
Setelah tidak sengaja bertemu dengan Melinda, Rafael mengajak Alisha pulang sebelum acara inti dimulai. Perasaan tidak karuan saat bertemu mantan tunangannya itu, membuat Rafael buru-buru pergi untuk menenangkan hatinya. Padahal, sebelumnya dia pikir semua akan baik-baik saja jika bertemu dengan Melinda, nyatanya tidak semudah itu.
Alisha diam saja di samping Rafael yang sedang mengemudi mobil dengan kecepatan penuh. Dia ingin cepat sampai di rumah dan menenangkan pikiran. Bisa Alisha tebak bahwa Rafael dulu sangat mencintai Melinda.
Mobil berhenti di depan rumah dan kepala pelayan seketika menyambut kedatangan mereka. Saat Rafael akan membuka pintu mobil, Alisha menghentikan pergerakannya dengan menahan tangan Rafael.
“Ada apa? Aku tidak ingin membahas soal dia saat ini,” kata Rafael. Dia berusaha melepaskan tangan Alisha yang mencekalnya.
“Aku tidak akan membahas orang lain karena aku tidak peduli akan hal itu. Kenapa kamu tidak mau menceraikanku?” tanya Alisha tanpa berani menatap mata Rafael.
__ADS_1
Rafael memejamkan mata, berusaha untuk tidak meledak apa pun yang terjadi. Otaknya berusaha sekuat tenaga untuk tidak marah karena ini bukan kesalahan Alisha. Dia tidak pernah tahu menahu alasan pernikahan mereka dan mungkin ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya.
“Karena aku sudah berjanji pada almarhum ayahmu bahwa aku tidak akan menceraikanmu apa pun yang terjadi.”
Alisha menundukkan kepala saat mengingat ayahnya yang telah meninggal.
“Kamu mau tahu, kenapa ayahmu memilihku?” Rafael menangkup wajah Alisha yang bersedih itu supaya mau melihatnya.
Alisha merasa hancur. Rasa cinta ayahnya memang tidak salah, keputusannya untuk menikahkan sang putri dengan Tuan Arogan itu juga tidak salah, tetapi ayahnya bersalah karena tidak mencari tahu bahwa ada orang yang sangat dicintai Rafael, dan Alisha seperti orang ketiga dalam hubungan itu.
__ADS_1
“Aku ingin bercerai setelah aku sembuh dan mengambil alih perusahaan. Kamu tenang saja, aku bukan wanita lemah yang mudah dikalahkan,” kata Alisha. Dia lalu membuka pintu mobil dan memanggil perawat untuk membantunya turun.
Rafael mengepalkan tangannya lalu memukul dengan kesal saat Alisha masuk ke rumah bersama kedua perawatnya.
“Sampai mati pun aku tidak akan melepaskanmu. Apa pun yang terjadi,” kata Rafael dengan wajah merah padam.
Rafael keluar dari mobil dan masuk ke rumahnya. Dia mulai mengambil minuman beralkohol di dapur dan mulai minum. Felix masuk dan menghampiri bosnya setelah mendapat informasi bahwa Rafael bertemu Melinda di pesta.
Dari sikap Rafael yang kesal, Felix menyimpulkan bahwa dia dan Alisha bertengkar karena Melinda. Dia duduk di hadapan bosnya yang terus menenggak minumannya.
__ADS_1
“Apa sih yang membuat Alisha terus meminta cerai dariku? Apa karena dia punya perusahaan sendiri? Apa karena dia bisa hidup sendiri tanpa bantuan siapa pun? Apa dia tidak tahu bahwa aku bisa menghancurkan perusahaannya dengan sekejap mata?” teriak Rafael lalu membanting gelas minuman yang sudah habis ditenggaknya.
Pecahan kaca berserakan di lantai. Felix menghela napas berat sambil menatap bosnya yang masih belum mabuk itu. “Kalau Tuan tidak ingin kehilangan Nyonya Alisha, Tuan harus bisa melepaskan Nona Melinda selamanya.”