
Shaka duduk santai di kursi penumpang belakang sambil menikmati empengnya. Matanya mulai mengantuk dan ¡akhirnya tertidur sebelum sampai di restoran.
“Lihatlah, Al! Dia tidur, dalam kelaparan,” kata Rafael sambil melirik putranya yang tidak bisa menahan kantuk.
Alisha menoleh ke belakang. Dia lalu tersenyum melihat tingkah putranya. Pria kecil yang selalu bilang lapar, entah benar-benar lapar atau tidak.
“Besok-besok emang harus bawa stok biskuit sama buah yang banyak deh buat Shaka. Dia antengnya kalau makan aja, Mas.” Alisha mengadu pada suaminya yang sedang sibuk menyetir.
Shaka bukan anak yang rewel yang gampang menangis karena kesal atau pun bosan, tapi dia sangat sensitif jika soal makanan. Selera makannya yang begitu tinggi membuat bocah itu memiliki pipi gembul yang menggemaskan.
“Ya, kapan-kapan bolehlah sekali-sekali dia ikut aku ke kantor, Al.”
“Oh, aku akan sangat senang sekali, Mas. Semoga dia bisa mengacak-acak ruanganmu,” balas Alisha dengan senang hati. Sesekali memang suaminya itu harus tahu bagaimana rasanya menjaga anak sambil bekerja.
“Aku pasti akan mengajaknya, Al.”
Tidak berapa lama, mereka akhirnya sampai di sebuah restoran. Karena Shaka masih sangat mengantuk, akhirnya Rafael menggendong putranya itu masuk ke restoran. Aura hot daddy yang muncul dari wajah Rafael membuat ketampanannya semakin bertambah. Ya, meski ketampanan itu masih kalah dari Shaka yang menyandarkan kepala di pundaknya sambil menikmati rasa kantuk yang masih menyerangnya.
“Ini restoran yang sama bukan sih, Mas?” tanya Alisha bingung. Dia pernah datang ke restoran ini hanya saja waktu itu sudah malam, dan waktunya juga sudah lewat empat tahun yang lalu.
“Iya, ini restoran yang sama, Al. Anaknya Bara yang nomor satu ‘kan suka sekali restoran ini, makanya dia ajak ketemu di sini,” jawab Rafael.
Dia mulai menoleh kanan kiri untuk memastikan tempat duduk sahabatnya itu. Banyaknya gazebo membuatnya sedikit kesulitan saat mencari Bara. Hingga akhirnya, Alisha yang berhasil menemukannya.
“Itu mereka, Mas. Kelihatan si Gabriel lagi mengintip ikan sama adiknya,” kata Alisha sambil menunjuk bocah laki-laki berusia sembilan tahun dan adiknya yang berusia lima tahun itu.
Rafael dan Alisha lalu menghampiri Bara dan keluarga kecilnya.
“Wah, pantas saja susah nyarinya, ternyata lagi berduaan,” kata Rafael saat sudah berhasil menemukan Bara.
__ADS_1
“Iya nih, El. Istriku lagi hamil lagi, makanya ingin dimanja terus,” balas Bara dengan bangga.
Mereka bersalaman dan akhirnya berbagi kebahagiaan atas kehamilan Sheina yang ketiga ini.
Melihat kebahagiaan di mata bara, Rafael jadi kepikiran memberi adik untuk Shaka.
“Mamam, Mommy,” kata Shaka yang tiba-tiba bangun saat mencium aroma makanan.
“Shaka, kamu kalau punya adik mau enggak? Kakak Bia mau punya adik itu! Mau enggak Shaka?” tanya Rafael sambil menunjuk Bianca yang sedang mencium perut Sheina.
Shaka memicingkan mata. Entah mengapa ekspresinya itu justru membuat semua orang di sana jadi gemas.
“Shaka mau mamam enggak mau adik,” jawab Shaka yang tidak tertarik dengan apa pun selain makanan.
“Bilang iya dulu, nanti daddy belikan makanan yang banyak,” kata Rafael mencoba bernegosiasi dengan putranya.
“Enggak usah izin gitulah, El. Bilangnya itu sama emaknya,” goda Bara yang membuat Rafael mencebik.
“Iya tahu tuh, padahal bisa dibicarakan nanti malam saja. Ini waktunya makan malah bahas begituan,” sahut Alisha.
“Bener ya, nanti malam kita bicarakan,” kata Rafael bersemangat.
Alisha tidak mengiyakan tidak juga menolak. Itu membuat Rafael merasa abu-abu. Apakah istrinya mendukung rencananya?
***
***
Rafael mengajak Alisha dan Shaka untuk menginap di rumah Mama Syana, karena Alfaro dan anak istrinya juga sedang berkunjung saat ini.
__ADS_1
Saat malam tiba, Rafael menitipkan Shaka pada mamanya. Ternyata, hal yang sama juga dilakukan oleh Alfaro yang menitipkan Satria pada Mama Syana.
“Kalian berdua kompak sekali nitip anaknya bisa berbarengan gini,” kata Mama Syana yang sangat tahu apa yang direncanakan kedua putranya.
“Sekali-sekali enggak apa-apalah, Ma. Aku sama Alisha lagi mau usaha buat bikin cucu lagi buat Mama,” kata Rafael sambil mengedipkan mata.
“Wah, kamu sama Al mau program anak lagi, El?” tanya Alfaro.
“Oh iya dong, Kak. Bareng lagi yuk, siapa tahu nanti lahirnya berbarengan lagi kayak Shaka sama Satria,” jawab Rafael.
“Ya ampun. Anak mama kenapa pada gini semua sih,” sahut Mama Syana sambil menggelengkan kepala.
Rafael dan Alfaro kembali ke kamar mereka menemui istri masing-masing. Rafael langsung mendekap Alisha yang sudah memakai baju dinasnya untuk melayani Rafael.
“Mama bilang apa?” tanya Alisha penasaran. Tadinya dia sudah mewanti-wanti suaminya untuk tidak menitipkan pada Mama Syana, tapi Rafael ingin melakukan semuanya dengan bebas
“Mama ngomel sih, soalnya Kak Al juga nitipin Satria,” jawab Rafael sambil menarik lepas tali yang menjadi pengikat jubah Alisha.
Laki-laki itu lalu melepaskan satu per satu pakaian Alisha.
“Kok bisa pas banget Kak Al juga,” kata Alisha yang dengan pasrah membiarkan suaminya melakukan semua hal padanya.
“Ya, mungkin Kak Al juga merencanakan hal yang sama, Al.”
Rafael tidak tahan lagi. Dia langsung menyerang kedua buah pir Alisha yang kini tidak lagi menjadi sumber makanan putra mereka.
“Mas, pelan-pelan dong,” kata Alisha sambil menahan diri untuk tidak mendeesaah.
“Aku kangen banget, Al. Pokoknya malam ini aku akan buat kamu terus meneriakkan namaku, Sayang.”
__ADS_1
***
Dahlah enggak kuat, ngantuk 😂😂😂 maapken 🏃♀️🏃♀️