Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Ceraikan Aku ~ Bab 97


__ADS_3

Alfaro sangat sedih saat mengetahui mamanya sedang menderita sakit yang cukup parah. Dia tidak menyangka mamanya bisa mengidap kanker itu. Padahal, mamanya selalu memeriksakan kesehatan diri secara rutin.


"Mama tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki selain Papa. Mama juga selalu jaga kebersihan kok, Al." Syana mengusap air matanya dengan tisu.


Alfaro melihat selembar kertas itu. Keterangan yang tertulis di sana bahwa Syana mengidap kanker serviks stadium 1A. Itu merupakan kanker yang masih berada di tahap awal.


"Ma, mungkin ini sebuah teguran. Apa yang Mama lakukan pada Alisha itu pasti mendapat balasan, Ma. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai," sahut Alfaro sambil menenangkan mamanya.


Arya terdiam. Sepertinya, dia tidak setuju dengan apa yang diucapkan putranya itu. Namun, Alfaro dengan cepat bisa membaca ekspresi papanya itu.


"Bukannya Al mau sok memberi nasehat, Ma. Tapi, Alisha itu istrinya Rafael. Apa Mama tidak merasa perubahan Rafael itu sangat baik setelah bertemu Alisha. Bertunangan dengan Anna tidak mengubah temperamentalnya, tapi Alisha yang entah datang dari mana. Dia bisa membuat Rafael mampu mengendalikan emosi. Dia yang dulu meledak-ledak, sekarang sangat berbeda jauh, Ma. Mama tau itu, 'kan?"


Syana diam merenungkan ucapan Alfaro, begitu juga dengan Arya Hartono yang kini menundukkan kepala.


"Apa Mama sama Papa tidak ingin menimang cucu yang lucu-lucu? Rafael tidak mungkin berpaling dari Alisha, walau sebagus apa pun pilihan kalian. Memangnya Mama sama Papa mau kalau Rafael kembali temperamental? Lihat sekarang, Ma. Rafael jauhin Mama. Lihat Pa, perusahaan kita gimana setelah ditinggal Rafael?"


"Kamu juga bisa mengatasi masalah seperti ini, Al. Kamu lebih berpengalaman daripada si El," sahut Arya. Sisi egois laki-laki itu tidak bisa menerima kenyataan. Dia tidak terima jika anak yang pengalamannya lebih sedikit darinya bisa mengalahkannya yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia bisnis.

__ADS_1


"Pa, aku mungkin bisa mengembalikan keadaan, tapi tidak akan secepat Rafael. Dia yang lebih paham situasi di sini, klien-klien kita di sini. Itu semua Rafael yang handle, aku tidak tahu banyak soal mereka, Pa. Beda kalau di kantor pusat, aku tau semuanya. Kan Papa sendiri yang atur kita sejak awal."


"Jadi, aku mohon sama Mama dan Papa. Turunkan ego kalian, demi kebaikan kita semua," mohon Alfaro dengan tulus.


Sebagai sosok yang berada di tengah-tengah antara Rafael dan kedua orang tua mereka, Alfaro memang berusah menjadi penengah yang baik untuk keutuhan keluarganya.


***


***


"Mas, sudah selesai. Aku tinggal ya," goda Alisha usai menyelesaikan misinya.


Dia tertawa dan berjalan meninggalkan suaminya.


Rafael yang ditinggalkan dalam keadaan terkubur pun hanya bisa bereriak.


"Al, jangan lari kamu. Katanya kamu mau cium aku kalau aku menurut?" teriak Rafael.

__ADS_1


Beberapa orang menoleh dan memeperhatikan Rafael dan Alisha. Sementara itu, Felix dan Ria memilih untuk mengabaikan bos mereka. Sibuk dengan kemesraan mereka sendiri, menikmati kelapa muda langsung dari sumbernya.


Alisha mendekat dan menutup mulut suaminya dengan tangan.


"Mas, kok kamu teriak-teriak sih. Malu dong, mana minta cium."


"Makanya jangan pergi. Kalau kamu pergi lagi, aku bisa lebih gila, aku telanjangi kamu di sini," ancam Rafael.


"Emang kamu rela kalau aku telaanjang di depan banyak orang?" Alisha balas menggoda Rafael.


Rafael langsung bangun dari pasir, membuat Alisha syok bukan main.


"Kok kamu bisa keluar, Mas?"


"Aku mau telaanjangi kamu di kamar. Aku tidak rela kalau di sini."


Kembang kopinya jangan lupa 💋

__ADS_1


__ADS_2