
Antara pekerjaan dan keluarga, dua-duanya adalah hal yang sama penting dalam kehidupan. Bekerja untuk menafkahi keluarga, dan keluargalah alasan Rafael terus bekerja keras.
Jika ditanya, mana yang lebih penting antara dua hal itu, maka Rafael tidak akan bisa menjawabnya.
“Sayang, aku punya tanggung jawab besar untuk perusahaan. Semua juga demi kamu dan Shaka, juga buat jutaan keluarga yang menggantungkan hidup di perusahaan kita,” kata Rafael mencoba menjelaskan.
“Jadi, kalau kamu libur dua tiga hari saja, perusahaan akan bangkrut?” Tatapan mata Alisha seolah tidak ingin dibantah.
Dalam urusan liburan, istri memang sangat membutuhkan suasana baru. Seharian mengurus anak di rumah, pasti ada titik jenuh juga yang dirasakan Alisha. Akan tetapi Rafael yang super sibuk dan tidak bisa memenuhi kebutuhan Alisha yang satu itu.
“Aku usahakan ya, Sayang. Jangan egois ya, Al. Ini demi Shaka juga. Biar nanti pas dia gede, perusahaan kita masih berjaya,” jawab Rafael sambil mencium kepala Shaka.
Alisha menghela napas berat. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya mengenai perusahaan. Saat ini, dia hanya bisa bersabar dan berharap ada keajaiban suaminya bisa pergi dengan bebas.
“Enggak apa-apa, kita tetep liburan aja, Al. Biar Rafael sama Kak Al nanti menyusul. Tapi, El. Pas hari ulang tahunnya Shaka Satria kamu harus bisa datang loh. berangkat sore besok subuhnya balik ‘kan bisa,” usul Anna.
“Ya, aku usahakan,” jawab Rafael. “Daddy ‘kan juga mau mamam kuenya Shaka.” Rafael mengangkat putranya itu hingga berdiri tepat menghadapnya.
“Mam mam mam.” Shaka menyuapkan potongan buah yang sudah masuk ke mulutnya itu ke mulut Rafael.
“No no. Itu kotor!”
“Ya udah. Tapi janji pas ulang tahunnya Shaka kamu harus datang, Mas.” Alisha sudah memasang mode galak dan tidak bisa dibantah. “Kalau sampai enggak datang, satu bulan puasa, Mas.”
Rafael langsung lemas dan pasrah seketika. Dia memang bisa menahan untuk tidak merasakan irisan kiwi selama dua bulan, tapi itu karna Alisha memang tidak bisa melayaninya. Jika dia harus berpuasa lagi, padahal istrinya bisa, pasti akan sangat menyiksa.
***
***
***
Saat ini, Rafael dan dan Alfaro sedang mengantar Alisha, Anna, Mama Syana , dan dua cucu Hartono yang juga ditemani pengasuhnya masing-masing. Dua laki-laki itu, hanya mengantar, karena rencananya mereka akan menyusul saat hari ulang tahun Shaka dan Satria.
“Jangan nakal di pesawatnya, anak daddy yang ganteng,” pesan Rafael pada putranya yang saat ini ada di gendongannya.
__ADS_1
“Camilannya udah dibawa kok, Dad.” Alisha yang menyahut.
Shaka memang tidak terlalu rewel, asal ada makanan semua pasti beres. Akan tetapi, ini adalah penerbangan pertama untuknya. Berbeda dengan Satria yang sudah pernah ke negara orang tua Anna tinggal. Karena itulah, Rafael tetap saja merasa khawatir.
“Pokoknya, kalau Shaka takut, langsung makan yang banyak aja ya,” kata Rafael lalu menurunkan Shaka dari gendongan. Dia tidak bisa berlama-lama diam digendongan saat sedang tidak makan seperti ini.
“Mam mam mam mam.”
Seolah sedang diingatkan untuk makan, Shaka meminta makanan pada pengasuhnya.
“No no, Shaka makannya nanti aja di pesawat.”
Shaka memasang wajah cemberut. Persis seperti Alisha jika seperti itu.
