
Anna sama sekali tidak peduli dengan nasib ayahnya yang kini menjadi miskin setelah keluar dari perusahaan. Apalagi Catherine juga sudah tidak peduli lagi dengan nasibnya yang telah bangkrut.
“Aku berencana untuk membalas Catherine lebih dulu,” kata Anna.
“Jangan pikirkan masalah ini lagi. Kamu sedang hamil Anna.” Alfaro mencoba menjelaskan.
Kesehatan Anna dan calon bayinya jauh lebih penting saat ini. Alfaro ingin Anna lebih fokus pada kehamilannya daripada sibuk mengurus sakit hati yang pasti tidak akan ada habisnya.
“Suami kamu benar, Sayang. Ini akan menjadi tugas mommy untuk membalas perbuatan wanita itu,” kata mommy Anna.
“Tapi, Mom.”
“Anna, percaya sama aku dan Mommy. Biar kita yang urus. Kamu fokus sama kehamilan kamu saja, oke.”
Anna mengangguk pasrah. Biar bagaimanapun, Catherine memang harus mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya itu. Saat ini, memang lebih baik mempercayakan semua pada suami dan juga ibunya.
***
__ADS_1
***
Tiga bulan berlalu, kini kandungan Anna dan Alisha sudah memasuki usia enam bulan. Meski sudah jarang mual, tapi Rafael sama sekali tidak bisa terlalu lama jauh dari Alisha. Bahkan, saat harus mengunjungi kantor cabang di luar kota pun, Alisha harus ikut.
“Mas, aku tidak mau ikut. Aku mau di rumah saja, kamu pergi sendiri saja ya,” kata Alisha yang menolak saat diajak pergi oleh Rafael. Sebenarnya dia hanya ingin menggoda suaminya. Tanpa diminta pun dia pasti akan ikut karena dia tahu bagaimana Rafael sangat kesusahan karena mualnya itu.
“Sebentar saja, Al. Cuma sehari kok. Besok siang sudah balik kok,” pinta Rafael yang tidak ingin pergi sendiri.
Alisha menghela napas. Seolah sedang memutuskan sesuatu yang sangat berat.
Mendengar hal itu, Rafael langsung memeluk Alisha dan mengusap perut Alisha degan kasih sayang penuh.
Sementara di tempat lain, Anna sudah kembali bekerja di perusahaannya. Kehamilannya sudah tidak terlalu menyusahkan. Mual dan muntahnya sudah mulai berkurang dan dia mulai banyak makan sekarang.
Mommy Anna dan Alfaro sudah berhasil membalas perbuatan Catherine dengan membuatnya kehilangan sebagian besar harta haramnya dengan menjebak Catherine dengan pria hidung belang.
Catherine sekarang sudah kembali ke asal. Menjadi wanita biasa dan hanya memiliki apartemen yang tersisa. Dia berencana membalas dendam pada Anna dan ibunya dengan menjual apartemen itu.
__ADS_1
Catherine terus mengawasi Anna dan mommynya dari jauh. “Awas saja, Anna. Aku akan membalasmu. Aku tidak rela melihat kebahagiaanmu, Anna.”
Saat ini, mommy Anna pergi ke toko bunga untuk ditanam di rumah karena wanita itu sangat menyukai bunga. Mobilnya diparkir di seberang jalan karena tidak mau repot memutar mobil yang dia kemudikan sendiri. Wanita itu memang lebih suka menyetir mobil sendiri tanpa sopir. Saat mommy Anna keluar dan berjalan menuju mobilnya, tiba-tiba dia tertabrak dan mobil yang menabraknya melarikan diri.
Mommy Anna dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Anna yang mendapat kabar bahwa ibunya tertabrak, akhirnya menyusul ke rumah sakit. Namun, ibunya mengalami koma dan Anna sendirian karena Alfaro sedang berada di Singapura.
Tiba-tiba, ada yang datang dan menepuk pundaknya. “Anna.”
Anna menoleh dan melihat sang ayah berdiri di hadapannya.
“Daddy.”
“Ya, ini daddy Anna. Maafkan daddy. Daddy sangat menyesal, Anna.”
Anna menangis dalam pelukan ayahnya. Entah dia bisa memaafkan atau tidak, tapi yang jelas dia membutuhkan daddynya saat ini.
__ADS_1