
Melinda merasakan jantungnya berdebar dengan keras. Dia tidak mungkin mengakui kebohongan itu apalagi di hadapan Alisha yang tadinya dia anggap lemah.
"Kamu bisa tes DNA setelah anak ini lahir Alisha. Aku tidak mau membahayakan buah cintaku bersama Mas Rafa." Melinda mengusap perutnya dengan mimik sedih. Dia berperan seperti ibu yang sangat menyayangi bayinya, berharap Alisha bisa terbawa perasaan dan menunda tes DNA itu.
"Kalau begitu pergilah sekarang! Kamu bisa kembali setelah anakmu lahir," balas Alisha dengan santai. "Lagipula, itu bukan anakku. Mau berbahaya atau tidak itu bukan urusanku. Kamu sendiri yang cari penyakit dengan menuduh suamiku, sekarang buktikan dan tanggung sendiri akibatnya!"
Melinda mulai kesal karena Alisha tidak tidak memiliki perasaan. Wanita itu lalu berdiri dan menerima tantangan Alisha. "Oke, kita buktikan sekarang!"
Tatapan Melinda penuh kebencian pada Alisha. Dia tidak mau terlihat kalah begitu saja. Setidaknya, masih ada waktu untuk menyabotase hasil tes DNA itu.
***
***
__ADS_1
Setelah berhasil membawa Melinda ke rumah sakit, Alisha menghubungi Rafael untuk melakukan tes DNA atas bayi yang dikandung mantannya itu. Saat ini, Rafael baru keluar dari ruangan setelah sampel darahnya diambil untuk pemeriksaan.
"Setelah hasilnya keluar, kita akan tahu bahwa aku tidak bersalah." Rafael duduk di sebelah Alisha. Dia memperhatikan Alisha yang tenang dan sama sekali tidak terpengaruh oleh Melinda.
"Wanita tidak mungkin menuduh tanpa alasan yang berdasar. Memang laki-laki sama saja, di mana pun ada irisan kiwi, di situlah naga sakti beraksi." Alisha berdiri dari kursi lalu menghampiri Melinda yang keluar bersama dokter dan beberapa perawat rumah sakit yang memeriksa Melinda.
"Hasilnya akan keluar dua sampai empat minggu lagi. Kami akan menghubungi Nyonya, jika hasilnya sudah keluar," kata dokter itu.
"Kami mohon maaf Tuan, tetapi kami tidak bisa mempercepatnya untuk hasil yang akurat," jawab sang dokter.
"Tuan, kalau diperlukan, saya akan memperketat pengawasan di rumah sakit untuk berjaga agar hasilnya tidak bisa disabotase," kata Felix yang langsung tanggap.
"Dia juga harus diamankan dengan pengawasan ketat," sahut Alisha sambil menatap Melinda dengan curiga.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyabotase, kalian tidak usah takut!" Melinda mendengus kesal karena dicurigai oleh Felix dan Alisha. Dia harus memikirkan cara lain sekarang.
"Bawa dia ke apartemenku dan kurung di sana dengan beberapa pengawal!" ucap Rafael dengan tegas.
Melinda semakin tersudut. Dia tidak bisa berkutik lagi sekarang. Bahkan, Rafael pun ikut mengawasinya.
"Aku tidak akan menyabotase hasil tes ini, tapi apa kamu yakin, suamimu tidak akan menyabotasenya?" tanya Melinda masih berusaha mempengaruhi pikiran Alisha. Berhasil atau tidaknya, Melinda yakin sedikit banyak pasti omongannya itu akan membuat Alisha turut curiga pada Rafael.
Alisha berjalan semakin dekat dengan Melinda hingga wanita itu berjalan mundur dan menabrak dinding rumah sakit. Alisha pun menyeringai. "Apa kamu mau aku sendiri yang menguji DNA itu? Aku tidak bodoh Melinda. Pikirkan saja bagaimana nasibmu setelah ini!" Alisha menepuk pundak Melinda dua kali, lalu dia menatap Felix seolah tengah memberi kode.
"Felix, urus semuanya! Aku akan pulang bersama istriku," ucap Rafael.
Kembang kopinya yang banyak 💋
__ADS_1