
Setelah dari restoran milik Fia, Alisha mengajak Rafael untuk jalan-jalan ke mal. Jika dipikir-pikir, mereka memang belum pernah jalan berdua sejak menikah apalagi setelah Alisha bisa berjalan lagi. Rafael pun mengiyakan permintaan istrinya itu dan mereka menuju salah satu pusat perbelanjaan.
Mereka akhirnya sampai di mal. Alisha berjalan di depan Rafael, seakan ingin berlari mengelilingi seluruh stand di mal itu. Ia seperti kupu-kupu yang bisa merasakan lagi kepakan sayapnya. Meski sedikit terlambat, Alisha ingin merayakan hari ini dengan berjalan sepuasnya karena kemarin-kemarin terlalu sibuk dengan urusan perusahaan.
Rafael mengikuti Alisha di belakang, karena dia sendiri ingin memberi sedikit kebebasan pada istrinya itu.
Penampilan Alisha yang menawan membuat mata para lelaki yang melihatnya menatap kagum pada wanita itu. Yang mereka lihat, Alisha berjalan sendirian dan terlihat riang membuat para pria itu tertarik mengikuti langkah Alisha.
Kejadian itu tentu saja membuat Rafael geram. Dia berjalan cepat menerobos pria-pria di belakang Alisha.
"Hei, santai dong! Main serobot aja!" protes salah seorang dari kerumunan laki-laki itu.
Rafael melepas maskernya, tidak peduli lagi dengan jerawat yang sudah membuatnya kesal itu. Beberapa dari mereka yang sadar siapa Rafael, langsung menghentikan langkahnya. Sebagaian lagi mengumpat kesal melihat wajah tampan Rafael.
__ADS_1
Suami Alisha itu akhirnya merangkul pinggang Alisha dengan erat, seakan memamerkan bahwa wanita yang mereka kejar itu adalah miliknya.
"Kenapa peluknya erat banget sih, aku mau jalan sendiri, Mas." Alisha melayangkan tatapan kesalnya pada sang suami.
Rafael kembali melirik ke belakang. "Lihatlah banyak yang mengincarmu gara-gara berpakaian seeksi begini. Kamu harus pakai yang lebih seeksi dari ini!" Dia mendongak dan mencari sesuatu.
Sampai akhirnya, mata Rafael menemukan sesuatu yang dia cari dan akhirnya menarik istrinya untuk naik eskalator menuju lantai dua. Alisha masih bingung dan tidak menduga apa yang sedang suaminya itu cari.
Mata Alisha membulat sempurna saat Rafael mengajaknya masuk ke salah satu toko yang menjual pakaian dinas malam khusus para istri. Berbagai model dan warna memenuhi toko khusus itu.
"Ya, karena kamu tidak punya pakaian yang seperti ini," jawab Rafael sambil memegang sebuah kain tipis menerawang yang dipasang pada manekin toko.
"Hah? Serius?" Alisha paham baju apa yang sedang diinginkan suaminya itu.
__ADS_1
"Serius Kiwiku Sayang. Kamu boleh beli semua yang kamu mau, asal pakainya di kamar kita aja, tidak boleh keluar kamar," kata Rafael sambil mengulum senyum nakal, matanya sengaja dikedipkan sebelah untuk menggoda Alisha.
Wanita cantik itu justru membalasnya dengan tatapan protes. "Untuk apa pakai seperti ini kalau pada akhirnya akan kamu lepas, Mas?" tanyanya yang terdengar begitu polos.
"Ya memang nantinya aku lepas dan aku cabik-cabik, tapi dengan memakai itu, aku yakin tubuhmu yang seeksi itu akan semakin membuatku terbakar," jawab Rafael tak mau kalah. "Pokoknya kamu beli, paling tidak beli sepuluh jenis berbeda, aku tunggu di sana!"
Rafael dengan cepat meninggalkan Alisha yang masih belum setuju dengan keinginannya itu. Sementara istrinya, hanya bisa mendengus kesal dan berjalan gontai menuju deretan baju minim bahan itu.
"Apa coba yang mau ditutupi dari pakaian kayak gini? Bukankah sekali genggam saja langsung robek?" Alisha bermonolog dengan pakaian warna merah yang kini dipegangnya.
"Itu produk terbaru kami, Kak. Kalau dipakai Kakak pasti bagus banget. Sempurna dengan kulit Kakak yang putih bersih," ucap salah seorang pramuniaga yang bekerja di toko itu.
"Mbak lagi bayangin saya pakai baju ini?" tanya Alisha yang sedang melampiaskan kekesalannya pada gadis cantik di sampingnya.
__ADS_1
Kembang kopinya banyakin dulu kalau mau part anuยฒ ๐๐