
Rafael menuntun anak laki-laki yang merupakan putra dari paman Alisha bersama Melinda. Saat melihat wajah bocah itu, para pemegang saham merasa aneh karena jelas-jelas itu bukan anak Alisha dan Rafael.
Paman Alisha yang tidak mengenali wajah putranya sendiri terlihat bingung tapi sejurus kemudian malah tertawa terbahak-bahak.
“Kamu pikir tempat ini arena bermain anak?” tanya Paman Ardi masih menertawakan Rafael.
Para pemegang saham itu menahan tawa sambil berbisik-bisik. Namun, Rafael sama sekali tidak peduli. Dia terus berjalan menuntun bocah itu sampai akhirnya naik ke panggung.
“Silakan saja tertawa sampai puas. Mungkin saja ini adalah tawa terakhir Anda,” ejek Rafael sambil menyeringai.
Wajah sang paman seketika berubah datar. Dia baru teringat jika suami keponakannya itu bukanlah laki-laki sembarangan. Dia mulai curiga jika Rafael memiliki cara licik untuk menyerangnya, tapi apa hubungannya dengan bocah itu?
Rafael menunduk untuk bisa mensejajari sepupu kecil istrinya itu. “Hei, Boy. Kamu tidak takut, ‘kan?” tanya Rafael sambil mengusap kepala bocah malang itu.
Anak itu menggeleng pelan. Matanya melirik deretan para pemegang saham di depannya, lalu kembali menatap wajah Rafael.
“Good boy. Nama kamu siapa?” tanya Rafael dengan hati-hati, takut bocah itu tidak nyaman dan akhirnya menangis.
Alisha dan para pemegang saham itu mendadak tegang karena penasaran dengan sosok bocah yang dibawa oleh Rafael.
“Ciko,” jawab bocah itu dengan suaranya yang khas anak-anak.
“Ciko, ke sini sama mama ‘kan? Bisa panggilkan mama?”
Bocah itu mengangguk cepat, lalu berdiri menuju pintu keluar untuk memanggil mamanya.
Rafael dan pamannya Alisha kini saling berhadapan. Senyum menyeringai terukir jelas di wajah sang paman. Dia pikir tadi hanyalah iklan lewat yang gagal.
“Tidak usah tersenyum menjijikkan seperti, Paman. Karena kelakuan Anda itu sudah sangat-sangat menjijikkan.” Rafael balas menyeringai.
__ADS_1
Paman Ardi yang sama sekali tidak mengenali darah dagingnya sendiri itu semakin bingung dengan apa yang dimaksudkan oleh Rafael.
“Maksud kamu itu apa?” tanya Paman Ardi mulai kesal. Dia merasa dipermainkan oleh Rafael dengan teka-tekinya itu.
“Biar dia yang menjawab,” jawab Rafael sambil menggerakkan bola matanya ke arah Melinda dan Ciko.
Paman Ardi berbalik badan dan melihat wajah Melinda yang dia campakkan setelah tahu wanita itu hamil. Kepingan memori mendadak melintasi kepalanya.
“Gugurkan bayi itu. Aku tidak sudi memiliki anak dari wanita gaampangan sepertimu.” Paman Ardi melemparkan sejumlah uang pada Melinda yang jatuh tersungkur sambil terus menangis. Di tangannya masih memegang kuat alat tes kehamilan yang menunjukkan hasil positif.
Semua ingatan itu membuat kepalanya pening. Dadanya berdebar keras saat melihat bocah itu terlihat sangat mirip dengan putra pertamanya bersama istri sah. Jika istrinya melihat anak itu, tanpa dijelaskan pun dia akan tahu bahwa anak itu adalah anak hasil perselingkuhannya.
“Bisakah Anda tertawa sekarang?” tanya Rafael dengan senyum kemenangan.
Kehancuran Paman Ardi baru saja dimulai. Rafael masih ingin menunjukkan permainan lain yang lebih seru dari ini.
Melinda berjalan mendekati Alisha. Dengan kasih sayang seorang ibu yang dimilikinya, Alisha menggendong Ciko dan membiarkan Melinda naik ke panggung, menghampiri Paman Ardi yang membeku di tempatnya. Laki-laki itu telah kehilangan jiwa percaya dirinya.
Sementara itu, para pemegang saham yang kini mendapat tontonan seru, malah semakin merasa tegang dan mulai menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.
“Mau apa kamu ke sini?” tanya Paman Ardi dengan suara bergetar.
