
Setelah memantapkan hati untuk melahirkan di Singapura, Alisha mulai memeriksakan kehamilan di rumah sakit yang telah dipilihnya. Dia juga sudah menyewa sebuah apartemen yang kebetulan masih satu gedung dengan apartemen Alfaro-Anna. Bersama Shaka dan pengasuhnya, Alisha datang ke negara yang dijuluki kota singa itu.
“Mommy, kita nanti tinggal di sini ya?” tanya Shaka saat mereka mampir di apartemen Anna setelah dari rumah sakit.
“Nanti kita sewa, Sayang. Sekarang kita makan dulu di rumah Mommy Anna ya,” jawab Alisha.
“Shaka tidul sama aku saja, aku sekalang tidul sendili loh,” kata Satria memamerkan salah satu wujud kedewasaannya.
Shaka mencebik. Dia belum bisa tidur sendiri. Kalau tidak dengan kedua orang tuanya, pasti dengan pengasuhnya. Ya, meski dia sangat gengsi mengakui kalau dia penakut.
“Aku juga tidul sendili. Mbak Sus tidul di sofa, aku tidul di kasul,” balas Shaka tidak mau kalah.
“Itu namanya masih tidul sama Mbak Sus. Kamu takut ya,” ledek Satria.
Shaka melirik Satria dengan mata memicing tajam. “Enak saja, Shaka sudah besal. Enggak takut kok,” balas Shaka.
“Sudah-sudah, bentar lagi kita sampai di rumah Mommy. Shaka suka cumi-cumi enggak?” tanya Anna, menengahi keributan kedua anak-anak itu.
“Suka, tapi jangan dimasak pedas ya, Mom,” jawab Shaka yang langsung berbinar setelah mendengar akan diajak makan.
“Shaka itu apa sih yang enggak disukai. Semua disukai deh, Mom.” Satria kembali menyahut.
“Kalau Shaka sukanya makan, Kak Satria sukanya bola ya?” tanya Alisha.
__ADS_1
Pintu lift yang sudah terbuka memaksa mereka berlima untuk keluar. Mereka lalu masuk ke apartemen Anna dan Alfaro.
“Iya, Mommy. Satlia suka sepak bola.”
“Mommy ada hadiah buat Kak Satria. Sana dibuka sama Mbak Sus sama Shaka ya!”
“Tapi, Kak Satlia enggak bisa kalahin Shaka waktu main bola,” sahut Shaka.
“Kamu rencananya mau sesar apa normal, Al?” tanya Anna. Saat ini Anna mengajak Alisha untuk menyiapkan makanan untuk mereka semua, sedangkan anak-anak bersama pengasuhnya Shaka.
“Aku maunya sih normal saja, Kak. Tapi, Mas Rafa pengennya sesar saja. Ya, lihat nanti saja sih, kalau bisa normal ya normal, kalau enggak bisa ya terpaksa sesar,” jawab Alisha.
Anna jadi ingin tahu lebih banyak soal melahirkan. Ya, dia memang sudah melahirkan tapi itu tanpa disadarinya. Sementara Alisha sudah pernah merasakan rasanya melahirkan normal saat kelahiran Shaka.
“Gimana rasanya lahiran normal sih, Al?” tanya Anna. Dia sekarang sudah siap untuk hamil dan dia juga ingin merasakan rasanya melahirkan secara normal.
“Aku sama Kak Al sudah merencanakan anak kedua. Lihat perut kamu buncit gini aku jadi ingin hamil juga, Al.” Anna mengusap perut Alisha.
“Aku berdoa semoga adiknya Satria bisa secepatnya hadir, Kak.” Alisha memeluk wanita yang baru melewati traumanya itu. “Baby-nya ikut mendoakan Mommy Anna ni, mereka nendang-nendang.”
“Anak-anak Mommy Anna kasih suport buat mommy ya.” Anna menatap perut buncit Alisha yang kini sudah memasuki usia enam bulan.
Anna juga sangat menyayangi anak-anak Alisha seperti halnya Shaka, karena dia sudah menganggap Alisha seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
***
***
Hari persalinan Alisha sudah semakin dekat. Anna yang tidak ikut melahirkan pun ikut repot menyiapkan persalinannya. Ya, sesuai keinginan Alisha yang ingin melahirkan di luar negeri, semua orang membantu mewujudkan keinginannya itu.
Sementara itu, Alisha sedang bersiap untuk pergi dengan jet pribadi yang sudah disewa Rafael. Mereka semua, termasuk orang tua Rafael, Shaka dan pengasuhnya turut mengantarkan Alisha dan menemaninya sampai melahirkan secara sesar. Jadwal operasinya masih minggu depan, sehingga mereka masih memiliki waktu untuk sekalian berlibur.
Namun, saat mereka baru saja naik jet pribadi itu, Alisha mulai merasakan kontraksi.
“Mas, kayaknya aku udah mau lahiran,” kata Alisha sambil meringis merasakan rasa sakitnya kontraksi.
“Ya ampun, Al. Kamu serius? Kamu bisa tahan, ‘kan? Jangan melahirkan di sini ya, Al.”
“Aku enggak tahu, Mas. Tadi enggak apa-apa kok,” kata Alisha.
“Tuan, apa kita kembali saja, mumpung kita belum jaug meninggalkan bandara,” usul Felix yang berusaha untuk tidak ikut panik.
“Enggak mau, aku mau lahiran di luar negeri, Mas. Awas ya kalau balik lagi!” ancam Alisha sembari mencengkeram kuat pergelangan tangan suaminya.
“Masa kamu mau lahiran di sini, Al. Mana kita enggak bawa dokter.”
“Aduh, El. Kalian gimana sih. Harusnya kamu bawa dong buat keadaan darurat kayak gini!”
__ADS_1
***
Lahiran di jet pribadi kayaknya asik deh Al 🤣🤣🤣🤣