
Alisha sudah berganti pakaian dan mencari keberadaan suaminya. Dia bahkan mencari sampai ke balkon dan mengintip ke bawah, tapi Rafael tidak berjejak. Pasti dia telah pergi tanpq pamit. Apakah Anna begitu berarti di mata Rafael sampai-sampai meninggalkan Alisha sendirian?
Wanita cantik itu terduduk lemas di sofa. Dia membiarkan air mata merembes keluar karena hatinya yang tersayat.
Kalau kamu memang memiliki perasaan dengan Anna, kenapa kamu membuatku menyukaimu, Mas? Kenapa kamu seperti Dito yang tega menghianati aku? Kalau kamu memilih dia, aku pastikan kamu tidak akan bisa mendapatkan hatiku lagi, Mas.
Alisha berperang dengan pikiran buruknya sendiri. Dia pikir, semua laki-laki pasti sama saja. Tidak ada yang setia, apalagi jika Anna itu cantik, pasti Rafael tidak akan rela melepaskannya.
Hingga tiba-tiba suara pintu terbuka membuat Alisha menoleh dan menemukan suaminya tengah memakai handuk di pinggang. Matanya membulat sempurna memperhatikan sang suami yang tengah mengeringkan handuk.
"Kamu sudah selesai mandi, Al?" tanya Rafael. Dia berjalan mendekati Alisha yang masih bengong menatapnya. "Hei, cantik. Kenapa bengong sih? Eh, kok nangis? Kenapa?" Rafael buru-buru duduk di sofa dan menghapus air mata Alisha.
Alisha yang sadar bahwa dia telah berburuk sangka, akhirnya memeluk tubuh laki-laki tampan itu. Rafael membalas pelukannya dengan sepenuh hati. Rafael sendiri berpikir bahwa Alisha mungkin cemburu atau curiga karena dia akan menemui Anna. Jadi, Rafael mencoba menenangkan istrinya itu.
"Al, jangan nangis dong. Aku mau ajak kamu jemput Anna ke bandara. Kamu mau, 'kan?" tanya Rafael sambil mengusap kepala belakang Alisha.
__ADS_1
Alisha yang mendengar itu, kini mengurai pelukannya dan menatap wajah Rafael.
"Benarkah? Mas mau ajak aku?" tanya Alisha dengan suara serak.
Rafael tersenyum bahagia melihat wajah cantik Alisha yang menggemaskan dengan mata yang memerah.
"Iya dong. Kan mau aku kenalin sama Anna. Nanti kamu cemburu kalau aku jemput dia sendirian," goda Rafael sambil menowel hidung istrinya itu.
Alisha mengerucutkan bibir. Dengan alis berkerut dan mulut manyun, Alisha menatap sebal suaminya yang justru menertawakan kecemburuannya.
"Siapa juga yang cemburu. Ganti baju sana, Mas. Nanti keburu telat, jemput tunangan kamu."
"Al, bilang aja kamu cemburu," kata Rafael yang kini hanya bisa menatap punggung Alisha.
Setelah berganti pakaian dan bersiap-siap untuk ke bandara, Rafael mengajak Alisha untuk sarapan. Pagi ini mereka memang bangun kesiangan karena pertempuran panas tadi malam. Oleh karena itu, Rafael dan Alisha menyempatkan sarapan sebentar sebelum ke bandara.
__ADS_1
***
***
Mobil yang membawa Rafael dan Alisha telah sampai di bandara. Sebelum turun dari mobil, Alisha sempat kesulitan mengatur jantungnya yang berdebar-debar. Bayangan sosok Anna yang membuatnya cemas benar-benar mengacaukan pikirannya.
Rafael membuka pintu mobil untuk istrinya, tapi myatanya Alisha sibuk dalam pikirannya sendiri.
"Al, ayo turun kita udah sampai!" kata Rafael sambil memegangi pintu mobil.
"Mas, aku takut. Apa Anna akan menerima pernikahan kita begitu saja?" tanya Alisha bingung.
"Ya, aku tidak tahu juga sih, Al. Tapi, kenapa kamu takut? Kita sudah menikah secara resmi, dan pernikahan itu bukan kesalahan, 'kan?"
Rafael mencoba menenangkan hati Alisha. Namun, Alisha belum siap mental, karena posisi Anna saat ini berbeda dengan Melinda yang meninggalkan Rafael.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku tunggu di mobil saja, Mas? Kamu masuk sendiri, tidak apa-apa, 'kan?"
Mending ribut di bandara, apa ribut di mobil hayo 🤣🤣 kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