Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 45


__ADS_3

Makan malam bersama keluarga besar memang suatu hal yang sangat berharga. Apalagi jika semua anggota keluarga rukun dan saling menyayangi. Begitu pula yang dirasakan oleh keluarga besar Hartono yang saat ini sedang menikmati makan malam mereka.


Shaka dan Satria sudah aman bersama pengasuhnya. Karena itulah, Alisha dan Anna bisa makan dengan tenang. Kalau tidak, pasti Shaka akan merecoki karena dia suka sekali dengan makan.


Setelah makan bersama mereka bercengkerama di ruang keluarga. Shaka masih sibuk dengan buah-buahan kesukaannya, sedangkan Satria fokus dengan mainan barunya.


“Mam mam mam,” kata Shaka saat jeruk di tangannya sudah habis.


Dia hanya mau bersuara karena makanan. Tiba-tiba Rafael iseng mengambil alih kotak berisi buah itu dari tangan pengasuh Shaka. Dengan cepat Shaka menghampiri sang ayah dan meminta buah itu.


“Mam mam mam.” Tangan Shaka yang kecil menengadah dan memohon pada Rafael.


“No! Daddy juga mau. Shaka udah banyak makan,” kata Rafael. Dia memakan jeruk tepat di depan Shaka untuk menggoda pria kecil itu.


Wajah Shaka langsung berubah sedih, dan akhirnya menangis.


“Mas, kamu iseng banget deh.” Alisha meraih tubuh kecil Shaka dan membawanya ke pangkuan. “Shaka mau buah lagi?” tanya Alisha sambil menghapus air mata putra kesayangannya.


Shaka menggeleng dengan cepat dan memegang dada Alisha. Bibirnya manyun dan seolah memaksa Alisha membuka bajunya. “Mam mam mam mam.”


“Itu punya Daddy, kamu pinjem enggak selesai-selesai,” sahut Rafael semakin menggoda Shaka dengan menutupinya dengan tangan tangan.


Tangisan Shaka semakin kencang dan akhirnya Alisha mencubit pinggang Rafael, lalu membawa Shaka pergi.


“Kamu iseng banget sih, El.” Alfaro mengomentari tingkah adiknya.


“Punya anak itu kayak punya mainan, Kak. Jadi seru banget godain dia itu,” balas Rafael tidak mau kalah.


“Kalau gitu, bikin lagi El. Mumpung kamu sama Alisha masih muda,” sahut Papa Arya yang berpikiran memiliki anak banyak, tapi sayang istrinya menolak keinginannya itu.


“Nantilah, Pa. Tunggu Shaka agak gede dikit.”


“Kalau punya anak banyak, perusahaan bisa aman, El. Nanti Shaka di sini, Satria di Singapura. Anak kedua ketiga kamu bisa bantu di perusahaan Alisha, yang kelima sama keenam bantu di perusahaan kita yang lain. Adik-adiknya Satria nanti ngurus perusahaannya Anna.”


Mama Syana langsung menyahut, “Papa pikir anak-anak kita mesin pencetak. Ngaco aja kalau ngomong.”

__ADS_1


“Bener tuh, Ma. Marahin Papa, Ma.” Anna ikut mendukung Mama Syana.


Mama Syana dan Anna meninggalkan para lelaki itu dengan membawa serta Satria. Mereka lebih memilih untuk menyusul Alisha dan Shaka daripada mendengarkan obrolan para suami.


Sementara itu, Papa Arya terus memprovokasi anak-anaknya untuk mencetak generasi penerus lebih banyak lagi.


***


***


Alisha dan Anna sedang menemani anak-anak mereka bermain. Satria dan Shaka yang lahir di hari yang sama sebentar lagi akan merayakan ulang tahun pertama mereka, karena itulah, Anna dan Alisha ingin membahas perayaan ulang tahun mereka.


“Gimana kalau kita rayakan di Bali?” usul Alisha sambil menyuapkan makanan ke mulut Shaka.


“Bali? Sepertinya menarik, Al. Tapi, Satria belum bisa jalan, kurang seru ke pantai kalau dia belum bisa jalan sih,” balas Anna. Dia menatap Satria yang masih belum bisa jalan, sangat berbeda dengan Shaka yang sudah lincah berjalan.


