
Dokter mengizinkan Alfaro untuk membawa Anna pergi ke luar negeri. Dia tidak peduli lagu dengan nasib perusahaan Anna yang penting sang istri bisa selalu bersamanya. Dia juga sudah menugaskan beberapa orang untuk merawat ibu Anna yang memilih untuk memaafkan daddy Anna.
“Kak, aku khawatir sama Mommy,” kata Anna setelah Alfaro mengatakan akan membawanya pergi ke Singapura.
“Mommy sudah ada yang jaga Ann, ada Daddy juga yang akan mengurus perusahaan,” balas Alfaro. Dia sudah sangat kesal karena sedari tadi Anna seolah berat meninggalkan orang tuanya, dengan alasan Catherine sudah ditangkap dan tidak mungkin akan bisa membahayakannya. Alasan yang konyol menurut Alfaro.
“Anna, ikut saja suami kamu, mommy di sini baik-baik saja, kok. Kamu lebih aman kalau sama suami kamu, Ann,” kata mommy Anna yang turut meyakinkan putrinya untuk pergi ikut dengan suaminya.
Setelah pertimbangan panjang itu, Anna akhirnya setuju untuk ikut bersama Alfaro ke Singapura. Alfaro akhirnya bisa lega karena dia bisa merawat istri dan calon anak mereka.
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, kini Alisha dan mertuanya sedang sibuk mempersiapkan acara tujuh bulanan untuk dua wanita hamil sekaligus. Alisha lebih banyak duduk dan mengamati orang-orang yang sedang menghias rumah besar milik keluarga Hartono. Sedangkan Mama Syana sibuk mengatur dan mengoceh ke sana ke mari.
“Menurut kamu bagaimana dekorasinya, Sha? Apa sudah cantik?” tanya Mama Syana yang kini ikut duduk di samping menantunya. Dia perhatikan menantunya yang sudah menghabiskan satu kotak salad buah dalam waktu singkat.
“Aku suka kok, Ma. Menurutku, dekorasinya juga sesuai yang kita mau,” jawab Alisha.
“Ya, semoga Anna juga suka ya, Sayang.”
__ADS_1
“Aku suka kok, Ma.”
Suara itu membuat Alisha dan Mama Syana menoleh dan sangat terkejut saat melihat Anna sudah berdiri di belakang mereka.
“Ya ampun, Al, Anna. Kalian kok sudah datang.” Mama Syana menyambut anak dan menantunya dengan pelukan hangat.
Anna dan Alfaro memang sengaja datang lebih awal karena ingin berkumpul sebentar dengan keluarga Hartono.
“Iya, Ma. Biar surprise,” jawab Anna.
Alisha memperhatikan tubuh Anna yang sama sekali tidak berubah selain perutnya yang buncit. Wajah dan tubuhnya tetap terawat dengan baik, membuatnya iri saat melihat tubuhnya yang gendut dengan pipi tembam.
“El ke mana, Al?” tanya Alfaro yang menyadari kedua wanita hamil itu saling berpandangan.
“Masih perjalanan pulang. Kita juga menginap kok,” jawab Alisha.
“Makin bulat ya kamu,” kata Alfaro sambil tersenyum.
__ADS_1
“Maksudnya aku gendut?” balas Alisha dengan raut kesal. Dia sangat sensitif jika membicarakan masalah postur.
“Mas, Kak Al bilang aku gendut,” adunya setelah melihat suaminya datang.
Rafael yang baru datang jadi bingung karena tiba-tiba ada Alfaro dan Anna, juga raut wajah istrinya yang terlihat merajuk.
“Eh, bukan gendut, Al. Tapi bikin gemes,” sahut Alfaro merasa bersalah.
“Mungkin Kak Al kagum sama kamu, Sayang. Lihat Anna yang kayak kurang sehat begitu, ‘kan?” Rafael memeluk Alisha sebelum istrinya itu menangis.
“Maksud kamu aku penyakitan?” Giliran Anna yang tersinggung. “Aku juga mau bisa makan sepuasnya kayak Alisha.”
Keributan mulai terjadi. Papa Arya yang baru datang langsung dibuat pusing dengan anak dan menantunya yang saling meributkan hal yang menurutnya tidak penting.
“Pa, mama pusing.”
“Papa juga, Ma.”
__ADS_1
Kembang kopinya jangan lupa 🤗💋💋