
Saat Nisa dan Alfath sampai dimana Umi dan Papa sudah menunggu, ternyata barang bawaan mereka sudah dimasukan kepetugas untuk diperiksa. Mereka tinggal menunggu keberangkatan pesawat.
"Nis, apa kamu benar-benar sehat?" ucap Umi sembari memegang bahu Nisa
"Nisa tidak apa-apa Umi. Mungkin hanya kecapean" jawab Nisa dengan lembut
"Apa kita batalkan dulu saja untuk pulang ke Surabaya sekarang? Istirahatlah dulu di Apartement Al" ucap Papa mengkhawatirkan Nisa
"gak usah Pa, kita langsung saja. Kasian Mas Alfath banyak pekerjaan yang sudah menunggu" jawab Nisa
"Nisa sehat kok" lanjut Nisa meyakinkan
Akhirnya pesawat mereka sudah siap, semua penumpang sudah masuk dalam pesawat. Ini pertama kalinya Nisa naik pesawat lagi setelah lama ia tak naik pesawat sepulang ia kuliah dulu dan masih dalam perjalanan dalam negara.
Nisa sangat ketakutan, kakinya gementar, tangannya yang dingin menggenggam erat tangan Alfath.
Alfath sangat merasakan ketakutan itu, Nisa yang panikpun sangat terlihat jelas oleh Alfath.
"tenang ya sayang. kita akan baik-baik saja. Ayo mulai berdzikir, dan baca doa naik kendaraan" ucap Alfath pelan, berbisik pada Nisa
"iya mas" jawab Nisa sembari menghembuskan nafasnya yang berat
Pesawatpun sudah mulai berjalan, menaik sedikit demi sedikit, suara bising pesawatpun mulai terdengar, Nisa semakin panik, dzikirnya semakin terdengar oleh Alfath yang duduk disampingnya.
"Sayang, coba deh relax. liat keluar, sekarang kita sedang di atas awan" ucap Alfath mencoba menenangkan Nisa
"iya mas" jawab Nisa sembari terus memegangi tangan Alfath tetapi melihat keluar jendela
__ADS_1
Nisa mencoba menikmati perjalanannya, ini kali pertama lagi ia naik pesawat setelah sekian lama ia terakhir pulang dari Khairo dulu.
Nisa meminum obat masuk angin yang ia beli tadi supaya tidak mual lagi.
"Mas, ini pertama kali aku naik pesawat lagi setelah sekian lamaaa" ucap Nisa pada Alfath
"nanti kamu akan terbiasa naik pesawat, untuk menemani perjalananku" jawab Alfath sembari tersenyum
Setelah mengobrol dengan Nisa, Alfath menyalakan HP nya yang di mode pesawatkan itu, dan memasang earphone dan menyalakan mp3 berisi murotal Al-qur'an lalu mendengarkannya melalui earphone.
Sedangkan Nisa yang sedang mabuk perjalanan tertidur setelah berdzikir terus menerus.
Setelah 1 jam perjalanan, pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Juanda Surabaya.
Nisa yang masih sempoyongan akibat mabuk perjalanan, lagi-lagi merasa tak kuat untuk menahan mualnya. Sebelum turun dari pesawat, Nisa masuk kedalam toilet ditemani oleh Alfath.
"ya sudah kita kedokter ya kalau begitu" jawab Alfath begitu khawatir
"Gak usah mas, aku pengen cepet sampe rumah saja. Aku hanya perlu istirahat kayaknya" Ucap Nisa
"Dan ini kali pertama lagi aku naik pesawat dan perjalanan dalam kota, makanya sampai mabuk perjalanan begini" jelas Nisa karena takut dibilang gampang mabuk perjalanan
"Iya kali ya, kasian kamu sayang. Apa mau kita makan siang dulu?" tanya Alfath menawarkan
"Aku kepengen makan bakso mas, biar segar sehabis perjalanan begini" ucap Nisa, lagi-lagi merengek seperti anak kecil
"boleh tuh, Umi juga sudah lama tidak makan bakso" ucap Umi mengiyakan
__ADS_1
"ya sudah kita ke tempat makan dulu saja" ucap Papa mengiyakan
Mereka sampai disebuah restoran yang cukup terkenal dengan baksonya, tapi restoran itu tidak hanya menjual bakso juga menjual berbagai macam makanan khas Surabaya dan makanan umum lainnya.
Alfath memesankan 3 porsi bakso, dan 2 porsi nasi dengan lauknya.
"kok baksonya cuma 3 mas?" tanya Nisa heran
"iya papa gak suka bakso" jawab Alfath dengan santai dan memberikan 1 porsi Nasi dengan lauk yang ia pilihkan untuk papa
"oh gitu" jawab Nisa pada Alfath
"maaf ya Papa jadi harus makan ditempat bakso gini, padahal papa gak suka" ucap Nisa pada Papa mertuanya itu
"tidak apa-apa Nisa, kan ada makanan yang lain juga ini" jawab Papa sembari melahap makanannya
Nisa yang memakan bakso dengan kuah yang ia beri sambal sangat menikmatinya. Entah kenapa Nisa juga heran dengan dirinya sendiri, kok punya keinginan yang harus diikuti, padahal sebelumnya tidak pernah punya keinginan yang harus langsung dituruti pikir Nisa
"makan juga nasi ini, kamu sudah muntah berkali-kali dan pasti tidak ada makanan diperut mu." ucap Alfath sembari menyuapi Nisa
"makan bakso saja cukup mas" jawab Nisa karena tidak ingin Nasi
"ayooo sedikit saja" paksa Alfath yang tetap menyodorkan sendok untuk menyuapi Nisa
"sini aku makan sendiri saja mas. Aku malu" jawab Nisa
"Ayo cepat buka mulut muuu, aaaaa" ucap Alfath tidak menghiraukan Nisa
__ADS_1
Umi dan Papa yang melihatnya lalu tertawa kecil