
Anna sangat terpukul saat ibunya sedang terbaring lemah, entah siapa yang telah mencelakai wanita itu sampai akhirnya dia terluka parah dan mengalami koma. Tidak ada suami yang menemani, apalagi kondisinya sedang hamil enam bulan saat ini. Saat melihat kedatangan ayahnya, Anna langsung memeluk dan menumpahkan kesedihannya.
“Daddy, Mommy koma,” kata Anna dengan perasaan yang sangat hancur. Dia semakin erat memeluk tubuh ayahnya yang kini berpenampilan sederhana.
“Kamu yang kuat Anna, kita akan cari tahu siapa yang menabrak mommy kamu.” Daddy Anna memeluk putrinya dan mencoba memberikan ketenangan seperti masa kecilnya dulu.
Laki-laki itu sadar bahwa putrinya sudah sangat berbeda dengan gadis kecilnya dulu. Terlalu banyak yang dia lewati hingga tanpa berpikir panjang malah menghancurkan keluarganya sendiri.
Alfaro yang mendengar kecelakaan mertuanya langsung bergegas menemui Anna. Tidak ada keluarga yang dimiliki istri di negara itu membuat Alfaro sangat khawatir dan akhirnya menyewa pesawat pribadi agar cepat sampai ke tempat Anna lebih cepat.
Mommy Anna masih berada di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan medis, sedangkan pelaku yang menabraknya masih dalam penyelidikan polisi.
Alfaro sampai di rumah sakit dan melihat istrinya yang sudah sangat kacau. Wajah sembab itu sudah menjelaskan bagaimana keadaan Anna saat ini.
“Ann.” Alfaro langsung memeluk Anna yang kembali menangis. “It’s okay. Aku sudah kirim orang untuk menyelidiki kejadian ini.”
__ADS_1
Anna tahu suaminya tidak akan tinggal diam karena pelakunya masih belum ditemukan.
“Kak, aku takut kehilangan Mommy. Kenapa masalah datang berturut-turut, Kak?”
“Tidak akan, Anna. Kita berdoa saja ya. Tenangkan pikiran kamu, ingat ada anak kita juga yang akan ikut sedih kalau kamu sedih.” Alfaro sangat khawatir dengan keadaan istrinya yang sedang hamil. Kecelakaan ibunya pasti membuat Anna stres dan bisa berakibat pada bayinya.
Sementara itu, Rafael sedang direpotkan oleh istrinya yang minta rujak es krim karena foto liburan yang ada di sosial media teman SMA-nya.
“Kamu tanya teman kamu dong, belinya di mana.” Rafael sibuk membolak-balik berkas pekerjaannya.
“Itu sangat jauh, Al. Aku akan suruh Felix atau Ria saja ya,” tawar Rafael yang masih sangat sibuk dengan pekerjaannya.
“Tidak mau. Aku maunya langsung dimakan. Kalau kelamaan pasti es krimnya udah leleh, enggak enak.” Alisha benar-benar ingin menikmati sensasi pedas, manis, dan dingin yang akan dirasakan saat makanan itu masuk ke mulutnya.
“Kalau begitu, tunggu ya. Aku sebentar lagi ada meeting, Sayang.” Rafael mendekati istrinya lalu mencium perut Alisha yang buncit. “Anak daddy mau menunggu sebentar, ‘kan?”
__ADS_1
“Iya sudah, tapi jangan lama-lama, nanti keburu tutup.”
Alisha tidak begitu rewel dengan kehamilan dan keinginan anehnya selama hamil ini. Apa pun yang Alisha mau, Rafael pasti berusaha mewujudkannya.
Selesai rapat yang berhasil selesai dengan cepat, Alisha dan Rafael mendatangi penjual rujak es krim yang Alisha mau. Setelah hampir dua jam mencari, akhirnya mereka menemukan penjual rujak es krim yang berjualan di depan ruko. Gerobaknya yang tidak terlalu besar dan spanduk yang tidak begitu jelas membuat ibu hamil dan suaminya itu cukup kesulitan mencari.
Setelah memarkir mobilnya, Rafael mendatangi penjual itu.
“Oh, maaf Pak, sudah habis semua. Kami sudah mau tutup,” kata penjual itu saat Rafael memesan dagangannya.
“Loh ini masih ada, masa' satu porsi saja tidak ada,” protes Rafael.
“Ini sudah dipesan oleh orang, Pak. Orangnya masih belanja di dalam,” jawab penjual itu.
Tidak mungkinkan dia bilang pada Alisha yang menunggu di mobil bahwa keinginannya tidak bisa terwujud hari ini?
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 💋