
Rafael tidak mengizinkan Alisha menunggu di mobil. Dia ingin Alisha ikut menjemput Anna dan memperkenalkannya sebagai istri. Namun, Alisha mendadak kehilangan rasa percaya dirinya, apalagi melihat sosok Anna yang kekuasaannya setara dengan Rafael.
"Ayo, Al. Kamu tidak perlu takut, ada aku di sini." Rafael menggenggam tangan Alisha dan mereka menghampiri seorang wanita yang sedang duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya.
"Mas, itu Anna?" tanya Alisha. Dia melihat sosok gadis cantik dengan rambut pirangnya yang panjang lurus tergerai.
"Iya, itu Anna."
Mereka berjalan semakin dekat. Hingga akhirnya, wanita itu menoleh dan tersenyum lalu memeluk Rafael. "Beb, kamu ke mana aja sih, lama banget."
Bahkan suaranya saja sudah terdengar merdu. Tubuhnya tinggi setinggi Rafael tanpa memakai sepatu hak. Badannya ramping, tidak terlalu kurus tidak juga terlalu berisi. Ditambah lagi, wajah cantiknya yang khas Eropa menambah kesempurnaan wanita itu.
"Anna, sory. Aku baru bangun tadi," kata Rafael sambil mengurai pelukan Anna.
"It' oke. Kamu sama siapa, Beb?" tanya Anna yang kini fokus pada genggaman tangan Rafael pada tangan Alisha.
__ADS_1
"Anna. Ini Alisha, istriku." Rafael semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Alisha.
Anna tertawa renyah mendengar ocehan Rafael.
"Come on Beb, ini penyambutan paling konyol tau nggak. Oke, oke aku terima sambutan kamu. Tapi, please lepasin tangan kalian. Hatiku terbakar melihatnya," kata Anna diiringi tawa. Dia mengira apa yang diucapkan Rafael adalah sebuah lelucon yang sengaja dibuat untuk menyambut kedatangannya.
"Anna. Aku tidak bercanda. Dia istriku," ulang Rafael yang membuat tawa Anna terhenti.
"Istri?"
"Hai Anna. Aku Alisha." Alisha mengulurkan tangan. Meski dadanya berdebar keras, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun.
"Aku calon istrinya. Jadi, aku yang kamu selingkuhi atau dia yang kamu selingkuhi, Beb?" balas Anna setengah berteriak.
Orang-orang di sekeliling mereka jadi menoleh dan memperhatikan mereka bertiga.
__ADS_1
"Mas, sepertinya tidak baik kalau bicara di sini," kata Alisha.
"Anna. Kita bicara di rumah!" ajak Rafael yang kemudian menyeret koper milik Anna dan membawanya ke mobil.
Karena tahu Rafael menyetir sendiri, Anna membuka pintu bagian depan dan menyerobot saat Alisha hendak masuk. Keduanya terlibat perdebatan untuk merebutkan siapa yang berhak duduk di samping Rafael.
"Aku istri sahnya. Aku yang berhak duduk di depan sama suamiku," kata Alisha sebelum menyingkirkan tangan Anna dan langsung duduk di depan.
Rafael menyuruh Anna untuk duduk di kursi penumpang belakang dan mereka akhirnya meninggalkan bandara.
"Jelaskan sama aku, Beb. Sejak kapan kamu menikah?" tanya Anna yang duduk tepat di belakang Rafael.
"Sekitar empat atau lima bulan yang lalu. Anna. Maaf, aku tidak sempat memberitahumu. Karena aku pikir berbicara langsung akan lebih baik daripada bicara di telepon," jawab Rafael.
"Sudah selama itu dan kamu tidak pernah memberitahuku, Beb? Oke, aku emang salah karena jarang menghubungi kamu, hampir tidak pernah. Tapi, kamu tahu sendiri 'kan kesibukan aku."
__ADS_1
"Ya, kamu sibuk, aku pun sibuk Anna. Tapi pertemuanku dengan Alisha adalah takdir. Aku tidak bisa mengabaikan wanita yang sudah menjadi istriku. Lagi pula, perjodohan kita hanya karena bisnis. Jadi, aku rasa kita tidak akan cocok untuk menikah. Maaf karena aku baru memberitahu pernikahanku sekarang ini. Tapi, aku juga kesulitan mengatur jadwal denganmu. Lalu, bagaimana kalau kita sudah menikah dengan keadaan kita yang seperti ini? Anna, maaf. Aku mencintai Alisha sejak dia menjadi istriku."
Huh, tegang dikit, biar komennya rame ðŸ˜ðŸ˜