Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 49


__ADS_3

Karena diusir Alisha, Rafael akhirnya tidur di sofa. Dia mengalah karena masih ragu apa harus menceritakan pada Alisha atau tidak. Meski perusahaan itu adalah milik istrinya, tapi Rafael dengan keegoisannya tidak mau dianggap gagal. Seorang pengusaha hebat tidak mampu mengurus perusahaan istrinya? Memalukan sekali bukan?


Laki-laki itu tidak akan bisa tidur dengan tenang karena menunggu istrinya tertidur pulas. Matanya terfokus pada dua buah pir menggoda milik Alisha. Satu sedang dihisap oleh Shaka yang masih bermain dengan wajah ibunya.


“Daddy mau juga dong, Ka,” kata Rafael sambil menatap putranya dengan wajah memelas. Jakunnya sampai naik turun membayangkan nikmatnya bermain dengan benda kenyal itu.


Shaka menoleh pada Rafael. Tersenyum ganteng menampilkan dua pasang giginya yang kecil. Karena ulah Shaka itu, ujung buah pir Alisha yang berwarna coklat jadi terlihat jelas.


Tidak tahan lagi, Rafael naik ke kasur, mendekati Shaka dan menggelitiki putranya itu. “Pintar meledek daddy ya sekarang,” kata Rafael sambil menciumi kedua pipi gembul Shaka yang menggemaskan.


“Mas, kamu kenapa di sini? Tidur di sofa kalau enggak mau cerita,” kata Alisha dengan galak.


Bukannya dia sudah benar-benar tega menyuruh suaminya tidur di sofa, tapi dia memang kecewa dengan Rafael yang tidak mau berterus terang. Apalagi, Alisha jelas-jelas mendengar kakak iparnya menasihati sang suami untuk berkata jujur.


“Aku cuma gemas sama Shaka, Al.”


“Ya udah, kalau gitu aku yang keluar.” Alisha merapikan pakaiannya dan beranjak dari kasur, tapi Rafael langsung memeluknya.


“Iya, iya, Mommy. Maaf.” Rafael mengalah. Dia tidak mau istrinya semakin marah. “Aku akan cerita kalau nanti Shaka sudah tidur ya,” kata Rafael sambil menyembunyikan wajahnya di belakang leher Alisha.


“Awas bohong lagi,” balas Alisha.


Rafael tersenyum, merasa berhasil karena setelah ini tidak akan tidur di sofa.


“Iya, Sayang. Tapi, janji ya, enggak boleh maksa buat ambil keputusan.” Rafael mengendurkan pelukannya dari tubuh Alisha.


Shaka ikut bangun dan memeluk kedua orang tuanya. Bayi satu tahun itu tidak mengerti apa yang orang tuanya bicarakan, tapi dia juga ingin mendapatkan pelukan dan perhatian mommy dan daddynya.


“Shaka daddy cium mommy ya, Shaka bisa?” Rafael mencium pipi Alisha dan Shaka menirukannya. Satu rayuan maut yang tidak mungkin bisa ditolak oleh Alisha.


“Mamma mamma.” Shaka mencium pipi Alisha sama persis seperti yang daddynya lakukan.

__ADS_1


Alisha mana bisa menolak ciuman dari dua laki-laki yang sangat berharga untuknya.


“Makasih Sayangnya mommy.” Alisha balas mencium kedua pipi Shaka yang membuat bocah itu tertawa. “Shaka bobok yuk! Mommy ngantuk nih,” kata Alisha sambil pura-pura menguap.


Shaka dengan mata bulatnya yang sama seperti mata Alisha hanya berkedip-kedip sambil tertawa.


“Kayaknya dia belum mau tidur, Al. Biar aku ajak main-main dulu ya,” kata Rafael kemudian mengambil Shaka untuk digendong.


“Mas, kamu jangan mengulur-ulur waktu deh,” kata Alisha kesal.


Rafael sudah menggendong Shaka di atas pundaknya seperti yang biasa Shaka sukai. Dia berjalan santai sambil memegangi punggung Shaka dengan kedua tangan.


“Enggaklah, Sayang. Biar Shaka seneng aja,” kata Rafael.


Alisha membiarkan dua laki-laki itu bermain sementara dia merebahkan tubuh sambil memperhatikan dua pria yang dicintainya.