Mereka lalu berpisah karena rombongan Alisha harus segera ceck in.
****
****
“Cucu-cucu oma emang pada pinter-pinter. Ganteng-ganteng banget persis kayak Al sama El,” kata Mama Syana sambil memandangi kedua cucunya.
Mama Syana seolah kembali ke masa kecil Alfaro dan Rafael yang hanya selisih tiga tahun.
“Apa Mas Rafa dulu juga suka makan kayak Shaka, Ma?” tanya Alisha penasaran. Dia menatap wajah Shaka yang mulai mengantuk meski dia masih menikmati camilannya.
“Waktu kecil, El memang suka sekali makan. Ya, enggak heran sih kalau Shaka juga sekali makan,” jawab Mama Syana.
“Tapi Shaka pinter sih ya, Al. Dia sepuluh bulan udah bisa jalan. Satria udah setahun gini masih baru belajar berdiri,” sahut Anna. Dia mencoba membandingkan putranya dengan Shaka yang memang lahir di hari yang sama.
Anna sampai memeriksakan Satria ke dokter karena takut jika bayinya terlambat perkembangannya. Akan tetapi, setelah dokter spesialis anak di rumah sakit milik Hartono menjelaskan bahwa Satria masih terbilang wajar dan normal, Anna akhirnya bisa merasa lega.
“Nanti kita latih motoriknya, Kak. Sambil jalan-jalan di pantai ‘kan pasti seru.” Alisha tidak ingin Anna berkecil hati. Dia terus meyakinkan Anna bahwa mereka bisa melewati semuanya.
“Ya, nanti kita coba, Al.”
__ADS_1
***
Setelah sampai di Bali, mereka menginap di hotel yang menghadap langsung ke pantai. Melihat pemandangan pantai dari jendela kamar, membuat Shaka sampai terheran-heran. Bocah itu memukul-mukul kaca dan berceloteh sendiri.
Seolah paham dengan keinginan putranya, Alisha langsung membawa Shaka bermain ke pantai karena hari sudah sore dan tidak terlalu panas. Ternyata, Satria menyusul mereka dan akhirnya, Alisha membantu Satria untuk belajar berjalan.
“Ayo, Kakak Satria, kejar Adek Shaka. Kakak Satria pasti bisa,” kata Alisha memberi semangat. Dia memegangi tangan Satria dan membiarkan bocah itu berjalan dengan kakinya sendiri.
Sementara Anna menemani Shaka yang sibuk bermain air pantai dengan tangan kecilnya.
Setengah jam berlalu, Satria sudah bisa berjalan meski hanya dua tiga langkah.
“Kak Anna, lihat deh Satria udah bisa jalan!” teriak Alisha.
Anna melihat putranya yang benar-benar bisa berjalan. Dia langsung memeluk bocah itu dengan perasaan bahagia. “Satria, kamu udah bisa jalan, Sayang?”
Alisha menggendong Shaka supaya bisa mengawasinya dari dekat. “Iya, Kak. Tadinya dia takut-takut, mungkin karena lihat Shaka dia jadi berani,” kata Alisha.
“Ini karena kamu, Al. Dia mau jalannya sama kamu, karena dia tahu, kamu juga ibunya,” kata Anna sambil menitikan air mata bahagia.
Alisha turut bahagia karena Anna akhirnya mengakui bahwa dia juga ibu untuk Satria.
“Ini jadi hadiah terindah, Kak.”
***
***
Dua hari sudah mereka di Bali, dan besok adalah hari ulang tahun Shaka dan Satria. Akan tetapi, belum ada tanda-tanda bahwa Rafael dan Alfaro akan datang.
Saat malam datang, Alisha tidur bersama Shaka di kamar hotel yang gelap. Tiba-tiba, seseorang masuk ke kamarnya dan segera naik ke ranjang.
Laki-laki itu mengusap kulit halus Alisha hingga membuat wanita itu menjerit kaget.
Siapa yang berani masuk ke kamarnya malam-malam begini? Apakah suaminya? Atau orang lain?
__ADS_1
Siapa ya kira kira.. kembang kopinya jangan lupa 😚😚😚