
Kamar bernuansa putih itu menjadi saksi bisu rapuhnya dua orang yang telah kehilangan calon anak yang sangat mereka harapkan. Rafael sang calon ayah dari janin malang itu sampai mengeluarkan air matanya karena duka mendalam yang ia rasakan. Dari awal, Rafael sangat menginginkan anak itu supaya hubungannya dengan sang istri bisa semakin dekat sehingga tidak ada kata perpisahan lagi di antara mereka.
“Kamu percaya, Mas. Kata itu adalah doa. Apalagi kata yang keluar dari mulut seorang ibu. Pasti langit pun mendengarkan doa itu. Aku cuma nggak habis pikir saja sama Mama. Kenapa Mama tega mengatakan kalau mama tidak menginginkan cucu yang keluar dari rahimku?”
Alisha menatap kosong jendela kamarnya yang terbuka. Wanita yang baru sebentar merasakan kehamilan itu masih sangat kecewa dengan sikap dan ucapan sang mertua yang sampai membuatnya gagal mempertahankan janinnya.
“Al, Mama mungkin tidak menyukai kamu, tapi bukan berarti apa yang mama katakan itu semua akan menjadi kenyataan. Aku sangat yakin kalau kamu bisa hamil lagi setelah ini. Justru, kalau kita lemah, tujuan Mama akan berhasil yaitu memisahkan kita. Kamu mengerti, Al?”
Rafael terus meyakinkan Alisha bahwa cinta mereka jauh lebih kuat dari apa yang mamanya pikirkan. Pelukan hangat Rafael sudah cukup meyakinkan wanita itu bahwa mereka bisa melewati semuanya bersama-sama.
“Besok aku akan menemui orang tua Anna. Aku akan membatalkan pertunangan itu secara resmi. Jadi, Mama dan Papa tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk menghancurkan pernikahan kita. Setelah itu, aku akan keluar dari perusahaan dan bekerja untukmu saja.”
Sebuah senyuman tersungging indah dari bibir Rafael. Walau hatinya masih terluka, tapi laki-laki itu tetap berusaha membuat Alisha tersenyum dan mengikhlaskan apa yang telah pergi.
__ADS_1
"Setelah ini, apa kita akan benar-benar bahagia, Mas?" tanya Alisha yang menghambur dalam pelukan Rafael.
"Akan aku usahakan, Al. Semua yang membuatmu bahagia, pasti akan aku lakukan, asal kamu tetap bersamaku, selamanya."
***
***
Menunggu dengan perasaan gelisah membuat Alisha tidak tenang. Pasalnya, ini pertama kalinya sang suami pergi sendiri tanpa didampingi oleh siapa-siapa dan itu menciptakan rasa khawatir yang berlebihan di hati Alisha. Wanita itu sangat takut jika sampai terjadi sesuatu pada Rafael.
“Ria, kenapa dia belum menghubungiku? Apa dia baik-baik saja?” tanya Alisha yang sedari tadi keluar masuk aplikasi pesan di ponselnya.
Felix memperhatikan gelagat istri tuannya itu dan menyimpulkan sesuatu, bahwa Alisha pasti sudah mencintai Rafael. Rasa cinta yang sangat diharapkan Rafael melebihi keinginannya untuk menjadi seorang ayah.
__ADS_1
”Tuan Rafael pasti baik-baik saja, Bu. Kita doakan saja,” jawab Ria. Wanita itu juga bingung dengan sikap Alisha yang terlalu khawatir.
Kabar terakhir, laki-laki itu bilang bahwa dia akan menuju restoran untuk bertemu kedua orang tua Anna. Namun, sudah lebih dari tiga jam laki-laki itu belum memberi kabar lagi.
Alisha tentu tidak bisa merasa tenang meski sudah mendapat jawaban dari Ria. Ekor matanya kini menatap Felix yang terlihat santai padahal bosnya pergi sendiri dan entah bagaimana nasibnya.
“Asisten Felix, kok kamu santai-santai begitu sih?”
“Ya, saya harus bagaimana, Nyonya? Apa saya harus ikut-ikutan khawatir seperti Nyonya Alisha? Tuan Rafael sudah dewasa, tidak mungkin kesasar.”
Alisha memicingkan mata mendengar jawaban asisten suaminya itu. Sebagai istri, mungkin hanya dia yang mengkhawatirkan Rafael. Apakah perasaan itu terlalu berlebihan?
Kembang Kopinya jangan lupa 💋
__ADS_1