
Berbagai cara sudah Alisha dan Rafael lakukan untuk membujuk bocah itu supaya mau tidur awal. Juga iming-iming hadiah yang kedua orang tua itu janjikan untuk Shaka, tapi tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Sampai akhirnya, Alisha pun lelah dan memilih tidur lebih awal.
Rafael menemani Shaka sambil sesekali melirik Alisha yang berbaring di kasur putra mereka. Dia tahu, istrinya sedang sangat ingin bermain saat ini, mungkin juga karena pengaruh hormon bayi dalam kandungannya, tapi sayangnya Shaka benar-benar tidak bersahabat.
Sangat lama Rafael menunggu Shaka yang semakin malam justru semakin betah begadang. Bahkan, Alisha sudah terlelap dalam lautan mimpi saat ini.
“Shaka, tidur yuk! Daddy udah ngantuk nih, besok liat tv lagi. Udah habis kartunnya jam segini,” ajak Rafael saat serial kartun yang mereka tonton sudah habis.
“No, no, nanti abis ini Shaka mau liat sepak bola. Daddy halus temani Shaka, nanti bial Om Felix yang kelja,” balas bocah itu masih saja ngotot mau tetap di depan TV.
“Buat apa nonton bola, Shaka. Itu malem banget loh, kamu pasti ngantuk sebelum pertandingannya dimulai.”
“Enggak mau, Daddy. Shaka mau liat bola. Daddy halus temenin Shaka sekalang.”
Dua laki-laki itu sama-sama keras kepala. Tidak ada satu pub dari mereka yang mau mengalah. Shaka masih tetap ingin menonton sepak bola, sedangkan sang ayah ingin putranya segera tidur agar bisa menjenguk anak-anaknya yang lain.
__ADS_1
“Ya udah oke. Kamu sama kayak Mommy, keras kepala. Emang siapa sih yang ngasih tahu ada acara bola?” tanya Rafael yang mulai menyerah dengan keinginan putranya itu.
“Daddy Al sama Kak Salia. Meleka nonton bola telus Daddy,” jawab Shaka. Dia tiba-tiba berdiri dan mencium wajah ayahnya. “Nonton bola sambil mamam enak ya, Dad. Ayo, kita ke dapul!” ajak Shaka yang mulai merasa lapar.
Rafael langsung memasang raut wajah datar. Wajahnya setengah menunduk dengan mata yang melirik ke atas, tepat ke wajah Shaka.
Bukannya takut, Shaka malah tertawa, karena wajah ayahnya yang frustrasi itu begitu menghibur untuknya.
“Ayo, Dad!” Shaka mulai tidak sabar dan akhirnya menarik tangan Rafael agar menurutinya.
Pada akhirnya, mereka memang menonton sepak bola dengan mata yang terasa lengket. Saat pertandingan baru dimulai, Shaka sudah tidak bisa menahan kantuk lagi. Bocah itu akhirnya tertidur sambil bersandar di dada sang ayah.
Rafael menggendong Shaka ke tempat tidur dan membaringkannya di samping Alisha. Dia memandangi wajah lelap dua orang paling berharga dalam hidupnya itu.
“Anak daddy gaya banget sih ngajak nonton bola tapi malah tidur. Makin gede makin ganteng kayak daddy,” kata Rafael lalu mencium kening Shaka yang sama sekali tidak terusik. Laki-laki itu kini menatap istrinya yang juga terlelap. “Terima kasih, Al. Kamu sudah menyempurnakan hidupku.” Dia juga memberikan ciuman selamat tidur untuk Alisha.
__ADS_1
Namun, saat dia akan berbaring di samping Shaka, tiba-tiba Alisha menahan gerakannya.
“Mau ke mana, Mas?” tanya Alisha setelah membuka mata. Meski dia sudah mengantuk, tapi dia masih tetap ingin menghangatkan malam bersama suaminya.
“Em, mau tidur. Aku pikir kamu udah tidur, Al.” Rafael mengusap rambut sang istri dengan sayang. Dia senang karena Alisha berusaha menggodanya seperti ini, bahkan wanita itu sengaja memakai pakaian seeksi yang terbungkus jubah tipisnya. Karena tidak mungkin ‘kan dia memakai liingerie di depan Shaka.
“Main yuk, Mas. Dedeknya pengen dijenguk,” kata Alisha sambil mengusap bibir Rafael dengan seensual.
Laki-laki mana yang bisa menolak permintaan yang sangat menguntungkan itu.
“Oke, tapi aku mau kamu yang mimpin ya,” balas Rafael yang kemudian menarik tali yang mengikat jubah Alisha itu.
***
Part anu-anu boleh nggak sih 😂😂😂 ramein dulu komennya 😆😆
__ADS_1