Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 99


__ADS_3

Rafael mengajak Alfaro untuk masuk ke rumah yang telah disewanya. Alisha ikut mendengarkan apa pembicaraan Alfaro dan Rafael karena Rafael sendiri yang memintanya.


"Kak Al jauh-jauh ke sini karena Mama? Apa dia tidak bilang bahwa dia tidak perlu menganggapku anak lagi?" tanya Rafael dengan kesal. Dia masih kecewa dan sakit hati dengan sikap mamanya pada Alisha.


Alisha benar, ucapan seorang ibu adalah doa untuk anak-anaknya. Jika saja mamanya tidak berucap kejam seolah tidak menginginkan cucu dari rahim Alisha, mungkin saja kehamilan Alisha tidak akan bermasalah.


"Sebenarnya, kakak ada kerjaan dekat sini. Jadi, sekalian mampir saja. Kamu tahu 'kan, pengunduran diri kamu itu menimbulkan banyak masalah, dan kakakmu ini yang terkena imbasnya," jawab Alfaro.


"Itu bukan urusanku, Kak. Mereka tidak ingin aku bahagia, buat apa aku bertahan di perusahaan. Biar saja Papa dan Kak Al pusing sendiri. Kakak pulang saja!" balas Rafael yang terdengar semakin ketus.


Tindakan orang tuanya yang menghalang-halangi kebahagiaanya, membuat Rafael seolah tidak dianggap anak oleh mereka. Karena hal itulah, rasa pedulinya pada kedua orang tuanya mulai terkikis perlahan-lahan.


"Mas." Alisha menggenggam tangan Rafael. Sebagai istri, dia tidak mau suaminya menjadi durhaka.

__ADS_1


Rafael menghela napas berat. Tatapan sendu istrinya sudah membuatnya gila. Mana bisa dia menolak jika sudah begini. Akhirnya, dia terpaksa mendengar penjelasan kakaknya.


"Mama sakit kanker serviks, El. Temui Mama dan berbaikanlah. Mama sama Papa pasti senang kalau kamu datang," kata Alfaro.


Rafael memicingkan mata, dia tidak salah dengarkan?


"Kanker? Stadium berapa?" Dada Rafael mulai bergemuruh, meski dia kecewa pada mamanya, tapi dia juga tidak tega jika mamanya sampai menderita penyakit ganas seperti itu.


"Baru stadium 1A, tapi kalau tidak cepat ditangani bisa semakin parah."


Setelah mengatakan itu pada Alisha, Rafael langsung masuk ke kamarnya. Dia tidak ingin terpengaruh oleh cerita kakaknya. Baginya, sakit sang mama mungkin hanya alasan saja untuk membuatnya kembali mengurus perusahaan.


"Kak, biar aku yang ngomong sama Mas Rafa. Sepertinya dia masih sangat kesal," kata Alisha yang jadi tidak enak karena sikap suaminya itu.

__ADS_1


"Alisha, kamu pasti masih sangat sakit hati dengan sikap Mama ya?" tanya Alfaro.


"Walaupun aku kecewa, tapi aku sadar, Kak. Mama sangat menyayangi Mas Rafa. Mungkin Mama hanya tidak ingin memiliki menantu yang tidak sesuai harapannya. Apalagi pertemuan pertama kami memang sangat tidak bagus. Aku berani melawan Mama waktu itu," jawab Alisha.


Alfaro mengangguk. Dia menghela napas sejenak sebelum akhirnya kembali bicara. "Kamu baik, Al. Pantas saja Rafael mempertahankan kamu. Mama mungkin salah paham saja, tapi aku janji akan berusaha mendekatkan kalian."


Laki-laki itu akhirnya berpamitan pulang. Lalu, Alisha menemui suaminya di kamar. Rafael sudah tiduran di kamar sambil melipat kedua tangan yang dijadikan bantal.


"Mas, kayaknya kita harus ketemu, Mama." Alisha berjalan menghampiri Rafael.


"Buat apa? Papa itu kaya, Al. Papa pasti akan melakukan segalanya untuk kesembuhan Mama. Lagipula, Mama itu baru stadium awal. Kemungkinan untuk sembuh itu delapan puluh lima persen. Jadi, tidak usah pikirkan. Selama Mama tidak berubah dan berusaha memperbaiki sikapnya sama kamu, aku tidak akan menemuinya," ucap Rafael dengan tegas.


"Tapi, Mas. Dia mama kamu, yang melahirkan kamu. Mama pasti butuh suport dari kamu. Apa kamu menunggu Mama parah baru mau memaafkannya?"

__ADS_1


"Alisha stop! Jangan bahas Mama lagi. Labih baik kita rencanakan kapan kita punya anak." Rafael memainkan alisnya naik turun. "Kita harus temui dokter untuk konsultasi program hamil lagi setelah keguguran. Kamu setuju, 'kan?"


Kembang kopinya jangan lupa gaes 💋💋


__ADS_2