Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 40


__ADS_3

Rafael menyuruh pelayan untuk menyiapkan makan malam di kamar Alisha. Setelah merasakan kenikmatan irisan buah kiwi milik Alisha sepertinya laki-laki itu semakin perhatian dengan istrinya. 


“Aku akan menyuapimu,” kata Rafael sambil menyendok nasi dan sayuran hangat, lalu memaksa Alisha untuk membuka mulut dengan tatapannya. 


Alisha mengunyah makanannya lalu dia berkata, “Kamu sudah janji untuk tidak memecat Suster Irma, Mas.” 


Rafael mengalihkan pandangannya dari Alisha. Sebagai pebisnis, sebenarnya dia tidak bisa memberikan toleransi atas kesalahan fatal yang telah diperbuat perawat itu, tetapi Rafael juga sudah berjanji pada Alisha. Sebagai laki-laki, tentu dia menepati janjinya. 


“Aku tidak memecatnya. Jangan cemaskan orang lain lagi!” balas Rafael yang kembali menyuapkan makanan ke mulut Alisha. 


“Kalau begitu, apa aku boleh menanyakan yang lain?” tanya Alisha. Dia berdebar menanti jawaban dari suaminya. 


“Soal apa?” Rafael menatap Alisha curiga. Apa dia akan kembali menuntut perceraian walau sudah memberikan kesuciannya. 


“Melinda.” 


Seketika itu Rafael merasakan otaknya mulai memanas. Kenapa harus nama itu yang keluar dari mulut Alisha? 

__ADS_1


“Kenapa dengan dia?” 


Alisha melihat perubahan wajah suaminya. Dia tahu, laki-laki itu tidak suka ada yang menyebut nama Melinda di hadapannya. Namun, dia juga punya hak untuk mendapatkan penjelasan dari Rafael. 


“Apa benar kamu menemuinya?” 


Rafael menghela napas berat. Sebebarnya dia sudah sangat malas membahas Melinda, tetapi jika dia tidak menjawab pasti istrinya itu akan mencurigainya.


"Ya, aku menemuinya," jawab Rafael.


Alisha tersenyum sinis. Benar yang dikatakan kakak iparnya, bahwa Rafael sulit berpaling dari wanita di masa lalunya itu.


Rafael tentu tidak terima dengan pendapat Alisha. Baginya, dia sudah melupakan Melinda, dan tidak akan pernah kembali dengan masa lalunya itu.


"Siapa yang bilang? Aku menemuinya hanya untuk mencari tahu kejelasan hubungan kami. Seseorang pernah bilang, bahwa bayang-bayang masa lalu harus diselesaikan supaya tidak menghancurkan masa depan yang baru saja dibangun," jawab Rafael dengan tegas.


Sorot mata tajam itu memaksa Alisha untuk percaya. Namun, sebagai orang baru yang tidak begitu mengenal Rafael, Alisha merasa tetap waspada.

__ADS_1


***


***


Setelah makan bersama, Rafael memutuskan untuk tidur di kamar Alisha sesuai perkataannya tadi.


"Kenapa Mas masih di sini?" tanya Alisha saat suaminya melepas bajunya dan merebahkan diri di samping Alisha.


"Memang kenapa? Ini juga kamarku, lagipula kita sudah sepakat untuk tidur bersama," jawab Rafael dengan santai.


"Kapan aku bilang ya, sepakat apanya?" Alisha tidak terima. Setelah kejadian tadi yang membuatnya tidak lagi peraawan, Alisha masih belum siap untuk tidur bersama Rafael.


"Kamu diam saja, aku pikir itu artinya iya. Sekarang kalau kamu pikir, meski aku tidur terpisah denganmu, aku bisa saja masuk ke kamar ini dan membangunkanmu saat aku merindukan buah pir ini." Rafael menggenggam buah ranum yang ukurannya masih terbilang kecil itu.


Dasar laki-laki mesum! Sekarang apa lagi ancamannya untuk bisa menikmati tubuhku. Bukankah sekarang dia tidak punya senjata lagi untuk mengancamku.


"Mas, kamu harus sadar diri. Tadi kita melakukan itu karena aku tidak rela kamu memecat Suster Irma. Kamu tidak bisa mengancamku lagi, Mas," protes Alisha.

__ADS_1


"Siapa bilang aku akan mengancammu? Sekarang aku tidak akan mengancam lagi, tapi aku menuntut tanggung jawabmu karena sudah membuat naga sakti tidak perjaka lagi."


...Kopinya dong banyakin, naga sakti haus 🤣🤣...


__ADS_2