Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 67


__ADS_3

Berhadapan dengan istri yang galak, tidak hanya Bara saja yang langsung ciut nyalinya. Ternyata, Rafael juga mengalami hal yang sama. Mereka sama-sama suami takut istri.


“Kalian lagi gibah apa sih?” tanya Sheina menatap curiga pada ketiga papa muda itu.


“Lagi bahas bagaimana caranya kita anu-anu tapi pas anak enggak mau tidur sendiri,” jawab Mondy yang malah membuka aib mereka sendiri.


“Oh, jadi kalian dari tadi bahas begituan,” sahut Alisha yang ikut geram. Dia menyilangkan tangan di depan dada dan menatap suaminya dengan sorot tajam. Memang pantas Rafael menyebutnya galak, karena Alisha memang benar-benar galak.


“Ini juga demi kebaikan kita, Al.” Rafael mengusap punggung istrinya yang masih melirik tajam.


“Dasar RT somplak. Jaga rahasia kenapa sih, laki kok mulutnya kayak perempuan saja,” cibir Bara yang juga sedang ketar-ketir dengan kemarahan istrinya.


“Jujur itu lebih baik, Barakokok.”


Alisha ingin tertawa melihat perseteruan Bara dan Mondy, tapi dia tidak ingin menunjukkannya di hadapan Rafael karena saat ini dia sedang marah.


“Kita pulang aja, Mas!” ajak Alisha.


“Ya sudah yuk, Shaka mana?”


“Kenapa buru-buru pulang sih, kita makan malam dululah, Al.” Sheina jadi merasa tidak enak karena Alisha dan Rafael akan pulang saat mereka dalam keadaan seperti ini.


“Kamu sih, Mom. Masih ada mereka galaknya disimpan buat nanti aja dong.” Bara menatap istrinya, merasa tidak enak juga dengan Rafael dan istrinya.


“Enggak apa-apa kok, Shein. Makan malam juga masih lama, kita pulang dulu aja.” Alisha mengerti perasaan Sheina yang sungkan karena dia mendadak ingin pulang. “Kak Shaka, kita pulang yuk, Sayang!”


Shaka menoleh pada Alisha. Dia saat ini memegang es krim yang tadi diberikan oleh Gabriel.

__ADS_1


“Mommy. Shaka sudah mau pulang ya?” tanya Gabriel yang masih ingin bermain dengan Shaka.


“Iya, Gab. Tante Alisha mau ajak Shaka pulang,” jawab Sheina.


“Kakak Gabriel, Shakanya pulang dulu ya, nanti kapan-kapan main lagi,” kata Alisha sambil berjalan menghampiri Shaka. Dia mengelap tangan dan mulut bocah itu dengan tisu basah karena es krim Shaka belepotan.


“Iya, Tante. Besok-besok main lagi ya,” balas Gabriel. “Mommy, Biel ingin punya adik cowok kayak Shaka, gemesin.” Bocah yang hampir berusia sepuluh tahun itu memeluk perut ibunya yang buncit.


“Ya, semoga saja nanti adiknya cowok.” Sheina mengusap pelan rambut Gabriel yang kini sudah tumbuh besar.


***


Saat ini Alisha dan Rafael sudah dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Shaka tiba-tiba teringat mainan yang tidak dibelikan oleh ibunya dan terpaksa harus dikembalikan lagi ke rak.


“Daddy, belikan Shaka lobot ya. Shaka pengen beli tapi sama Mommy enggak boleh,” adu Shaka pada sang ayah yang sedang menyetir.


“Enggak mau. Shaka pengen beli lobotnya, tapi Mommy bilang Shaka enggak boleh mamam sehalian,” kata Shaka yang terlihat sangat sedih dengan apa yang dialaminya saat ini.


“Kenapa sih, Al?” tanya Rafael bingung.


“Mainannya Shaka itu sudah banyak banget, Mas. Yang belum dibuka bungkusnya juga masih banyak. Apa rumah kita mau dijadikan penumpukan barang-barang mahal begitu?”


“Shaka masih kecil, mana ngerti dia soal begitu, Al. Lagian, kalau dia sudah bosan sama mainan-mainannya mending kita sumbangkan saja ke panti asuhan begitu ‘kan bisa. Shaka itu anak kita loh. Dulu kita sangat menunggu kehadirannya di keluarga kita. Jadi, jangan buat dia sedih ya. Aku tahu maksud kamu baik, Al. Tapi, Shaka belum ngerti. Dia masih kecil dan yang dia tahu cuma minta aja.”


Alisha menghela napas berat. Karena Shaka akan menjadi kakak, terkadang Alisha lupa, bahwa anaknya itu juga masih sangat kecil dan belum mengerti. “Maaf, Mas.”


Rafael mengusap kepala Alisha dengan sayang.

__ADS_1


“Shaka, nanti beli mainannya satu aja ya, enggak boleh borong banyak-banyak. Nanti Shaka mau tidur di mana kalau kamarnya penuh sama mainan.”


“Iya, Daddy.”


***


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Alfaro dan Anna baru pulang berkonsultasi dengan dokter untuk memulai program hamil. Anna sudah memantapkan hati untuk kembali memiliki anak demi kebahagiaan suami dan anak pertamanya, Satria.


“Anna, makasih ya karena kamu sudah berani melawan rasa takutmu,” kata Alfaro sambil memeluk Anna dari belakang.


“Semua karena kamu, Kak. Makasih juga karena kamu selalu kasih semangat buat aku.” Anna membalas perlakuan suaminya dengan memberikan kecupan mesra di bibirnya.


“Mommy, Satlia mau dipeluk juga.” Bocah tiga tahun itu tiba-tiba muncul dan mengganggu orang tuanya yang sedang bermesraan.


“Aduh. Anaknya daddy pengen dipeluk juga ternyata.” Alfaro meraih tubuh Satria dan menggendongnya.


Anna ikut memeluk suami dan anaknya yang kini semakin menggemaskan.


“Mommy, Satlia mau tidul sendili ya bial mommy bisa cepet kasih adik buat Satlia,” kata bocah itu dengan polos.


Anna menatap putranya dengan sedikit bingung karena dia tidak pernah mengajari hal seperti itu pada putranya.


“Memang Satria kata siapa?” tanya Anna.


“Katanya Daddy,” jawab Satria sambil menatap Alfaro malu-malu.


***

__ADS_1


Wkkk daddy udah berhasil meracuni otak Kak Sat nih 😂


__ADS_2