
Rasa penasaran Alisha begitu tinggi karena ulah suaminya. Rafael memang sengaja membuat istrinya itu penasaran supaya dia bisa mendapat lebih banyak ciuman dari Alisha.
“Mas. Kamu mau cerita apa nggak sih? Masa’ dari tadi satu kata satu cium. Kapan selesainya?”
Alisha sudah mulai merajuk. Memang rasanya Rafael sudah mulai keterlaluan karena mencari keuntungan dengan memanfaatkan rasa penasaran istrinya.
“Oke, oke. Aku cerita ya. Jangan marah.”
Satu kecupan mendarat di pipi Alisha yang masih memasang raut cemberutnya.
“Jadi, aku menjual beberapa persen saham pribadiku di Hartono untuk membuat mereka menyetujui pemutusan hubungan ini.”
“Apa?”
“Ya, anggap saja aku menyuap mereka, Al. Tapi, aku juga memberitahu mereka kalau mereka masih punya harapan untuk menjadi besan Papa Mama melalui Kak Alfaro,” jelas Rafael sambil cengar-cengir.
Alisha memukul pelan lengan suaminya. “Jadi, kamu menjual kakakmu sendiri, Mas?”
“Ini bisnis, Al. Yang penting kita sudah bebas dari mereka.”
__ADS_1
Rafael memeluk Alisha dengan erat. Dia sangat bahagia saat ini karena satu per satu halangan mereka untuk bersama akhirnya bisa disingkirkan.
Alisha pun ikut bahagia karena sekarang tidak perlu lagi memusingkan masalah Anna.
“Papa hari ini datang. Aku ingin kita ketemu Papa dan Mama untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Apa pun nanti yang aku putuskan, aku harap kamu bisa menerimanya, Al,” kata Rafael.
Alisha mengangguk patuh. Dia percaya Rafael pasti melakukan yang terbaik untuk rumah tangga mereka.
***
***
***
“Jelaskan sama papa, apa yang sudah kamu katakan pada keluarga Anna!” Arya Hartono menatap putranya yang tanpa rasa takut sedikit pun. Bahkan, laki-laki itu dengan percaya dirinya merangkul pinggang Alisha di depan kedua orang tuanya.
“Aku cuma mengatakan apa yang seharusnya aku katakan, bahwa aku sudah menikah dengan Alisha. Aku ke sini tidak hanya ingin membahas itu, tapi juga ini.”
Rafael menyodorkan amplop coklat kepada Papa dan mamanya.
__ADS_1
Arya Hartono dengan cepat meraih amplop itu. Dia mengerutkan kening saat melihat isinya adalah foto-foto tangkapan kamera CCTV.
“Apa yang Mama lakukan pada anakku itu sangat tidak manusiawi. Kalau Papa dan Mama masih mengingat temperamenku, kali ini Mama beruntung. Aku hanya akan mengundurkan diri dari perusahaan dan mengembalikan seluruh fasilitas dari keluarga Hartono.”
Nada bicara Rafael terdengar cukup tenang, meski dia memiliki temperamen yang bisa meledak kapan saja. Akan tetapi, dia bersikap tenang karena Alisha, juga rasa kecewanya yang sudah teramat dalam sehingga emosi saja tidak bisa mewakili kesedihannya.
“Apa? Kamu mengundurkan diri? Kamu akan jatuh miskin Rafael. Kamu bisa apa tanpa nama besar Hartono,” ejek Arya yang menyesalkan keputusan putranya itu.
“Iya. Aisha tidak mau aku menjadi anak yang durhaka, karena itulah aku tidak akan menyakiti Mama yang telah menyebabkan kematian anakku.”
Sorot mata elang Rafael yang menatap ibu kandungnya itu menatap dengan benci dan kecewa.
“Kematian! Apa maksud kamu, istri kamu keguguran?” tanya Arya yang memang tidak mengetahui berita kehamilan dan keguguran Alisha.
“Mama tidak melakukan apa pun.” Syana mengelak.
“Ya, Pa. Aku baru bahagia beberapa hari dan Mama sudah menghancurkan semuanya. Kalau bukan karena Alisha yang melarangku, aku pasti akan menghancurkan hati Mama,” kata Rafael sambil menahan emosinya. “Aku mau, mulai hari ini, Mama tidak usah menganggapku sebagai anak lagi.”
Kembang kopinya jangan lupa.
__ADS_1
Maaf ya, hari ini agak gimana gitu, kurang fokus 🥲