
Hari-hari silih berganti dan berlalu dengan cepat. Anna sekarang sudah bisa berjalan dengan normal tanpa banyuan tongkat ataupun kursi roda lagi. Dia juga sudah bisa merawat Satria dengan tubuhnya sendiri tanpa halangan yang berarti.
Alfaro berjalan menghampiri Anna yang sedang berdandan di depan cermin. Wanita itu sedang menyisir rambutnya yang baru selesai keramas.
Alfaro berdiri di belakang Anna dan tersenyum menatap pantulan wajah cantik Anna di cermin.
“Rasanya, pelan-pelan aku mulai mengingat kenangan kita dulu, Ann. Tapi, sepertinya waktu itu kita belum menikah,” kata Alfaro. Dia mengambil alih sisir milik Anna dan mulai menyisir rambut sang istri.
“Kamu ingat apa, Kak? Apa ingatanmu mulai kembali?” tanya Anna semangat.
Dia sangat bahagia dengan apa yang suaminya itu katakan. Jika memang Alfaro sudah mengingatnya, itu artinya kesabarannya selama ini membuahkan hasil juga.
“Ya, beberapa potongan aja, tapi setidaknya aku sudah mengingat siapa kamu, Ann.” Mata Alfaro menatap Anna yang berkaca-kaca.
“Kak, kamu tahu, aku bahagia banget, Kak Al.” Anna berdiri dan memeluk suaminya. Rasa bahagianya saat ini tidak bisa ditahan lagi, semuanya tumpah dalam pelukan Alfaro.
**
**
Mama Syana mengundang Alisha dan Rafael juga Shaka tentunya, untuk makan malam di rumah Mama Syana. Jika sudah makan malam di rumah, itu juga berarti harus menginap di sana.
__ADS_1
Shaka yang kini berusia sepuluh bulan sudah mulai berjalan. Jauh lebih cepat dari Satria yang masih merangkak.
Rafael menggendong Shaka saat turun dari mobil. Bocah yang sangat aktif itu malah merengek minta turun dan akhirnya Rafael terpaksa menurunkannya.
Shaka langsung berjalan cepat sambil memegang mainannya. Bocah yang memakai rompi dan topi itu terlihat sangat lucu dengan gayanya yang menggemaskan.
Mama Syana yang sedang menuruni tangga itu langsung antusias begitu melihat cucunya datang. “Shaka, cucu oma sudah datang?”
Mama Syana langsung memeluk Shaka dan hendak menggendongnya, tapi bocah itu menolak dengan keras.
“Mam mam mam mam,” ucapnya yang terdengar kurang jelas.
Rafael berjalan ke meja makan yang penuh dengan makanan dan Shaka berjalan tertatih mengikutinya.
“Oh, cucu oma ke sini minta makan,” balas Mama Syana yang mencoba menuntun Shaka, tapi lagi-lagi pria kecil itu menolak.
“Biskuitnya habis di mobil tadi, Ma. Banyak makan ini bocah,” kata Rafael mengambil potongan semangka di meja dan menyerahkannya pada Shaka.
“Mas, jangan itu dong. Nanti bajunya kotor.” Alisha berlari menyelamatkan putranya yang pasti akan belepotan.
“Mam mam mam mam.” Shaka berteriak saat Alisha hendak merebut makanannya.
__ADS_1
Dengan sigap pengasuh Shaka mengeluarkan celemek untuk melindungi baju Shaka dari makanan.
“Iya, sabar dulu. Pakai ini dulu. Biar tetep ganteng,” balas Alisha seolah tidak peduli dengan teriakan putranya yang tidak rela makanannya direbut.
Di saat yang bersamaan, Anna turun sambil menggendong Satria yang juga memakai pakaian yang sama dengan Shaka, Di belakangnya ada Alfaro yang juga baru turun. “Sat, lihat tuh siapa yang datang,” kata Anna sambil menunjuk Shaka yang heboh dengan semangkanya.
Melihat saudaranya datang, Satria bersorak kegirangan. Akan tetapi, Shaka tetap cuek dan lebih tertarik dengan makanannya sendiri.
“Pantesan aja Alisha pas hamil doyan makan, ternyata bocahnya doyan makan juga,” kata Alfaro sambil mengangkat Shaka tinggi-tinggi.
“Kakak ingat pas Alisha hamil?” tanya Rafael kaget.
“Ingat dong, minta rujak es krim ‘kan? Terus marah pas aku bilang gendut,” jawab Alfaro.
Shaka yang ada digendongan Alfaro tetap cuek dan menikmati semangka dengan dua giginya.
“Dia udah mulai sembuh,” kata Anna dengan bahagia.
****
Kembang kopinya jangan lupa 💋
__ADS_1