
Rafael menolak tegas untuk menemui Melinda. Dia sedang ingin berduaan dengan Alisha dan berusaha meluluhkan hatinya, tetapi Melinda malah mengganggu momen mereka.
"Bilang sama dia, aku tidak akan menemui dia atau membiarkannya keluar sebelum hasil tes keluar," kata Rafael pada Felix.
Tanpa mendengarkan jawaban Felix, Rafael sudah memutuskan panggilan teleponnya. Dia sudah sangat kesal pada mantan pacarnya itu.
"Ada masalah?" tanya Bara yang melihat raut muka kesal dari Rafael.
"Mantan pacarnya hamil." Alisha yang menjawab.
Sheina ikut menoleh, sebagai perempuan instingnya mencurigai sesuatu yang tidak beres, tapi dia memilih diam.
"Melinda bukan?" tanya Bara langsung curiga.
Alisha mengangguk dengan ekspresi biasa saja. Lalu, terdengar helaan napas berat dari suaminya.
"Bukan sama aku, tapi dia fitnah aku, katanya aku yang hamili dia. Padahal menyentuhnya saja tidak pernah," jawab Rafael dengan wajah kesalnya.
"Apa mungkin kamu sedang mabuk parah waktu itu? Sama sepertiku yang tidak sadar saat ... ya, karena aku terlalu mencintainya sampai akhirnya ada Gabriel di antara kami," kata Bara.
Alisha menatap curiga pada suaminya. Dia tahu, suaminya memang beberapa kali terlihat mabuk, tapi tidak tahu juga apa dia benar-benar menemui mantannya.
__ADS_1
"Aku tidak sepertimu, Bar. Aku bertemu Melinda setelah aku bersama Alisha. Mana mungkin aku mendekatinya," balas Rafael tidak terima. Apalagi melihat raut kesal istrinya itu, Rafael sangat tidak suka.
"Ayo Dad. Biel ada janji sama Om Mondy," kata Gabriel sambil berteriak.
"Ya 'kan siapa tau aja kamu nggak sadar, Raf. Ya sudahlah aku pulang dulu, Gabriel mulai bawel."
Mereka lalu berpisah dan masuk ke mobil masing-masing. Alisha diam saja di mobil membuat Rafael jadi bingung ingin memulai pembicaraan.
Sampai di rumah, Alisha segera naik ke kamar karena mereka tidur bersama di kamar Rafael. Laki-laki itu mengejar istrinya yang seolah tidak sabar ingin segera tidur.
"Kenapa buru-buru banget sih, Al?" tanya Rafael baru masuk ke kamar. "Udah nggak sabar ya pengen ketemu naga sakti?"
Namun, langkah Alisha harus terhenti saat Rafael tiba-tiba menarik tangannya.
"Mau mandi dulu apa aku bikin lebih gerah dulu?" tanya Rafael yang pasti mengarah ke olahraga kasur.
"Aku capek mau tidur," balas Alisha.
"Beneran nggak mau? Padahal aku sudah menemukan informasi peneliti yang akan melaunching produk sampo perusahaanmu loh," kata Rafael setengah menggoda istrinya.
Alisha tertarik dengan topik pembicaraan itu. "Maksudnya, Mas?" Nada bicaranya sudah mulai turun, tidak tinggi seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Kepala tim peneliti yang meninggalkan ayahmu tanpa kejelasan itu dan membuat produk sampo milikmu batal dipasarkan, dia ada bersamaku."
"Jadi, Mas sudah berhasil menemukan mereka?" tanya Alisha antusias.
"Ya, begitulah. Tapi, sepertinya aku tidak usah menawarkan kerja sama dengan mereka lagi."
"Kenapa begitu?"
"Karena kamu 'kan tidak membutuhkanku. Jadi, biar saja mereka pergi lagi," kata Rafael. Dia melepaskan tangan Alisha dan berjalan menuju ranjang.
"Mas, kenapa gitu sih?" Alisha menyusul suaminya dan mengurungkan niatnya untuk mandi.
Rafael duduk santai dengan kedua tangan di belakang menyangga tubuhnya. "Kalau kamu mau mereka bekerja sama denganmu, maka berusahalah membuatku senang."
"Mas mau aku senengin naga sakti lagi?" tanya Alisha.
"Ya, tapi harus dengan cara lain."
"Cara lain apa lagi, Mas?"
"Cara lain yang belum pernah kamu lakukan Al. Ayolah goda suamimu ini, Alisha!"
__ADS_1