
Pertanyyan Alisha membuat Rafael perlahan berhenti mengisap buah pir di mulutnya. Dia mengecup kening istrinya itu kemudian menatap matanya. Dia tersenyum lalu mengecup kedua pipi Alisha dengan sayang.
"Aku sudah merasa takut kehilangan sebelum merasakan tubuhmu. Saat itu, aku melakukan segala cara supaya kamu tetap berada di sampingku, termasuk membuatmu hamil. Jujur, aku tidak tahu apa itu cinta atau bukan. Yang sekarang aku rasakan itu, kamu mengusai hati dan pikiranku," ucap Rafael sebelum akhirnya mencium tangan kiri Alisha.
Alisha tertegun mendengar penuturan suaminya. Saat dia ingin membalas ucapan suaminya, tiba-tiba ponsel Rafael berdering.
"Aku angkat telfon bentar ya." Rafael mencium bibir Alisha sekilas sebelum akhirnya meraih ponselnya di nakas.
Pria itu diam sejenak, seolah bimbang antara menjawab panggilan itu atau tidak. Dia menundukkan kepala sambil berpikir apakah dia harus menjawab panggilan itu atau tidak?
Alisha melihat punggung suaminya yang tidak tertutup apa pun. Selimut tebal mereka tersingkap dan hanya menutupi perut ke bawah, membuat laki-laki tampan itu terlihat sangat seeksi.
"Mas, siapa yang nelfon?" tanya Alisha yang kini ikut duduk sambil bersandar di pundak Rafael.
Rafael menoleh sekilas lalu kembali manatap ponselnya yang kembali berdering. Terlihat nama Anna dalam layar ponsel itu, membuat Alisha mengendurkan pelukannya.
"Sebentar ya, Al," kata Rafael mengusap kepala Alisha pelan.
__ADS_1
"Halo!" Rafael menjawab panggilan dari seseorang yang masih terikat hubungan dengannya.
"Hai, Beb. How are you? Ke mana aja sih aku cari-cari kamu susah banget," tanya wanita.
Tentu saja Alisha tidak begitu mendengar apa yang diucapkan oleh lawan bicara suaminya di telepon.
"Baik kok. Kamu kapan ke sini, ada yang mau aku bicarakan," jawab Rafael.
Mendengar suara suaminya yang lembut, Alisha merasa suaminya memang memiliki hubungan dekat dengan Anna. Entah itu hubungan spesial atau bukan, tapi yang jelas Alisha sadar Anna lebih dulu mengenal suaminya dibanding dirinya sendiri.
Rafael menundukkan kepala lagi. Helaan napas yang berat terdengar jelas sebelum akhirnya dia menjawab.
"Oke, aku akan jemput kamu."
"Oke, see you, Beb."
Telepon terputus, dan Rafael kini memegang kepalanya yang berdenyut. Inikah saat yang tepat menceritakan semuanya pada Anna?
__ADS_1
Alisha tidak memberi respon apa pun. Dia tahu suaminya akan menemui tunangan yang hubungannya belum diakhiri. Wanita itu turun dari tempat tidurnya dan meraih handuk yang tergeletak tak jauh dari sofa.
"Al, aku mau bicara," kata Rafael saat menyadari bahwa istrinya sedari tadi mendengarkan pembicaraannya.
Terlambat. Alisha sudah masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu sebelum akhirnya dia melepas handuk dan mengguyur tubuhnya dengan air shower.
Apa dia akan datang sekarang? Apa dia akan merebut posisiku? Apa yang akan dilakukan Mas Rafael pada aku dan Anna?
Alisha merasakan sesak yang teramat dalam. Dia sampai berkali-kali memukul dadanya yang terasa perih. Baru saja mereka bahagia, apa Anna akan menjadi batu sandungan yang membuat pernikahan mereka goyah?
Mungkin ini hanya perasaan Alisha saja. Bisa saja 'kan Anna akan mengikhlaskan Rafael bersama Alisha, apalagi saat ini mereka sudah menikah dan bahagia.
Wanita itu menangis dalam derasnya kucuran air yang mengalir membasahi tubuhnya. Hingga saat hatinya mulai sedikit tenang. Dia memberanikan diri menemui suaminya.
Saat Alisha memasuki kamar mereka. Suaminya sudah tidak ada lagi di sana. Kemana dia? Apa dia pergi menemui wanita itu tanpa berpamitan dengannya?
Hari senin, bagi votenya ya 💋 Kuusahakan update 3 bab meski sibuk banget harus ke dokter gigi 🥲ðŸ¤
__ADS_1