
Anna mengikuti suami dan anaknya yang sudah bersiap di meja makan. Para laki-laki tampan itu masih antusias membicarakan calon adik untuk Satria yang memang sudah berusia tiga tahun. Bahkan, Shaka juga sudah mau memiliki adik.
“Ngomongin adiknya nanti lagi ya, sekarang kita makan dulu, yuk!” ajak Anna lalu menyiapkan piring dan makanan mereka.
Di sela-sela makannya, Satria masih saja membahas adik. Keinginannya untuk memiliki adik memang sangat luar biasa. Tinggal di apartemen yang tidak memiliki banyak teman membuat Satria sering merasa kesepian. Oleh karena itulah, dia sangat antusias jika berkunjung ke rumah Mama Syana, bertemu dengan Shaka.
“Kak Al, aku mau bicara serius deh soal punya anak lagi,” kata Anna saat Alfaro membantunya membereskan piring-piring kotor.
“Kenapa, Ann?” tanya Alfaro khawatir. Melihat raut wajah Anna yang murung membuatnya menyimpulkan sesuatu bahwa wanita itu sedang memikirkan sesuatu.
Sebagai suami, Alfaro selalu menempatkan diri dengan baik. Meski ingatannya belum seratus persen kembali, tapi rasa cintanya terhadap Anna tidak bisa dibohongi.
“Ada yang mengganggu pikiranmu?” Alfaro menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Sementara kedua orang tuanya sedang berbicara serius, Satria memilih bermain di depan TV, atas permintaan Anna supaya tidak mendengar apa yang akan orang tuanya bicarakan.
“Soal punya anak lagi, apa kita harus memberikan adik untuk Satria?” tanya Anna ragu. Dia takut Alfaro tidak akan mendukung keputusannya dan malah nanti akan menimbulkan keretakan dalam rumah tangga mereka.
“Memangnya kenapa, Ann? Apa kamu keberatan kalau kita punya anak lagi?” Alfaro melepaskan pelukan mereka dan akhirnya kedua manik mata itu saling bertemu.
Anna mengangguk. “Sebenarnya bukan keberatan sih, Kak. Tapi, aku takut!”
“Apa yang kamu takuti, Anna? Cerita semuanya sama aku. Kita akan menghadapinya sama-sama.”
Anna menggigit bibirnya dengan gelisah. “Aku takut kejadian saat melahirkan Satria terulang lagi. Aku enggak bisa bayangin lagi kalau aku hamil terus ....”
“Anna!” Alfaro memeluk tubuh Anna yang tiba-tiba bergetar hebat. Dia tahu, Anna sangat trauma dengan kejadian yang menimpa mereka hingga membuatnya harus melahirkan Satria dalam keadaan tidak sadar, belum lagi dia harus mengalami koma dan kelumpuhan karena kecelakaan itu.
__ADS_1
Mungkin bagi Alfaro itu hanya musibah yang bisa terjadi pada semua orang, dan pasti akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Akan tetapi, yang dirasakan Anna sangat berbeda. Dia bahkan masih ketakutan jika harus duduk di kursi bagian depan mobil.
“Pelan-pelan saja, Anna. Jangan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Kecelakaan itu tidak ada hubungannya dengan kehamilan kamu. Lihat sekarang, Satria sangat sehat dan menjadi anak yang menggemaskan! Itu karena kamu ibu yang hebat, Ann!”
Alfaro mengeratkan pelukannya pada Anna. Sebagai suami yang sudah lebih dari sepuluh tahun mencintai Anna, tentu saja Alfaro tidak ingin Anna mengalami ketakutan seumur hidupnya. Mungkin saja dengan kehamilan itu, Anna bisa sembuh dari traumanya dan hidup dengan normal.
Anna melirik putranya yang sedang bermain mobil-mobilan di depan televisi yang menyala.
Pada awal pertemuan mereka setelah sadar, Anna memang tidak terbiasa dengan Satria. Bahkan dia sangat iri dengan Alisha yang sangat dekat dengan Satria saat itu. Namun, sekarang setelah semuanya berlalu, hubungannya dengan Satria mampu mengalahkan segala kekhawatirannya.
“Kita coba dari hal kecil dulu! Mulai sekarang, kamu harus duduk di kursi depan. Aku akan menemani kamu, Al.”
Semangat mommy, aku juga semangat nih buat ngetik. 😂😂😂
__ADS_1