Melinda menunduk. Meski dia sedang mempermalukan diri sendiri, tapi tidak ada pilihan lain baginya selain menerima tawaran Rafael dan Alisha yang bisa menjamin hidupnya bersama sang putra.
“Mau membalas perbuatanmu dua tahun yang lalu,” jawab Melinda sembari mengangkat kepalanya. Dia menatap laki-laki yang telah menghancurkan seluruh hidupnya itu dengan raut kebencian.
Ada Rafael di samping Melinda yang membuat wanita itu semakin berani melawan Paman Ardi.
“Perbuatan apa? Kamu perempuan muraahan yang bisa kubeli dengan iming-iming kemewahan. Jadi, apa yang mau kamu balas? Kamu hanya akan mempermalukan diri sendiri.” Paman Ardi masih mengelak, tentu dia tidak mau mengakui kesalahan di depan banyak orang. Dia tetap berusaha menyudutkan Melinda, walau sebenarnya mereka berdua sama-sama salah.
__ADS_1
“Saya tidak tertarik dengan kemewahan Anda. Waktu itu saya sudah menikah dengan laki-laki yang jauh lebih kaya dari Anda, tapi karena Anda memberi minuman itu, saya akhirnya hamil anak Anda di saat suami saya ke luar negeri.” Mata Melinda memerah menahan amarah, air matanya yang berlinang membuat mata itu berkaca-kaca.
“Hei, apa yang kamu katakan. Jangan coba memfitnah kamu ya,” teriak Paman Ardi mulai meradang.
Melinda menghela napasnya yang mulai tersengal-sengal. Mengungkap kebenaran di hadapan banyak orang ternyata tidak semudah yang dia bayangkan sebelumnya. Namun, demi membalas laki-laki licik di hadapannya itu, Melinda harus bermental baja.
“Melinda, jangan takut, kita punya buktinya,” sahut Alisha sembari berdiri. Dia tahu, Melinda tidak memiliki keberanian yang tinggi, sama seperti saat dia mengatakan bahwa dia hamil anak Rafael. Dia tidak sama sekali tidak berbakat dalam hal itu.
Ria dan Felix menyalakan proyektor yang akan menampilkan bukti-bukti kebeejatan Paman Ardi.
“Jangan takut, Mel. Setelah ini, aku jamin kamu bisa hidup tenang bersama anakmu, kita hanya perlu menghukum laki-laki tidak tahu diri ini,” kata Rafael. Dia langsung paham saat Alisha berdiri tadi, itu artinya Alisha menangkap sinyal lemah dari Melinda.
Melinda mengangguk dan menghapus air matanya. Ucapan Rafael nyatanya memang berhasil membangkitkan keberanian Melinda. Dia semakin menyesalkan dirinya sendiri yang terlalu bodoh. Sudah memiliki tunangan sebaik Rafael, dia malah kabur di hari pernikahan. Balasan karma itu sangat nyata menimpanya.
“Apa lagi yang kalian rencanakan?” teriak Paman Ardi. Dia sangat ketakutan karena bisa saja lawan di hadapannya membuktikan semua keburukannya.
“Jangan banyak bicara dan lihat saja sendiri!” balas Rafael tak kalah arogan.
Layar di monitor menampilkan gambar demi gambar tentang hubungan Paman Ardi dengan Melinda. Bahkan ada video yang memperlihatkan Paman Ardi dan Melinda memasuki hotel, itu semua terekam di CCTV yang berhasil anak buah Rafael dapatkan. Terlihat sekali Paman Ardi merangkul Melinda yang terlihat sempoyongan.
Paman Ardi tidak bisa mengelak lagi, semua bukti sudah jelas di depan matanya. Apalagi para pemegang saham juga melihat dengan mata kepala mereka sendiri.
“Sekarang, bagaimana Anda mengelak? Bukankah itu benar-benar Anda?” tanya Rafael sambil bersedekap. Bibirnya tersungging menyeringai.
“Anda tidak bisa mengelak lagi Tuan Ardiansyah Barka yang terhormat,” sahut Melinda dengan air mata yang meleleh di pipinya.
Kehancuran Paman Ardi sudah jelas di depan mata, membuatnya diam membeku karena semua bukti itu sangay jelas. Bagaimana bisa Rafael mendapatkan rekaman CCTV dari dua tahun yang lalu?
“Papa benar-benar keterlaluan!”
__ADS_1
***
Kembang kopinya dulu dong 😍😍😍