan mereka.." ucap Papa berbisik pada telinga Alfath dengan lembut
Umi dan Shaina tak bisa berkata-kata ketika melihat laki-laki yang selama ini selalu menjadi orang tegar, tiba-tiba menangis hingga tak tertahankan.
"Sabar... nak" jawab Umi sembari memberi sentuhan halus pada anaknya itu, dengan menghapus air mata yang jatuh dipipi anaknya itu
"Insya Allah Umi.." ucap Alfath sembari mengangguk dan memaksakan senyum dari bibirnya
"Brooo.. kamu orang baik, Allah sayang kamu" ucap Shaina sembari memeluk kakanya dengan mata yang juga ikut berkaca-kaca, seolah menguatkan kakanya itu
"Iya... iyaaa" jawab Alfath terbata-bata
Alfath kembali menunggu, dengan duduk bersama Umi, Papa, juga adiknya itu di kursi tunggu depan UGD.
__ADS_1
Hingga waktu semakin larut, angin malam sudah begitu jelas terasa. Waktu menunjukan pukul 11.30 malam. Shaina yang kelelahan memejamkan matanya dibahu sang Ibu, sementara Papa duduk bersampingan dengan putranya itu sembari terus menguatkan, tangannya tak henti-henti menggenggam tangan anaknya itu.
Tak lama dokter dan 2 orang suster keluar dari ruang UGD, Alfath dan Papa dengan cepat menghampiri.
"Bagaimana keadaan istri juga anak saya dokter?" tanya Alfath dengan cepat
"Iya bagaimana keadaan menantu juga calon cucuku?" tanya Papa juga dengan tak sabar
Sementara Umi membangunkan dulu Shaina lalu berjalan mengikuti dibelakang Alfath juga Papa.
"Alhamdulillah, keduannya selamat.." ucap sang dokter dengan menebar senyum lebarnya
"Alhamdulillah..." ucap semua bersama-sama
"Istri anda begitu luar biasa, Pak. Beliau sangat kuat. Berterimakasihlah padanya" ucap Dokter dengan menepuk pundak Alfath
Semua begitu tak mengerti dengan ucapan sang dokter, membuat semuanya bertanya-tanya. Tapi sayang Dokter itu sudah berlalu dan meninggalkan Alfath juga keluarganya, hanya tersisa 2 orang suster yang berada dibelakang dokter tadi.
"Begini Pak, Bu..." ucap seorang suster akan menjelaskan
"Tadi sebenarnya Bu Annisa yang sudah sangat kesakitan, dan bayi yang memaksa untuk keluar tapi karena belum waktunya lahir jadi tidak bisa keluar, dan Bu Annisa menahan sakit yang luar biasa. Saat dokter akan mengambil tindakan untuk operasi sesar, tapi Bu Annisa menolak" lanjutnya menceritakan
"Bu Annisa memilih menahan sakit itu, dan diberi obat saja agar tidak terjadi kelahiran prematur" ucap seorang suster satunya lagi
"Dan Alhamdulillah sekarang keadaannya sudah membaik, rasa sakitnya sudah berkurang dan Bu Annisa sekarang sedang beristirahat" lanjutnya dengan panjang lebar
__ADS_1
Semua begitu merasa lega dengan kabar ini. Alfath lagi-lagi meneteskan air matanya, karena begitu bahagia mendengarnya
"Kapan bisa kami temui istri saya, sus?" tanya Alfath