Ceraikan Aku!

Ceraikan Aku!
Cintai Aku ~ Bab 35


__ADS_3

Alfaro sudah berhasil membuka mata, tapi ingatannya sama sekali belum kembali. Bahkan, siapa dirinya pun tidak tahu. Laki-laki itu masih harus menjalani pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit.


Mama Syana duduk dan mengajak bicara putranya. Meski Alfaro masih bingung, tapi pelan-pelan Mama Syana menjelaskan semua pada Alfaro.


“Ajak dia bicara, Al. Siapa tahu dengan sering mendengar suaramu, Anna bisa segera sadar,” kata Mama Syana.


Mama membantu Alfaro untuk duduk di kursi roda karena kakinya masih terasa lemaa.


Alfaro lalu menatap wajah cantik yang masih terpejam itu. Apa dia benar istrinya?


Meski terasa asing, Alfaro berusaha mempercayai cerita Mama Syana tentang kisahnya dan Anna dan juga anak mereka, Satria.


“Bisakah kamu dengar suaraku?” tanya Alfaro lalu menatap mamanya.


Mama Syana mengangguk, lalu keluar dari ruang perawatan untuk memberikan ruang bagi Alfaro dan Anna.


“Kalau kamu memang istriku, cepatlah bangun dan bantu aku mengingat semuanya,” kata Alfaro. Dia mulai bicara dan bertanya banyak hal pada wanita yang masih terbaring itu.


Tidak lama, mommy Anna datang sambil menggendong Satria yang tertidur lelap. Wanita itu mendekat lalu menidurkan Satria di sebelah Anna dan tepat di hadapan Alfaro.


Ini pertama kalinya Alfaro melihat wajah darah dagingnya sendiri.


“Ini Satria, Al. Anak kamu sama Anna. Karena kecelakaan itu, Satria harus dilahirkan lebih awal,” kata mommy Anna.


Mama Syana ikut masuk setelah tahu kedatangan Satria dan juga besannya.


“Satria? Nama yang bagus. Jadi, aku sama Anna punya anak setampan ini,” kata Alfaro sembari mengusap tangan bayi kecil itu dengan sayang.


“Iya, Al. Dia anakmu dan Anna. Cepatlah sehat demi anak kalian,” jawab mommy Anna yang kemudian menatap putrinya yang masih tertidur. “Kasihan Satria. Dia masih terlalu kecil. Untung saja Alisha mau memberikan ASI-nya untuk Satria.”


Mommy Anna tertunduk sedih. Ibu mana yang tidak sedih saat melihat keadaan putrinya yang seperti itu? Apalagi cucunya juga belum pernah digendong orang tuanya sejak bayi.


Satria bergerak pelan dan mulai menangis. Suara tangisnya yang pilu, membuat otak Anna mulai merespons. Dia tahu, itu suara bayinya yang menangis.


Mama Syana masih sibuk membuatkan susu, sedangkan Satria semakin tidak sabar. Dia menangis dengan kencang dan tangannya bergerak cepat, mungkin mencari keberadaan Shaka yang biasanya ada di samping Satria.


“Dia pasti lapar,” kata Alfaro khawatir. Ikatan di hatinya membuat Alfaro merasa kasihan dengan bayi kecil itu.


Sementara yang lain sibuk karena berusaha menenangkan Satria, mata Anna mulai terbuka perlahan.

__ADS_1


“Kak Al,” panggil Anna dengan suara lirihnya.


Mommy Anna sibuk menggendong Satria, sedangkan Mama Syana kini mengarahkan botol susu itu ke mulut Satrianyang sedang menangis kencang.


“Kak, Al.”


Alfaro menoleh dan melihat mata Anna yang sedang menatapnya.


“Kamu sudah bangun?” tanya Alfaro.


Sontak saja Mama Syana dan mommy Anna kompak menolah pada Anna.


“Anna,” teriak mommy Anna sembari berjalan mendekati putrinya.


“Bayiku,” kata Anna dengan mata yang berkaca-kaca.


“Anna, akhirnya kamu sadar, Sayang. Mama panggil dokter ya,” kata Mama Syana sebelum akhirnya keluar memanggil dokter.


Alfaro masih bingung harus berbuat apa, sedangkan Anna belum tahu suaminya amnesia.


“Anna, ini bayi kamu, namanya Satria,” kata mommy Anna sembari mendekatkan Satria yang sedang meminum susunya.


Anna menciumi wajah Satria yang membuat bayi itu berhenti minum, seolah tahu seseorang yang dia rindukan baru saja mencium pipinya.


