
Alisha memilih beberapa potong gaun tipis di hadapannya. Meski dalam hati sedikit malu, tapi Alisha melakukannya dengan cepat. Sepuluh potong baju sudah di tangan. Rafael dengan senyum lebarnya membayar belanjaan sang istri.
Selesai membayar, Alisha langsung melipir begitu saja, dan akhirnya Rafaellah yang harus membawa papper bag berisi baju seeksi itu.
Alisha berjalan terus hingga dia menemukan toko tas yang menjual tas-tas bermerek. Dia langsung menghambur masuk dan mulai memanjakan matanya.
Rafael yang mengikutinya di belakang malah kesal karena sebenarnya ia ingin langsung pulang dan mencoba apa yang Alisha beli. Namun, sayangnya wanita itu masih belum puas memanjakan dirinya sendiri. Terbukti, dia sudah menenteng tas di tangan dan masih mencari tas yang lain.
"Al, pulang yuk!" ajak Rafael yang mulai terlihat sebal.
"Bentar, Mas. Aku mau cari tas buat ganti-ganti," balas Alisha tanpa menoleh pada suaminya. Dia masih sibuk dengan dua tas berbeda model berwarna sama. "Bagus yang ini apa yang ini?" Alisha menenteng dua tas itu di tangan kanan dan kirinya.
Rafael menatapnya malas, lalu mengambil dua duanya dan menarik tangan Alisha. "Tinggal beli semua apa susahnya?"
Alisha ingin protes karena cengkeraman tangan Rafael itu, tetapi pasti memalukan jika dia berteriak pada suaminya.
__ADS_1
Dengan angkuhnya, Rafael berkata, "Saya beli semua yang istri saya sentuh. Kirim ke rumah."
Seorang pramuniaga yang sedari tadi melayani Alisha, dengan terburu-buru mengambil semua tas yang disentuh Alisha.
Setelah mengatakan itu, Rafael memberikan sebuah kartu berwarna hitam pada kasir yang tampak bengong.
"Mas, aku nggak butuh semua ini, kenapa harus dibeli semua?" tanya Alisha sambil merebut kartu itu sebelum diambil oleh kasir.
"Daripada kelamaan mikir. Lebih baik menyesal karena sudah membelinya, daripada kamu menyesal karena tidak bisa memilikinya," balas Rafael. Dia berusaha mengambil lagi kartu hitam yang hanya dimiliki beberapa orang itu.
Setelah perdebatan yang akhirnya dimenangkan oleh si istri itu, dua manusia itu akhirnya pulang ke rumah.
"Mas, kenapa nyebelin banget sih hari ini?" tanya Alisha kesal. Saat ini, mereka sedang berduaan di mobil Alisha, karena sopir yang membawa Rafael sudah pulang usai mengantar Rafael ke restoran.
"Kamu itu yang tidak pengertian. Suami baru pulang, capek-capek nyusulin ke restoran. Udah kangen berat, si Naga udah kelaparan, tapi kamu malah sibuk sama tas-tas itu," jawab Rafael sambil mencubit pipi Alisha.
__ADS_1
"Mas yang dipikir begituan terus." Alisha bersedekap dan memalingkan wajah di ke arah luar kaca mobil.
"Kita 'kan punya misi buat kamu hamil, Al. Lagian jangan pura-pura lupa sama hutang kamu ya," balas Rafael.
Tangan besar dan kokoh itu mengusap paha Alisha yang sedikit tersingkap. Dalam pikirannya, Alisha membayangkan malam ini yang pasti akan menjadi malam panjang mereka.
"Emang kamu nggak kangen sama Naga Sakti?" goda Rafael sambil menyibak kain yang menghalangi tangannya untuk menyentuh irisan kiwi kesukaannya.
Ya, kangenlah. Tiga hari nggak disentuh, masa' nggak kangen.
"Enggak kok, biasa aja, Mas," jawab Alisha.
Tangan Rafael semakin liar saat berhasil menyentuh kiwi yang dirindukannya. "Oke, setelah ini apa kamu akan tetap biasa aja," tantang Rafael. Jemarinya semakin lincah mengusap irisan itu hingga membuat jemari tangannya basah oleh getah kiwi yang memiliki aroma khas.
Kembang sama kopinya udah belum?
__ADS_1