Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 47


__ADS_3

Alisha menjerit takut saat merasakan tangan besar meraaba tubuhnya. Entah siapa yang berani menyentuhnya itu. Kamar dalam keadaan gelap membuat penglihatan Alisha jadi terbatas.


“Sayang, kenapa kamu berteriak? Kamu bisa bikin Shaka bangun, Sayang.”


Suara Rafael yang sedang membekap mulut Alisha membuat wanita itu bernapas lega. Untung saja, yang datang adalah suaminya sendiri. Bagaiamana jadinya kalau yang datang adalah laki-laki lain.


“Mas, kamu kayak genderuwo tau enggak.” Alisha melepas bekapan tangan suaminya dengan kasar. Napasnya masih terdengar ngos-ngosan menahan takut dan juga khawatir.


“Suami kasih kejutan malah dibilang genderuwo. Kamu gimana sih, Sayang.” Rafael menyalakan lampu kamar hotel dan melihat wajah istrinya yang seperti habis lari maraton.


“Kejutan kamu itu serem, Mas. Gimana kalau besok-besok ada orang lain masuk ke kamar kita, dan aku pikir itu kamu.” Alisha berusaha menahan diri untuk tidak memaki suaminya. Kalau saja apa yang dia pikirkan menjadi nyata, pasti itu akan menjadi masalah besar.


Rafael mengerutkan kening. Niatnya memberikan kejutan untuk Alisha malah berakhir kena omel. Dia memeluk istrinya yang masih sangat marah “Sayang, mana mungkin ada orang yang berani masuk ke kamar kita? Ayolah! Jangan marah, aku datang karena merindukanmu,” kata Rafael sambil mengusap rambut sang istri dengan sayang.


“Benar merindukanku, atau karenatakut puasa satu bulan?” Alisha mendongak dan menatap mata suaminya.


Laki-laki itu terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Merindukanmu dan Shaka, Sayang. Kalau sampai puasa ‘kan kasihan kamu juga,” jawab Rafael sembari mengecup kening Alisha. “Shaka, jangan bangun ya, biar mommy sama daddy bisa bikin adek buat kamu,” bisik Rafael yang seolah bicara dengan putranya.


“Semoga aja Shaka bangun pas enak-enaknya,” goda Alisha sambil tersenyum mengejek suaminya.

__ADS_1


“Ya enggak bisa dong. Kalau pun Shaka bangun tetep aku lanjut biar enggak pusing, Al.” Rafael merebahkan tubuh Alisha dengan sangat lembut. Pelan-pelan mengusap kepalanya lalu memberi ciuman mesra sebelum memulai ritual mereka.


***


***


Hari ulang tahun Shaka dan Satria akhirnya tiba. Dengan dihadiri seluruh anggota keluarga lengkap, termasuk kedua orang tua Anna, dua bocah tampan itu meniup lilin ditemani kedua orang tua mereka.


“Selamat ulang tahun, Sayang.”


Berbagai doa dipanjatkan untuk kedua bocah yang sedang berbahagia itu. Tidak hanya mainan, tapi mereka juga mendapatkan hadiah saham.


“Mama sama papa sudah membagi semua kekayaan untuk kalian berdua. Jadi, kami harap tidak ada masalah rebutan warisan kalau nanti kami tidak ada,” kata Papa Arya dengan sedih.


Rafael langsung bereaksi. “Pa, jangan bicara seperti itu, aku sama Kak Al enggak mungkin rebutan harta. Kami bahkan saling mendukung satu sama lain, bagaimana bisa kami rebutan harta seperti yang Papa pikirkan.”


“Ya, kami tahu. Tapi, itu juga demi kebaikan kalian.” Papa memiliki alasan khusus. Setiap orang tua tidak ingin anak-anaknya berseteru. Mungkin tidak saat ini, tapi tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan.


***

__ADS_1


Rafael dan Alfaro duduk bersama menghadap pantai di hadapan api unggun. Mereka mendiskusikan usulan orang tuanya untuk memecah perusahaan menjadi dua bagian.


“Kak, kenapa kita harus terpecah. Bukankah akan lebih baik jika kita bersatu untuk mengembangkan perusahaan. Kita bisa membagi keuntungan sama rata,” kata Rafael. Pandangannya lurus ke depan. Menikmati terjangan ombak yang hilang saat menyapu tepian.


“Mungkin Papa sama Mama ingin kita lebih mandiri El. Mungkin kita tidak masalah, tapi belum tentu anak-anak kita nantinya,” balas sang kakak yang juga menatap lurus obak di pantai. “Ya, mungkin seperti pamannya Alisha yang terus berusaha mengambil alih perusahaan.”


Rafael menghela napas berat. Dia memang sedang menghadapi masalah dengan paman istrinya itu, dan sampai sekarang Rafael belum menceritakan masalah yang sebenarnya pada Alisha.


“Aku belum memberitahunya, Kak.” Rafael menundukkan kepala. Meski dia pemimpin yang hebat, paman Alisha sangat pandai memanipulasi keadaan.


“Kalau kamu memberitahu Alisha. Dia pasti akan langsung kembali ke perusahaan. Tapi setidaknya itu akan lebih baik El. Menutupi kebenaran, tidak akan membuat semuanya jadi baik-baik saja.”


“Aku pasti bisa mengatasinya. Masalah ini semakin besar hanya karena aku kurang fokus saja. Mungkin aku terlalu meremehkan musuh, tapi sekarang tidak lagi. Aku akan fokus dulu sama perusahaan Alisha,” kata Rafael.


Alisha dan Anna yang baru pulang jalan-jalan mendadak muncul dan hanya mendengar percakapan Alfaro dan Rafael sebagian saja.


“Ada masalah apa, Mas? Apa yang kamu remehkan?” tanya Alisha bingung.


Rafael dan Alfaro yang tidak menyadari kehadiran dua wanita itu, mendadak saling pandang dan juga bingung.

__ADS_1


**


Kembang kopinya dulu jangan lupa 😚😚


__ADS_2