
"Aku tidak bisa, Mel. Kalau kamu mau bicara, maka Alisha juga harus mendengarnya." Rafael tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman lagi antara dia dan Alisha. Dia mau, Alisha berpikiran bahwa dia sudah melupakan Melinda.
"Mas, aku malu. Tolong sekali ini saja, Mas. Aku ingin bicara berdua, hanya bicara saja." Melinda mulai memaksa, dia tidak ingin apa yang akan dikatakan ini didengar oleh Alisha.
Kalau Mas Rafa menyuruhku keluar, itu artinya aku memang tidak berarti di hatinya.
Rafael menatap Alisha yang terlihat tenang. Lalu, dengan tegas dia tetap menolak Melinda.
"Aku mempunyai istri, Mel. Kalau suami kamu bisa salah paham tentang kita, bagaimana dengan istriku? Aku tidak mau merusak pernikahanku. Kalau pernikahanmu hancur, jangan kamu seret-seret aku," kata Rafael. "Percuma kalau kamu mengatakan itu anakku, karena sampai mati pun dia tidak akan pernah menjadi anakku."
Laki- laki itu berbalik badan dan meraih tangan Alisha. Percuma ada di sana karena Melinda hanya membuang-buang waktunya saja.
"Mas, ini bukan anakmu!" kata Melinda saat melihat Rafael yang menggenggam tangan Alisha itu berjalan keluar meninggalkannya.
__ADS_1
Alisha berbalik dan menatap Melinda. Tangannya yang digenggam Rafael sampai terlepas.
"Beraninya kamu mempermainkan kami," kata Alisha yang berjalan cepat menghampiri Melinda.
Rafael membiarkan istrinya itu, karena dia tahu Alisha wanita yang kuat dan cerdas.
"Aku sudah bilang 'kan Al, itu bukan anakku," sahut Rafael. Dia turut berdiri di belakang Alisha.
"Maaf, kalau aku sudah lancang. Aku hanya takut dengan suamiku. Sebenarnya, aku diperkosa oleh kenalanku dan aku hamil, tapi dia tidak mau bertanggung jawab. Bahkan, suamiku juga curiga karena aku hamil saat dia pergi untuk terapi kesuburan. Tolong aku, Mas. Aku bingung harus bagaimana." Melinda kembali menangis.
"Minta tolong untuk menikahimu? Jangan mimpi kamu, Mel," balas Rafael yang sama sekali tidak terpengaruh dengan tangisan Melinda.
"Aku tidak seberani itu sampai memintamu untuk menikahiku. Aku hanya ingin kamu menyelamatkanku dari suamiku, Mas. Aku mohon! Jadi pembantumu pun aku rela," pinta Melinda.
__ADS_1
"Enak saja. Kalau kamu tinggal bersama kami, kamu akan punya banyak kesempatan untuk menggoda suamiku," sahut Alisha.
Melinda tidak memiliki harapan lagi. Bahkan Rafael pun sama sekali tidak peduli padanya.
"Mas, tolong aku!" Melinda berusaha menarik tangan Rafael tapi laki-laki itu dengan tegas menepisnya.
"Aku tidak bisa, Mel. Kalau kamu memang butuh bantuan, bilang saja sama Alisha. Dia perempuan yang baik, pasti dia akan menolongmu." Rafael merangkul pinggang Alisha yang balas menatapnya.
"Itu urusan rumah tanggamu sendiri. Aku dan Mas Rafa tidak akan ikut campur. Kecuali, kamu sudah single mungkin aku bisa mengirimmu ke luar negeri tapi tidak akan bisa kembali lagi ke sini," putus Alisha.
Apa yang dikatakan Alisha membuat Rafael terperangah. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Istrinya memang cerdas dan kuat menghadapi wanita lain seperti Melinda.
Melinda menundukkan kepala. Dia tidak bisa mengharapkan bantuan dari Rafael, satu-satunya laki-laki yang mencintainya dengan tulus, tapi justru disia-siakan.
__ADS_1
"Asisten Felix, pastikan hasil tes itu tetap aman. Karena aku akan menjadi orang pertama yang membaca hasilnya. Aku akan menyimpannya sebagai bukti meskipun Melinda sudah mengakui kesalahannya yang fatal ini," kata Alisha pada Felix yang sedari tadi berjaga di pintu.
votenya sumbangin ke aku ya gaess 💋