
Anna menarik tangan Alfaro hingga laki-laki itu melihat penampilan istrinya yang begitu menggoda. Susah payah Alfaro menelan ludahnya saat melihat tubuh padat berisi Anna. Wanita itu tersenyum menggoda dan mulai menyentuh kulitnya.
“Kakak mau ke mana? Bukankah seharusnya kita memang melakukannya?” tanya Anna.
“Anna, aku tidak akan bisa kalau kamu begini. Apa kamu juga menginginkannya?”
Tanpa Alfaro duga, Anna tiba-tiba mencium bibir laki-laki itu sekilas dan lalu berjalan menuju tempat tidur.
Lekukan tubuh dan pinggul Anna yang melenggak-lenggok membuat Alfaro tidak tahan lagi. Dia mendekap dan mulai menyerang Anna dari belakang.
Secara spontan, tangan Alfaro mulai membelai dan merasakan kenyalnya tubuh Anna. “Aku mencintaimu, Anna.” Bisikan-bisikan lembut di telinga Anna mulai membangkitkan sisi liar keduanya.
Ciuman dan sentuhan saling bergantian demi tercapainya tujuan bersama. Anna merasa tubuhnya ringan dan melayang-layang.
Hingga akhirnya, dengan napas yang tersengal-sengal dan ketegangan maksimal, Alfaro mengarahkan bagian tubuhnya yang sudah tegak menjulang. Sambil mencium bibir Anna dengan lembut, laki-laki itu mengarahkan miliknya untuk memasuki Anna.
Anna menjerit kesakitan saat benda tumpul yang berurat itu bergerak semakin masuk ke tubuhnya. Hingga sesuatu yang selama ini dijaganya terkoyak oleh benda itu.
Alfaro tersenyum bahagia. Dia mencium mata Anna yang mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Kini mereka telah menyatu dalam kesempurnaan cinta.
“Anna, apa kamu menyesal?” tanya Alfaro saat memberikan waktu Anna untuk menyesuaikan tubuhnya yang terasa penuh.
Wanita itu menggeleng cepat. Dia bahagia, meski belum mencintai Alfaro, setidaknya dia memberi hadiah istimewa pada laki-laki yang mencintainya selama delapan tahun ini.
“Aku tidak menyesal, karena Kak Al adalah suamiku,” jawab Anna yang mulai menerima Alfaro.
“Aku akan bergerak, kalau masih sakit kamu bebas membalasku,” kata Alfaro yang kini mulai menggerakkan tubuhnya keluar masuk dalam tubuh Anna.
Kuku-kuku Anna yang panjang mulai menembus kulit punggung Alfaro, tapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan kenikmatan yang dia dapatkan.
Semakin lama, Anna semakin terbiasa. Rasa sakit dan perih yang awalnya sangat menyiksa, perlahan berubah menjadi kenikmatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Mereka saling berciuman sebelum melepaskan penyatuan.
“Anna, terima kasih, aku sangat bahagia.”
“Aku juga.”
__ADS_1
***
***
Sementara itu di kamar hotel yang lain, Alisha dan Rafael juga baru saja menyelesaikan kegiatan mereka.
“Mas, apa mereka melakukannya?” tanya Alisha penasaran. Dia sedang bermanja di lengan suaminya sambil mengelus Naga Sakti yang baru selesai bekerja keras.
“Pasti, Sayang. Aku sudah mencampur sesuatu ke minuman Kak Al, dan kamu juga sudah meracuni pikiran Anna, ‘kan? Pasti mereka sekarang masih beradu peluh,” jawab Rafael sambil terkekeh.
Laki-laki itu lalu menggenggam buah pir Alisha dan memeriksanya. “Udah makin gede, bentar lagi berubah jadi pepaya, Al.” Mulutnya langsung melahap dengan gemas santapan lezat dan bergizi milik Alisha.
“Pepaya Thailand?” Alisha balas mengusap kepala suaminya yang terus menghisap seperti bayi.
“Pepaya mana aja yang penting tetep enak,” jawab Rafael lalu melanjutkan kegiatannya. Tangannya yang menganggur mulai bergerak turun dan membelai irisan kiwi yang sudah cukup istirahatnya.
“Mas, besok lagi ya, aku mau istirahat, capek banget.”
“Ya udah kamu tidur aja, aku bisa kerja sendirian, Al.”
__ADS_1
***
Wkkkk jan protes kurang hot. Di sini udah hot banget, panas 🤣🤣