Melihat tawa putra dan suaminya, Alisha tidak menyangka jika saat ini kebahagiaannya sudah lengkap. Dia melihat Rafael yang kini menjelma sebagai sosok ayah yang penyayang. Sangat jauh berbeda dengan pertemuan pertama mereka dulu. Laki-laki temperamental yang membuatnya ketakutan itu saat ini sedang tertawa bersama laki-laki kecil yang lahir dari rahimnya.


“Al, Shaka udah mulai capek nih,” kata Rafael yang membuat lamunan Alisha buyar seketika.


Wanita itu memeluk putranya yang sudah Rafael letakkan di sampingnya.


“Udah main-mainnya? Sekarang bobok!” Alisha mengeluarkan lagi buah pir miliknya yang membuat Rafael panas dingin membayangkannya.


Shaka langsung melahap sumber makanan itu, dan Rafael bertugas mengusap-usap punggung sang putra.


“Sekarang cerita, Mas. Ada apa sebenarnya?” tanya Alisha saat melihat Shaka sudah mulai memejamkan mata.


Rafael menghela napas berat. Dia menatap langit-langit kamar hotel dan menjadikan kedua tangannya sebagai alas kepalanya. “Paman kamu berhasil masuk ke perusahaan dan sekarang ingin mengambil alih perusahaan,” jawab Rafael merasa bersalah.


“Paman Ardi? Kenapa lagi?” tanya Alisha bingung.

__ADS_1


“Ada pemegang saham yang membawanya masuk dan sekarang dia ingin mengambil alih menajemen keuangan. Aku yakin perusahaan akan kacau kalau dia ikut campur. Masalahnya, aku juga sedang mengurus perusahaan yang baru Papa limpahkan. Semua datang berbarengan membuatku bingung,” jawab Rafael.


Alisha merasakan mulut Shaka sudah tidak mengisap lagi, akhirnya dia bisa membebaskan diri dari bocah yang cepat sekali tidur saat sudah lelah itu. Dia lalu mendekati suaminya dan naik di atas tubuh Rafael.


“Aku akan membantumu, Mas. Shaka sudah bisa diajak ke kantor, kok. Setidaknya sampai masalah ini selesai.” Alisha menatap lekat wajah suaminya yang berada di bawah tubuhnya.


Alisha yakin, bisa membagi waktu dengan baik antara urusan kantor dan rumah tangga, apalagi Shaka bisa diajak ke kantor sehingga dia bisa bekerja tanpa khawatir.


“Tapi aku mau kamu di rumah aja, ngurus Shaka, ngurus aku. Jangan bekerja!” pinta Shaka sembari mengusap wajah Alisha dengan lembut. Dia juga menahan rambut panjang istrinya itu terjatuh dan mengenai wajahnya.


“Mas, percaya sama aku. Aku bisa melakukannya. Aku bukan wanita yang lemah, Mas. Aku enggak rela kalau sampai Om Ardi ambil alih perusahaan. Apalagi, perusahaan kamu juga lebih butuh kamu,” kata Alisha. Dia mencoba merayu Rafael.


“Kalau kamu kerja, capek banyak pikiran, kamu masih bisa tetep goyang enggak?” tanya Rafael yang mulai nakal.


“Ya ampun, Mas. Kamu itu dari kemarin ragu-ragu mau cerita alasannya ini?” tanya Alisha dengan kesal.


Rafael cengar-cengir lalu mencium bibir Alisha sekilas. “Habisnya segala sesuatu bisa terjadi, Al. Aku itu maunya kamu kayak Mama, santai di rumah. Arisan, belanja, habisin uang aku. Karena yang tugasnya bekerja itu aku, bukan kamu,” kata Rafael dengan jujur.


“Keadaan kita enggak kayak gitu, Mas. Kita harus tetap bekerja demi perusahaan dan nasib karyawan. Bukan untuk kita sendiri,” balas Alisha lalu tersenyum dan mencium bibir Rafael.


“Jadi, aku boleh kembali ke kantor, ‘kan?”


“Ya, oke. Asal janji, jangan sampai bikin aku kesepian, kalau enggak aku ambil alih perusahaan Gloria Mutiara,” jawab Rafael.


“Iya janji. Makasih ya, Mas.” Alisha sangat bahagia karena sekarang bisa kembali ke perusahaan.


“Ngomong-ngomong, Al. Apa Shaka tidak akan mengacau kalau ikut ke kantor?”


****


Bocah itu bikin rusuh enggak ya kira-kira? 💋💋

__ADS_1


__ADS_2