“Aku juga, Mom. Saat kecelakaan itu, aku pikir aku akan mati dan tidak akan bertemu anakku,” kata Anna sembari berusaha menggerakkan tangannya yang terasa kaku.


“Kamu ingat kecelakaan itu?” tanya Alfaro dengan tatapan datar pada Anna.


“Iya, Kak. Aku ingat. Apa kamu tidak ingat?” Anna bertanya balik.


“Alfaro amnesia Anna. Dia tidak mengingat kami semua, bahkan kamu juga,” kata mommy Anna.


“Aku senang kamu bisa sadar. Sebagai istriku, aku harap kamu bisa membantu aku mengingat semuanya kembali.” Alfaro menatap wajah Anna penuh harap.


Melihat sikap suaminya yang seperti orang asing, Anna pun merasakan sakit di dadanya. Dia pun menangis karena Alfaro amnesia.


Kalau kamu benar-benar hilang ingatan, apakah cintaku cukup kuat untuk membantumu mendapatkan ingatan itu lagi, Kak?


***

__ADS_1


***


Alisha sedang menunggu dengan cemas di ruang tamu rumahnya. Shaka yang ada di pangkuannya sudah tertidur lelap, tetapi Satria yang masih dalam perjalanan pulang membuatnya tidak tenang.


Mama Syana mengabari bahwa Anna sudah sadar, tetapi Satria terus menangis dan seperti tidak nyaman berada di rumah sakit.


Rafael yang baru pulang kerja berpikir bahwa Alisha sengaja menunggunya pulang kerja. Dia pikir, romantis sekali istrinya hari ini.


“Hai Sayang, tumben kamu nungguin aku pulang? Enggak ada pesan apa-apa ‘kan ya.” Rafael mengecup istrinya lalu mengecek ponselnya. Tidak ada apa-apa.


“Bukan kamu, Mas. Tapi Satria, katanya dia rewel terus.”


“Oh, dia ke rumah sakit ‘kan, katanya Anna sudah sadar,” balas Rafael.


Dia ingin mencium putranya tapi Alisha langsung melarangnya. “Mandi dulu, Mas. Kamu dari luar rumah banyak kuman,” omel Alisha.


“Hem, iya deh daddy mandi dulu. Kamu tidur pules banget, Ka.” Rafael mencium Alisha lagi sebagai pelampiasan karena tidak diizinkan mencium Shaka.


Mobil yang Alisha tunggu tiba-tiba datang. Alisha memanggil pengasuh bayi dan menyuruh wanita itu memindahkan Shaka ke kamar bayi. Lalu, dia ganti menggendong Satria yang sudah terdengar tangisnya.


“Kenapa dia nangis terus, Ma?” tanya Alisha pada mertuanya.


“Mama juga enggak tahu, mungkin dia pengen digendong Anna, tapi tubuh Anna masih sulit digerakkan,” jawab Mama Syana.


“Ya udah nanti aja ceritanya, aku coba susuin dulu, Ma.” Alisha berusaha menenangkan Satria dan membawa bayi itu ke kamarnya.


“Ikut, Al.” Rafael mengikuti Alisha ke kamar mereka.


Alisha mulai menyu.sui Satria dan akhirnya Satria tenang. Mama Syana ikut menyusul ke kamar Alisha dan mulai bercerita bahwa sepanjang perjalanan pulang, Satria sering menangis meski tidak terus-terusan.


“Kenapa nangis terus? Mommy kamu belum sembuh, sama Mommy Al dulu ya Kakak Satria, enggak boleh nakal lagi,” kata Alisha sambil menggenggam tangan kecil Satria.


“Mama pusing banget pas dia sebentar-sebentar nangis. Anna juga kelihatan sedih banget karena enggak bisa bikin Satria berhenti nangis.” Mama Syana menatap cucunya yang kini mengisap ASI dengan tenang.


“Ya, untung aja sih Shaka pas udah tidur. Kalau nangis bareng terus sama-sama minta ASI, enggak kebayang deh,” komentar Rafael yang gemas ingin mencium Satria.


“Mas, mandi dulu!”


“Ya ampun, Al. Satria juga dari luar, suruh mandi juga dong!”

__ADS_1


mon maap ya, up belum bisa menentu, othornya masih sibuk sama jagung wkkk, yg punya ig ku pasti tau 😆😆 sebagai gantinya aku up panjang nih 😄😄


Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋


__ADS_2