Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 62


__ADS_3

Seperti yang Alfaro katakan, laki-laki itu akhirnya menemani Anna untuk berlatih menghilangkan rasa traumanya. Dia sampai rela terlambat ke kantor untuk menemani sang istri.


Dengan tangan bergetar, Anna membuka pintu mobil dan kemudian duduk di sana. Bekali-kali dia memejamkan mata untuk menghilangkan bayang-bayang kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun lalu.


“Anna, kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanya Alfaro. Dia sedang mendudukkan Satria di kursi belakang yang sudah terpasang jok khusus untuk bayi dan anak-anak.


Anna mengangguk. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa melawan rasa takut. Keringat dingin mulai keluar dari kening Anna dan membuat dadanya terasa sesak. Anna sangat takut sebenarnya, tapi dia tidak ingin menyerah sebelum mencoba.


Paham dengan keadaan sang istri, Alfaro langsung mengusap wajah Anna dan memberi semangat.


“Aku yakin kamu bisa, Ann.” Alfaro mengepalkan tangan ke udara. “Satria, kasih semangat buat Mommy, semangat Mommy!”


“Mommy, semangat ya! Mommy pasti bisa,” kata Satria yang meski tidak mengerti keadaan Anna, tapi dia sangat antusias memberikan dukungan untuk sang ibu.


Melihat Satria, Anna bertekad untuk bisa melawan rasa takutnya. “Iya, Sayang. Makasih anak mommy ganteng.”


Alfaro meraih tangan Anna dan menggenggamnya. “Kamu siap?” tanyanya.


Meski masih berdebar-debar, Anna pun mengangguk. “Iya, Kak. Aku siap.”

__ADS_1


Alfaro menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya dengan perlahan. Dia harus tenang karena Anna sudah mulai terlihat tegang.


“Relaks, Anna. Bayangin aja, di depan ada masa depan kita. Anak-anak kita yang sedang bermanja di pelukanmu. Kamu harus bisa menghilangkan rasa takutmu, Sayang.”


Hari itu, Anna berlatih dengan sekuat hati. Meski tidak mudah, tapi dia tidak menyerah. Hari itu ia gagal, karena bayang-bayang kecelakaan itu masih terus menghantui pikirannya.


Namun, Alfaro juga tidak menyerah. Dia terus mendorong Anna untuk melawan rasa takutnya. Hingga dua minggu setelah memulai, Anna berhasil melawan rasa takutnya.


Saat ini, dia sudah mulai menyetir sendiri ditemani Alfaro dan Satria yang menjadi sumber kekuatannya.


***


***


“Kamu kenapa kemarin enggak dicobain dulu sih, Sus. Sekarang jadi repot gini, ‘kan.” Alisha terus mengomel mencari-cari pakaian cadangan jika nanti setelan yang dikirim untuk Shaka juga tidak muat.


Sementara mommy dan pengasuhnya ribut, Shaka dengan santai duduk di depan TV sambil menikmati biskuit kesukaannya.


Rafael datang dengan ekspresi bingung. “Kok Shaka belum siap, Al?” tanya laki-laki itu lalu mendekati putranya.

__ADS_1


“Iya, baju yang kita pesen itu ternyata enggak muat. Butiknya dalam perjalanan kirim baru tapi aku takut enggak muat juga nanti makanya aku cariin dulu yang pas,” jawab Alisha.


“Makanya, jangan kebanyakan makan, Shaka.” Rafael mengangkat tubuh bocah itu menyingkir dari makanan.


“Ah, Daddy Shaka masih lapel,” protes bocah itu.


“Udah jangan banyak makan, nanti di sana juga banyak makanan kok.” Rafael mengelap tangan dan mulut Shaka dengan tisu basah supaya bersih dan bisa segera bersiap.


“Shaka boleh makan semuanya, Dad?” Bocah itu kembali semakin antusias. Kalau soal makan, dia memang jagonya.


“Iya, tapi enggak boleh bikin malu daddy ya. Awas aja nanti kamu makan semuanya terus teman daddy tanya. Anak siapa itu banyak makan, pasti di rumah enggak dikasih makan. Terus ada yang jawab, oh itu Shaka, anaknya Rafael Hartono. Iya ya, makannya banyak banget, pasti enggak pernah makan enak. Gitu, bikin malu Daddy namanya.”


Shaka mendengar dengan seksama dan membayangkan apa yang sedang daddynya itu bicarakan.


“Kalau gitu, Shaka sembunyi aja di bawah meja, bial enggak ada yang lihat Shaka mamam banyak. Boleh ya, Dad?”



Mereka bukan anak kembar ya aslinya. Tapi, adik kakak. Gemesin kan, kayak othornya 😚😚

__ADS_1


__ADS_2