Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 96


__ADS_3

Anna telah mendapat kabar dari orang tuanya bahwa Rafael telah memutuskan pertunangan mereka. Karena masalah itulah, dia dipaksa pulang oleh orang tuanya.


Alfaro yang memang sudah mencintai Anna sejak lama, kini memiliki kesempatan untuk kembali memperjuangkan perasaannya.


“Kamu sudah tahu kalau Rafael hanya mencintai istrinya, dia hanya memiliki satu hati yang selalu dijaganya. Sama seperti aku yang selalu mencintai satu wanita dan sulit sekali menghilangkan cinta itu.”


Anna menoleh pada laki-laki yang merupakan mantan calon kakak iparnya. Laki-laki itu pernah menyatakan perasaannya beberapa tahun lalu. Namun, sama seperti Rafael yang sulit mencintainya, Anna pun merasakan hal yang sama terhadap Alfaro.


“Aku tahu. Aku mencinta El dengan cara yang bodoh. Aku melakukan segala cara untuk menjadikan dia milikku. Aku memanfaatkan rasa putus asanya setelah kehilangan Melinda. Aku berhasil menjadi tunangannya. Tapi, aku terlalu naif.”


Anna tidak bisa menahan lagi air mata yang sedari tadi dia tahan. Rasa sesak di dadanya membuat Anna kesulitan menahan emosinya. Dia sudah kehilangan harapan atas laki-laki yang sangat dicintainya. Bahkan, menjadi yang kedua pun dia tidak memiliki kesempatan.


“Menangislah. Keluarkan semua rasa kecewa dan sedihmu, Anna.” Alfaro menyodorkan kotak tisu yang ada di mobilnya pada Anna.

__ADS_1


Anna menerima kotak tisu itu dan menghapus air matanya perlahan. “Aku pikir dengan menjadi tunangannya, aku bisa tenang dan tidak perlu lagi takut kehilangannya. Tapi, aku salah, Kak. Dia menikah dengan wanita lain saat aku membiarkannya bebas tanpa kekangan. Aku sudah kehilangan dia.”


Tangisan Anna kian pecah. Suaranya yang tergugu menciptakan rasa sakit di hati Alfaro. Melihat wanita yang dicintainya sejak lama kini menangisi cinta sebelah tangan pada adiknya sendiri.


“Kalau kamu butuh tempat untuk bersandar, bahuku selalu siap untukmu, Anna.”


Anna menerima tawaran Alfaro itu. Dia menyadarkan kepalanya di bahu Alfaro dan menumpahkan seluruh rasa sedihnya lewat air mata.


Anna semakin menangis tersedu. Dia merasa bodoh karena malah mengabaikan Alfaro yang tulus mencintainya.


Gadis itu meminta waktu pada Alfaro untuk menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Dia masih butuh waktu untuk menata hatinya yang telah hancur berkeping-keping. Anna memutuskan untuk pulang pada orang tuanya, sambil mempersiapkan diri untuk membuka hati.


Setelah mengantar Anna ke bandara, Alfaro menemui orang tuanya. Dia ingin membahas beberapa masalah yang muncul setelah kepergian Rafael. Dia memasuki rumah megah bagai istana yang menjadi simbol kejayaan bisnis keluarga Hartono.

__ADS_1


Saat Alfaro memasuki rumah itu, mamanya sedang menangis, sedangkan papanya menatap selembar kertas dengan logo rumah sakit mereka di bagian atasnya.


“Ma, Pa. Ada apa?” tanya Alfaro bingung. Dia duduk di samping mamanya dan Syana langsung memeluk putra pertamanya itu. “Ada apa, Ma?” ulangnya yang masih bingung.


“Mama akan mati, Al. Hidup Mama tidak akan lama lagi,” jawab Syana masih dengan tangisannya.


Alfaro mematung saat mendengar itu. Dia menatap papanya bingung, sedangkan Syana semakin erat memeluknya. “Kenapa Mama ngomong begitu? Mama sakit apa?”


Arya Hartono menyerahkan selembar kertas berisi laporan tes yang telah dijalani Syana pada Alfaro. Kakak Rafael itu lalu membaca dengan teliti setiap kata yang tertulis di sana.


“Mama terkena kanker serviks? Kok bisa, Ma?”


kembang kopi sama Votenya jangan lupa biar aku bisa semangatp 3 bab hari ini 😍

__ADS_1


__ADS_2