
Mama Syana menggendong cucu pertamanya unyuk bertemu dengan Anna dan Alfaro yang sudah melewati masa kritis. Dokter sudah mengizinkan bayi itu untuk ikut pulang bersama Alisha dan juga sepupunya. Bayi laki-laki yang sedang tertidur itu kini diletakkan di samping tubuh Anna.
“Anna, bayimu akan pulang hari ini. Cepatlah sadar ya, kasihan dia sudah kangen kamu.” Mama Syana mengecup kening Anna yang masih terbaring dengan beberapa alat penunjang kehidupan yang masih terpasang di tubuhnya.
Luka yang Anna cukup parah, sehingga dia membutuhkan waktu lebih lama untuk sadar. Sementara itu, di samping Anna ada Alfaro yang juga masih terbaring lemah. Operasi di kepalanya sudah berhasil, dan dia hanya menunggu waktu saja untuk bisa tersadar.
Alisha dan Rafael ikut mendekat ke ranjang Anna.
“Kak Anna, cepatlah sadar. Walau aku menjaga anakmu dengan baik, tapi tidak ada yang lebih baik dari ibunya sendiri. Jadi, cepatlah pulang supaya kita bisa bersama menjaga anak-anak kita bersama-sama.”
Setelah beberapa saat di samping Anna, Mama Syana memindahkan bayi tampan itu di samping ayahnya yang juga masih belum sadar.
“Kak Al, aku harus bawa anakmu pulang. Seperti janjiku, aku akan menjaga dan merawat Satria dengan baik.”
“Al, Ann, kita pulang ya,” pamit Mama Syana sembari mengusap air matanya yang tidak bisa lagi ditahan melihat anak dan menantunya sama-sama terbaring tidak sadarkan diri.
Lalu, setelah acara berpamitan yang membuat haru itu, Mama Syana membawa cucunya pulang bersama Alisha Rafael dan juga anak mereka.
Rafael dan Alisha telah memberikan nama Shaka untuk bayi mereka, sedangkan anak Anna diberi nama Satria karena keberaniannya berjuang hidup di saat kedua orang tuanya juga berjuang untuk sadar.
***
Rafael membawa istri dan anaknya pulang ke rumahnya sendiri. Mama Syana dan Satria juga ikut ke rumah Rafael untuk memudahkan mereka menjaga dan merawat bayi malang itu.
__ADS_1
“Mereka udah tidur, Al?” tanya Rafael saat baru masuk kamar bayi dan tidak mendengar suara tangis para bayi itu.
“Udah, Mas. Mereka pasti lagi persiapan buat begadang,” jawab Alisha sambil merapikan selimut dua bayi itu.
Rafael ikut menatap wajah Satria dan Shaka yang tertidur pulas tanpa beban. Dua jagoan Hartono itu sedang mengisi tenaga mereka untuk begadang malam nanti, membuat Alisha dan Rafael harus rela ikut begadang meski ditemani dua pengasuh mereka.
Ya, meskipun sudah memperkerjakan dua pengasuh bayi, tetapi Alisha tetap ingin merasakan semua hal yang pasti dialami ibu-ibu yang baru melahirkan.
“Kita seperti punya anak kembar ya, Al. Lihat mereka berdampingan gini, jadi berharap punya anak kembar setelah ini,” celetuk Rafael tanpa beban.
Padahal, saat Alisha melahirkan, dia bertekad tidak ingin membuat Alisha hamil lagi. Namun, sekarang justru dia sendiri yang ingin Alisha hamil anak kembar.
“Enggak dulu deh, Mas. Mereka aja baru umur berapa hari, kenapa mikirin anak lagi sih?” protes Alisha tidak terima. Sakitnya melahirkan saja masih dia rasakan, kenapa dengan seenaknya sang suami sudah merancang anak kedua mereka.
“Aku bilang nanti, Sayang. Aku mau kita punya anak perempuan mirip kamu, pasti cantik banget kayak mommynya,” ucap Rafael sembari mengusap punggung Alisha.
“Gombal banget deh, Mas. Mending kamu siap-siap, katanya mau ke rumah sakit.”
“Iya, Sayang. Aku masih pengen peluk kamu, bentar aja.”
Rafael dan Alisha saling berpelukan untuk menghilangkan rasa lelah mereka. Mengurus dua bayi sekaligus dan juga bolak-balik ke rumah sakit, membuat pasangan suami istri itu harus saling mendukung dan memberi kekuatan satu sama lain.
***
__ADS_1
Dokter menelepon Rafael mengabarkan bahwa Alfaro sudah sadar. Dengan tergesa, Rafael dan kedua orang tuanya langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaannya.
Saat tiba di ruangan Alfaro dan Anna, mereka memang melihat Alfaro yang sudah mulai tersadar. Laki-laki itu sedang termenung sepertinya.
Mama Syana langsung memeluk putranya dan menangis.
“Syukurlah kamu sudah kembali, Al.” Mama Syana menciumi wajah putranya yang hanya diam dan merespon dengan tatapan bingung.
“Dok, bagaimana keadaan Alfaro?” tanya Papa Arya.
“Kalian siapa?” tanya Alfaro sembari menatap wajah Mama Syana.
“Kami sudah melakukan tes, dan sepertinya Tuan Alfaro menderita amnesia.”
Penjelasan dokter membuat semua mata tertuju pada Alfaro yang juga terlihat bingung.
“Amnesia? Jadi, dia tidak bisa mengingat kami Dok?”
“Ya, amnesia pasca trauma karena cedera di kepala yang cukup parah, hal ini bisa sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Namun, pemulihan ingatannya juga tergantung seberapa parahnya cedera, dan untuk kasus ini, mungkin perlu paling tidak enam bulan, bisa lebih.”
“Jadi, kamu juga tidak ingat siapa wanita yang ada di sebelah itu, Kak?” tanya Rafael sembari menunjuk pada Anna yang masih terbaring koma.
Alfaro menoleh dan menatap wanita itu, tapi dia sama sekali tidak mengingat apa pun.
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa.. Cie yang udah enggak nangis lagi 🤣