“Ulang tahun mereka ‘kan masih bulan depan, Kak. Ya semoga aja Satria udah bisa jalan nanti. Mas Rafa tuh bilang penat banget sama urusan kantor. Aku pikir kenapa enggak sekalian aja liburan sama ngerayain ulang tahun Shaka Satria, ‘kan?”


Anna kembali menatap Satria dan akhirnya mengangguk. “Ya udah deh, mungkin aja dengan lihat Shaka jalan Satria jadi lebih semangat buat jalan juga.”


“Kakak Satria lihat deh adek Shaka udah bisa jalan. Mau mommy Al titah enggak?” Alisha mengajak Satria berbicara, dan bayi itu menanggapinya dengan tawa. “Gantengnya anak mommy. Kak, dia mirip kamu ya,” kata Alisha pada Anna.


“Iya, kata orang-orang sih gitu. Makin mirip sama aku pas udah gede gini,” balas Anna.


Sementara Shaka yang melihat mommynya diambil alih, jadi tidak terima dan menghampiri Alisha dengan langkahnya yang meski sudah lancar tapi masih belum tegap sempurna.


Shaka tidak manangis tapi langsung memeluk Alisha.


“Shaka sini sama mommy Ann yuk!” Anna menepuk tangannya lalu memajukan tangannya supaya Shaka mau menghampirinya.


Shaka malah geleng-geleng kepala dengan wajah lucunya. “Ih, enggak mau dia. Kalau Shaka mirip banget sama Rafael ya,” kata Anna.


“Iya, kalau dia emang mirip Mas Rafa, tapi lebih ganteng. Iya ‘kan Shaka?”


Seolah memahami pembicaraan Alisha, Shaka menanggapinya dengan tertawa.

__ADS_1


Ternyata, Rafael mendengar dan menghampiri mereka.


“Siapa yang lebih ganteng dari daddy?” tanya Rafael sambil mengangkat Shaka yang terus tertawa. “Daddy lebih ganteng dari Shaka. Buktinya Mommy lebih suka daddy.” Rafael mencium gemas Shaka yang kini mulai berhenti tertawa.


“Shaka lebih ganteng dong, ‘kan mommy cantik tambah daddy ganteng jadi Shaka, berarti Shaka lebih ganteng, Dad,” sahut Alisha.


“Mam mam mam mam.” Shaka mengabaikan ocehan Alisha dan Rafael yang tidak terlalu penting. Bagi Shaka, yang paling penting adalah makan.


“Kamu kok minta makan terus sih, Shaka.” Rafael akhirnya menurunkan Shaka dari gendongan.


“Ya biarin dong El, Shaka itu sehat banget ya, banyak makan tapi enggak gendut gitu.” Anna memberikan potongan buah pada Shaka yang langsung dinikmati dengan senang hati.


“Kata dokter sih enggak apa-apa selagi enggak muntah,” balas Alisha sambil mengawasi Shaka.


“Mam Mam Mam.” Satria ikut berbicara seolah dia sedang menyahut apa yang Alisha katakan.


“Shaka lihat! Mommy kamu diambil Kak Satria!” Rafael lagi-lagi menggoda Shaka.


Shaka menoleh sekilas, mengawasi ibunya dan kembali fokus pada makanan.


“Wah dia cuek banget ya.” Alfaro tiba-tiba muncul. Dia ikut duduk di samping Anna dan kini mengajak Satria bercanda.


Alisha menyerahkan Satria pada Alfaro karena Satria ingin bersama ayahnya, seperti Shaka.


“Pokoknya dia nangis kalau enggak dikasih makanan aja,” kata Rafael. Dia meraih Shaka dan memangkunya supaya makan dengan santai.


“Duh, Shaka si raja makan ini namanya.” Anna mengusap kepala Shaka, gemas.


“Ngomong-ngomong kalian tadi bahas apa sih?”


“Kita mau rayain ulang tahun Shaka sama Satria di Bali. Kalian setuju, ‘kan?”


Rafael langsung memasang wajah panik. “Aduh. Pekerjaan aku pas banyak banget gini. Ini aja bisa santai sehari udah untung-untungan,” jawab Rafael.


Alisha menatap suaminya dengan kesal. “Lebih penting mana? Keluarga apa kerjaan?”

__ADS_1


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋


__ADS_2