
Rafael benar-benar mengurung Melinda di apartemennya. Wanita itu dijaga ketat oleh pengawal, bahkan ponselnya pun disadap selama dikurung di apartemen mewah itu. Selama hasil tes itu belum keluar, Melinda akan merasakan penjara mewah karena ulahnya sendiri.
Sementara itu, Alisha yang kebetulan sedang datang bulan, akhirnya bisa terbebas dari jerat Naga Sakti. Dia sekarang sedang fokus mempelajari berkas-berkas perusahaannya supaya tidak kaget saat menjadi pemimpin.
"Kamu serius sekali, Al. Kenapa tidak dipelajari pas di kantor aja?" tanya Rafael yang sudah berganti dengan pakain tidur. Dia duduk di depan Alisha yang sibuk.
Alisha mengabaikan suaminya. Sebenarnya dia sangat malas harus tidur sekamar dengan Rafael meskipun laki-laki itu adalah suaminya.
Rafael yang merasa diabaikan, tiba-tiba mencondongkan kepala dan mencium bibir Alisha.
Alisha mendorong tubuh suaminya dan bangkit dari sofa. "Apa sih, Mas. Gangguin aja," omel wanita itu. Dia lalu membereskan seluruh berkas miliknya dengan wajah kesal.
"Sensi banget sih, mentang-mentang lagi dapet. Padahal cuma cium bibir." Rafael mendengus. Dia berjalan gontai menuju tempat tidurnya yang empuk.
Tidak lama, Alisha ikut menyusul suaminya tidur, meski wajahnya masih terlihat kesal.
***
***
__ADS_1
Tidur nyenyak Alisha harus terganggu dan membuatnya bangun dengan terpaksa. Bukan karena ingat akan bekerja, tetapi karena sesuatu yang tidak nyaman dalam dirinya.
"Oh my god. Bisa-bisanya sih," ucap wanita itu sambil bangun dengan cepat.
Gerakan Alisha membuat Rafael ikut terbangun dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Kamu kenapa sih?" tanya Rafael sambil berusaha menahan kantuk. Dia mengucek matanya agar bisa melihat dengan jelas. Lalu, menatap jam dinding yang baru menunjukkan pukul empat pagi. "Masih terlalu pagi, Ay. Tidur lagi, yuk!"
"Mas, kamu bisa keluar sebentar nggak?" Alisha berusaha mengusir sang suami karena dia sedang menyembunyikan sesuatu dan tidak ingin suaminya melihat.
"Kenapa emangnya?" tanya Rafael bingung. Dia ikut duduk sambil mengacak-acak rambutnya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku mau ganti spreinya, Mas keluar deh!" jawab Alisha sambil menggenggam erat selimutnya, tidak mau Rafael melihat rahasianya.
"Kenapa bisa bocor sih?" gumam Alisha dengan kesal. Dia tidak sadar bahwa suaminya sedang mengintip sambil tersenyum.
***
***
__ADS_1
Alisha dan Rafael telah tiba di kantor Alisha. Ini adalah hari pertama Alisha ke kantor untuk menjadi pemimpin setelah ayahnya meninggal.
Rafael terlihat menawan dengan setelan jasnya yang berwarna hitam. Wajahnya yang dingin dan jutek, sangat berbeda saat berduaan dengan Alisha di kamar.
Sementara itu, Alisha menghela napas berat berkali-kali. Dia sangat tegang sekarang karena ini adalah hari pertamanya menjadi Direktur Utama.
Mereka memasuki ruang rapat bersama dewan direksi untuk menyambut Alisha sebagai pemimpin perusahaan yang baru.
Mereka di ruang rapat itu cukup lama karena setelah rapat dengan dewan direksi, Rafael juga mengadakan rapat dengan bawahan Alisha.
Saat rapat sudah benar-benar selesai dan beberapa bawahan Alisha itu sudah meninggalkan ruang rapat, tiba-tiba Alisha kembali merasakan ketidaknyamanan.
Ya ampun, perasaan baru ganti deh. Masa iya bocor lagi. Mana ini di kantor, hari pertama pula. Gimana ini?
Rafael memperhatikan Alisha yang mulai keluar keringat dingin, padahal pendingin udara masih berfungsi normal. Apalagi dia terus mengintip ke belakang sambil sesekali membenarkan rok yang dipakainya.
"Kamu kenapa, Al? Gerah?"
Alisha menatap sinis pada suaminya. "Mas keluar aja deh, aku mau di sini dulu sama Ria."
__ADS_1
Rafael melirik Ria yang merupakan sekretaris Alisha. Lalu, dia berbisik di telinga Alisha. "Kalau yang melihat dia bukankah itu lebih memalukan? Aku ini suamimu, Al."
Please, kasih paswordnya kalau mau masuk grup chat. Kembang kopinya jangan lupa 💋