
Alisha sangat sensitif dan emosional karena kedatangan tamu bulanannya. Apalagi, hari kedua ini yang keluar cukup banyak sehingga membuatnya ketar-ketir. Takut kalau terjadi kebocoran lagi seperti tadi pagi.
"Mas, aku mau sama Ria aja," bisik Alisha. Dia masih memiliki rasa malu dan tidak mau jika suaminya mengetahui apa yang terjadi padanya.
"Ria kamu keluar! Sekarang!" perintah Rafael dengan tegas.
"Baik, Pak." Wanita muda yang usianya tidak jauh berbeda dengan Alisha itu akhirnya keluar dari ruang rapat, meninggalkan pasangan suami istri yang menjadi atasannya itu.
Setelah kepergian Ria, Rafael kembali menatap istrinya yang masih saja jutek.
"Kamu salah beli pembalut atau gimana sih?" tanya Rafael yang cukup frontal, membuat Alisha semakin kesal mendengarnya.
Jelas saja, wanita itu merasa sangat malu meskipun yang mengatakan adalah suaminya sendiri. Bukankah Rafael itu tetap laki-laki?
"Apa sih, Mas? Kamu tuh tau apa? Pergi sana! Aku mau kerja!" Alisha berdiri dan sedikit mengintip rok belakangnya.
Tanpa Alisha duga, Rafael juga ikut mengintip dan memperhatikan dua bongkahan kenyal milik istrinya itu.
"Nggak ada apa-apa kok," kata Rafael dengan polosnya.
Alisha langsung menoleh pada suaminya yang ikut memperhatikan belakang tubuhnya. Memang tidak ada apa-apa karena itu hanya perasaan cemas Alisha saja.
"Mas ngapain sih? Ngintip ya?" tanya Alisha dengan emosi.
__ADS_1
"Nggak kok, lebih suka yang gak kebungkus rok. Kayak melon, seger banget bulet," goda Rafael sebelum akhirnya memilih keluar meninggalkan Alisha di ruang rapat.
"Mas, apanya yang kayak melon?" Alisha berusaha mengejar suaminya yang berjalan keluar dengan cepat. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat di luar mendapati suaminya yang tengah mengobrol dengan Felix.
"Al, aku ke kantor dulu, nanti siang makan bareng ya!" Rafael langsung pergi tanpa memberi salam perpisahan yang manis.
Tidak ada adegan cium pipi, cium kening, apalagi cium bibir. Akan tetapi, Alisha juga seolah tidak peduli dengan sikap Rafael itu. Dia menuju ruangan kerjanya bersama Ria.
***
***
Seminggu berlalu, Alisha sudah sangat luwes memimpin perusahaannya. Rafael sesekali datang untuk melihat dan memperhatikan kerja istrinya. Seperti halnya hari ini, dia tiba-tiba sudah datang di kantor Alisha.
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu." Rafael menarik kursi di depan istrinya dan menatapnya dengan serius.
"Kenapa?" tanya Alisha curiga.
"Sabtu ini temanku Bara mau ajak makan malam. Dia ajak istrinya Sheina juga, kamu bisa, 'kan?" tanya Rafael serius.
Dia sedikit merasa bersalah karena menyetujui janji sebelum mengatakan pada Alisha terlebih dulu.
"Aku nggak bisa, Mas. Aku udah janji sama temenku mau pergi bareng," jawab Alisha dengan tegas. Dia tetap sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Rafael harus menelan pil kekecewaan.
__ADS_1
Dia terus merayu, bahkan membantu Alisha untuk menyelesaikan pekerjaannya. Alisha yang melihat usaha keras suaminya untuk mengajak makan malam, akhirnya luluh juga.
"Udah selesai 'kan, Al? Kamu mau ya ketemu Bara sama Sheina. Aku sudah janji Al," pinta Rafael sambil memasang raut muka sedih.
Biasa melihat Rafael yang galak dan marah-marah, membuat Alisha aneh dengan ekspresi suaminya itu. "Ya udah. Iya, kita datang."
Rafael tiba-tiba mengecup kening Alisha. "Makasih, Al." Setelah mengatakan itu, Rafael menelepon Ria dan menyuruhnya pulang.
"Kenapa Mas suruh Ria pulang?" tanya Alisha.
"Karena pekerjaan dia sudah selesai," jawab laki-laki itu.
Alisha menghela napas lalu bersiap untuk pulang juga. "Padahal pulang bareng-bareng 'kan bisa."
"Kita nggak pulang Al, kita main di sini bentar. Aku kangen sama irisan kiwi," bisik Rafael yang tiba-tiba sudah memeluk Alisha.
......................
Apa jadinya ya kalau mereka ketemu Bara Sheina. Oh iya, Bara Sheina ada di novelku Terjerat Gairah Musuh.
Kembang kopinya banyakin, kan aku udah update 4 bab hari ini.
__ADS_1