
Rafael dan Alisha sangat panik saat melihat Shaka membuka mata. Debaran di dada keduanya semakin tidak karuan saat Shaka mulai menggerakkan bola matanya. Untuk sesaat Rafael sampai harus menahan napasnya, takut ketahuan Shaka jika dia sedang pura-pura tidur.
Mereka akhirnya bisa menghela napas lega saat Shaka kembali terpejam. Bocah itu ternyata tidak bangun, hanya saja matanya terbuka seolah dia sedang terbangun.
“Ya ampun, hampir aja sakit kepala, Al,” bisik Rafael. Tubuh mereka masih menyatu dan terpaksa Rafael harus melepaskannya.
Alisha menahan tawanya. Dia beruntung karena sudah mendapatkan kepuasan, kalau saja belum, tidak mungkin dia bisa tertawa sekarang. “Kamu sih, Mas,” balas Alisha yang malah menyalahkan Rafael.
“Kamu duluan, Al yang ngajakin main di sini,” balas Rafael.
Mereka baru saja selamat dari mara bahaya. Bukan masalah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin keluar dari bibir bocah itu. Akan tetapi, bisa saja Shaka merekam semua dalam ingatannya. Itu yang lebih berbahaya lagi nantinya.
Karena tidak mau menanggung risiko, Rafael akhirnya membawa Alisha untuk pindah. Dengan bertelanjang daada, Rafael menggendong Alisha ke kamar mereka yang bersebelahan dengan kamar Shaka.
“Kalau di sini pasti aman,” kata Rafael sambil merebahkan tubuh Alisha ke kasur. Dia kemudian melepaskan celananya dan memposisikan diri di atas Alisha.
“Aku ngantuk, Mas,” kata Alisha yang membuat Rafael menegang.
“Kok gitu sih, Al. Aku belum keluar loh,” protes Rafael.
__ADS_1
Alisha mulai tertawa lagi. Dia sengaja menggoda suaminya itu karena tahu pasti Rafael lagi tegang-tegangnya sekarang.
“Ya ampun, kamu mau ngerjain aku, Al. Oke sampai shubuh ya,” kata Rafael yang kemudian menyerang leher Alisha dengan ciumannya. Dia harus menuntaskan apa yang tertahan dalam naga saktinya karena gangguan kecil dari Shaka.
***
***
Anna sedang menyiapkan sarapan untuk Satria dan Alfaro. Dua lelaki itu paling tidak suka sarapan roti, jadi Anna sudah terbiasa bangun pagi untuk memasak. Mereka memang tidak memiliki asisten rumah tangga, karena Anna ingin mengurus sendiri apartemen yang ditinggalinya. Apalagi, Satria juga sudah tidak membutuhkan pengasuh, berbeda dengan Shaka.
Anna sudah selesai menyiapkan sarapan di meja makan. Dia menghampiri kamar putranya untuk membangunkan Satria dan mengajaknya sarapan.
Anna meresa tidak tega. Pasalnya, sejak Satria bertambah besar, dia sudah tidak pernah menggendongnya lagi karena keadaan kakinya yang tidak seperti dulu. Dokter sudah memperingatkannya untuk berhati-hati dan tidak menanggung beban yang terlalu berat. Namun, melihat putranya yang terlihat sangat sedih, hati ibu selalu kalah.
“Ya udah, tapi sekali ini aja ya, besok enggak boleh lagi,” balas Anna.
“Oke, Mom.”
Satria bersemangat, dia mengangguk cepat dan berdiri. Lalu, Anna meraih tubuh Satria dan menggendongnya di depan seperti kangguru. Anna membawa Satria ke kamar mandi, lalu kembali menggendongnya.
__ADS_1
Ibu dan anak itu keluar kamar sambil bernyanyi. Alfaro yang melihat istrinya menggendong Satria, langsung merebut bocah itu dan menggendongnya.
“Anna, kenapa kamu gendong Satria, sih?” tanya Alfaro yang sebenarnya khawatir dengan keadaan sang istri. “Kalau dia manja, panggil aku aja, Ann. Aku enggak mau kamu kenapa-napa.”
Anna terkekeh dan merasa bahagia dengan perhatian yang Alfaro tunjukkan.
“Kak Satria udah gede enggak boleh minta gendong lagi dong. Kaki mommy itu sakit, kalau nanti kakinya Mommy kambuh gimana? Mommy enggak bisa jalan lagi, pakai kursi roda. Emangnya Kak Satria enggak pengen punya adik kayak Shaka?” tanya Alfaro sambil berjalan membawa Satria menuju meja makan.
“Mau dong, Dad. Nanti adiknya Satlia cowok ya, Dad. Bial bisa main bola baleng,” jawab Satria antusias. “Satlia janji, enggak akan minta gendong Mommy lagi. Satlia mau digendong Daddy aja.” Satria tertawa bahagia dalam gendongan Alfaro.
“Oke, nanti adiknya cowok, habis itu cewek, biar ada yang nemenin Mommy masak,” balas Alfaro antusias.
Kak Al sama Satria sepertinya sangat ingin punya anggota keluarga baru. Tapi, aku bahkan belum sepenuhnya sembuh dari trauma itu.
merah : SHAKA
biru : SATRIA
__ADS_1