
"Oma juga tidak melarang istri Alfath sebagai muslimah, tapi tolong buka cadar mu biar oma dapat mengenal wajah mu dengan baik" ucap Oma sembari terus meneteskan air matanya
Semua keluarga yang hadir seketika hening, melihat Oma yang menangis, dan ingin mendengarkan percakapan Oma sebenarnya, tapi tak bisa karena suara lemahnya tak begitu kencang, sementara disana adalah alam terbuka.
Nisa dan Alfath saling pandang, Nisa sangat tersinggung dengan ini, Nisa jadi bingung harus bagaimana, tidak pernah ia membuka cadarnya dihadapan orang banyak yang bukan makhromnya. Nisa menangis, meneteskan air mata, lalu berlutut didepan Oma disamping Alfath.
"Oma, saya seorang muslimah. Saya sudah menutup wajah saya agar tidak dilihat orang yang bukan makhrom saya sejak umur saya 10 tahun. Maaf bukan saya tak mau, hanya sajaaa" ucap Nisa dengan tangan memegang lutut Oma, suara lirihnya menjadi tersedu-sedu
Alfath mencoba menenangkan Nisa, dengan mengelus punggung Nisa.
"Oma, Al mohon" ucap Alfath yang juga memohon
Oma seketika menghentikan tangisnya, mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia pegang.
"Oma minta maaf pada kamu, Annisa. Oma berterimakasih kamu sudah mencintai cucuku dengan tulus menerima semua kekurangannya" ucap Oma mengagetkan
"Omaaa" Nisa tak dapat menjawab apa-apa
Lalu Oma menarik tangan perlahan seyara memeluknya.
"Maafkan saya, saya mengerti dengan kewajiban kamu pada agama mu" ucap Oma lalu tersenyum
Oma yang memang bukan Muslim dan masih menganut agamanya sejak lahir itu sangat mengerti karena ia juga begitu sangat taat pada Tuhannya.
__ADS_1
Alfath dan Nisa begitu merasa sangat lega dengan ucapan Oma itu, begitu juga dengan Papa. Papa langsung memeluk Oma, bergantian setelah Oma memeluk Nisa.
"Mamaaaa, Thankyou" ucap Papa dengan haru
Oma hanya mengangguk. Lalu membiarkan keluarga Swain itu untuk bergabung dengan semua keluarga lain, yang sedang menikmati hidangan pembuka.
Nisa menghapus air matanya dan mengikuti langkah kaki Alfath sembari terus digandengnya.
Alfath lalu menuju kursi dimana banyak sepupunya duduk disana.
Dengan bangganya Alfath mengenalkan Nisa istrinya pada mereka semua.
Berbagai macam ekspresi ditunjukannya, ada yang biasa aja, ada yang excited, dan ada yang bahkan mengabaikan.
Hanya saja pasangan mereka yang tidak menghormati keberadaan Nisa.
Nisa pamit untuk ke toilet dulu, diantar oleh Shaina masuk kedalam rumah Oma. Setelah menunjukan jalan ke toilet Shaina meninggalkan Nisa, untuk masuk kedalam dapur untuk mengambil makanan yang ia sukai lagi.
Toilet itu seperti toilet umum layaknya dalam Mall, ruangannya dibagi beberapa bilik kecil dan diruang luarnya terdapat wastafel juga kaca yang sangat besar.
Nisa hendak mencuci tangannya setelah dari toilet tadi. Tiba-tiba ada seorang wanita bule salah satu istri dari sepupu Alfath.
"Alfath seharunya sangat menyesal menikahi wanita berpenampila seperti mu. Apa yang ia lihat dari tubuh mu? kamu tidak tinggi, wajah mu tertutup karena malu kalau wajah mu tak cantik bukan?" ucapnya sembari mencuci wajahnya
__ADS_1
Nisa hanya terdiam, tak menjawab sepatah katapun. Nisa dengan cepat meninggalkannya dalam toilet.
"Permisi" ucap Nisa sembari berlari
Wanita bule itu lalu tersenyum sinis melihat kepergian Nisa. Sementara diluar, Shaina yang sudah kembali dari dapur untuk mencari Nisa lagi, begitu kaget melihat Nisa yang berlari sembari mengusap air matanya.
"Kak Nisa tunggu" ucap Shaina sembari mengejar Nisa
"Kak Nisa" ucap Shaina setelah dapat mengejar Nisa lalu menahanya sebentar didepan pintu keluar kembali ke outdoor.
"Kakak kenapa?" ucap Shaina sembari memandangi wajah Nisa
"Aku ingin cepat pulang" jawab Nisa sembari menghapus air matanya
"Kakak kenapa? Ada apa? Cerita" ucap Shaina menahan
Nisa tak kuasa menahan tangisnya, lalu memeluk tubuh Shaina melekungkan tangannya dipundak Shaina.
"Kak Nisa tenang dulu yaaa, Apa ada yang menghina kakak? Apa ada yang berbuat tak enak pada kakak?" tanya Shaina tanpa jeda
Nisa menganggukan kepalanya seraya mengiyakan
"Mungkin kehadiran ku sangat tidak diharapkan" ucap Nisa lalu menghapus air matanya sembari melepaskan pelukannya
__ADS_1